BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Reaksi-reaksi kimia dapat
terjadi dalam keadaan gas, cair, larutan, dan padatan. Reaksi kimia dalam gas
memerlukan pengendalian suhu dan tekanan. Reaksi dalam padatan memerlukan suhu
sangat tinggi, sedangkan reaksi dalam larutan mudah dikendalikan. Reaksi dalam
larutan secara teknologi lebih sederhana dan umumnya dilakukan dalam larutan.
Untuk melakukan reaksi dalam larutan, Anda perlu memahami komposisi dan
sifat-sifat larutan. Salah satunya adalah sifat kelistrikan larutan.
Larutan
didefinisikan sebagai campuran dua atau lebih zat yang membentuk satu macam
fasa (homogen) dan sifat kimia setiap zat yang membentuk larutan tidak berubah.
Arti homogen menunjukkan tidak ada kecenderungan zat-zat dalam larutan
terkonsentrasi pada bagian-bagian tertentu, melainkan menyebar secara merata di
seluruh campuran. Sifatsifat fisika zat yang dicampurkan dapat berubah atau
tidak, tetapi sifat-sifat kimianya tidak berubah.
Ada dua komponen yang berhubungan dengan larutan, yaitu pelarut dan zat terlarut. Pelarut adalah zat yang digunakan sebagai media untuk melarutkan zat lain. Umumnya, pelarut merupakan jumlah terbesar dari sistem larutan. Zat terlarut adalah komponen dari larutan yang memiliki jumlah lebih sedikit dalam sistem larutan. Selain ditentukan oleh kuantitas zat, istilah pelarut dan terlarut juga ditentukan oleh sifat fisikanya (struktur). Pelarut memiliki struktur tidak berubah, sedangkan zat terlarut dapat berubah.
Ada dua komponen yang berhubungan dengan larutan, yaitu pelarut dan zat terlarut. Pelarut adalah zat yang digunakan sebagai media untuk melarutkan zat lain. Umumnya, pelarut merupakan jumlah terbesar dari sistem larutan. Zat terlarut adalah komponen dari larutan yang memiliki jumlah lebih sedikit dalam sistem larutan. Selain ditentukan oleh kuantitas zat, istilah pelarut dan terlarut juga ditentukan oleh sifat fisikanya (struktur). Pelarut memiliki struktur tidak berubah, sedangkan zat terlarut dapat berubah.
Bergantung pada sifat zat terlarut, ada larutan
yang dapat menghantarkan listrik ada juga yang tidak dapat menghantarkan
listrik. Larutan yang dapat menghantarkan arus listrik disebut larutan
elektrolit, sedangkan larutan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik
disebut larutan nonelektrolit.
B. Tujuan
1.
Mengkaji definisi zat terlarut
2.
Mengkaji zat padat terlarut (TDS) sebagai
Estetika karakteristik air minum
3.
Distribusi zat terlarut antara dua fasa
cairan
4.
Jenis pelarut dan terlarut
5.
Konsentrasi
C. Landasan Teori
Titik
beku adalah suhu pada P dimana terjadi perubahan wujud zat cair ke padat. Pada
tekanan 1 atm, air membeku pada suhu 0 C, karena pada suhu itu tekanan uap air
sama dengan tekanan uap es. Selisih antara titik beku pelarut dengan titik beku
pelarutan disebut penurunan titik beku.
D. Manfaat
Adapun
manfaat yang bisa di ambil dari penulisan makalah ini :
1.
Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami
pengertian atau definisi dari zat terlarut.
2.
Mahasiswa dapat mengetahui zat terlarut
pada titik beku.
3.
Dapat mengetahui jenis zat terlarut dan
pelarut
4.
Konsentrasi zat terlarut
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Zat Terlarut
Zat terlarut (soluot) adalah zat yang
jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan.sedangkan larutan adalah campuran
homogen yang terdiri atas dua zat atau lebih. Zat yang jumlahnya lebih banya
dari zat-zat lain dalam larutan disebut pelarut atau solven. Komposisi zat
terlarut dan pelarut dalam larutan dinyatakan dalam konsentrasi larutan,
sedangkan proses cencampuran zat terlarut dan pelarut disebut membentuk larutan
disebut pelarutan atau solvasi baik pada larutan atupun sistem disversi, zat terlarut
dapat berupa padatan,cairan atau gas. Bahkan bila zat terlarut adalah cairan,
tidak ada kesulitan dalammembedakan peran pelarut dan zat terlarut bila
kuantitas zat terlarut lebih kecul dari pelarut. Namun, bila kuantitas zat
terlarut dan pelarut, sukar untuk memutuskanmanakah pelarut mana zat terlarut.
Dalam kasus yang terakhir ini, Anda dapat sebutkomponen 1, komponen 2, dst.
ZAT TERLARUT PELARUT CONTOH
Gas gas udara, semua campuran gas
Gas cair karbon dioksida dalam air
Gas padat hidrogen dalam platina
Cair cair alkohol dalam air
Cair padat raksa dalam tembaga
Padat padat perak dalam platina
Padat cair garam dalam air
B.
Golongan Zat Terlarut
Campuran merupakan gabungan dua atau lebih zat, dimana
dalam penggabungan ini zat-zat tersebut mempertahankan identitasnya masing-masing (Chang 2004:7). Campuran
terdiri atas heterogen dan campuran heterogen. Campuran homogen susunan
campurannya di bagian adalah sama. Contoh campuran homogen adalah larutan..
Larutan adalah campuran dari homogen dari dua atau lebih zat. (Chang,2004:90).
Zat yang dicampurkan adalah zat terlarut dan zat pelarut.
Zat terlarut berjumlah
lebih sedikit daripada zat pelarut. Pada larutan, emua zat terlarut akan larut
dalam air.
C. Total Zat Padat
Terlarut (TDS) Sebagai Petunjuk Estetika Karakteristik Air Minum
Total zat padat terlarut (Total Dissolved Solids,
sering disingkat dengan TDS) adalah suatu ukuran kandungan kombinasi dari semua
zat-zat anorganik dan organik yang terdapat di dalam suatu cairan sebagai:
molekul, yang terionkan atau bentuk mikrogranula (sol koloida) yang
terperangkap. Secara umum definisi operasionalnya adalah bahwa zat padat harus
cukup kecil untuk lolos dari penyaringan melalui saringan berukuran 2 µm
(mikrometer). Total zat padat terlarut secara normal hanya dibahas untuk sistem
air tawar, karena salinitas meliputi sebagian dari ion-ion yang merupakan
definisi dari TDS. Aplikasi dasar dari TDS ialah studi mengenai mutu air untuk
aliran, sungai, dan danau, meskipun TDS secara umum tidak dianggap sebagai
suatu zat cemar yang utama (misalnya, TDS tidak dianggap terkait dengan efek
kesehatan) TDS digunakan sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air minum
dan sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia.
Sumber utama bagi TDS dalam penerimaan air adalah limpasan pertanian dan perumah-an, pencucian kontaminasi tanah dan titik sumber polusi debit air dari instalasi pengolahan industri atau limbah.
Konstituen-konstituen zat kimia yang paling umum adalah kalsium, fosfat, nitrat, nitrit, natrium, kalium dan klorida, yang ditemukan dalam limpasan zat hara, limpasan badai air umum air limpasan dari dari iklim bersalju di mana jalan diberi garam untuk menghilangkan es. Zat-zat kimia mungkin kation-kation, anion-anion, molekul-molekul atau aglomerasi di atas tingkat seribu molekul atau lebih kecil, asalkan mikro-granula terbentuk. Unsur-unsur TDS yang lebih eksis dan berbahaya adalah pestisida yang muncul dari limpasan air permukaan. Total zat padat terlarut tertentu yang terjadi secara alami muncul dari pelapukan dan pelarutan batuan dan tanah. Amerika Serikat telah menetapkan baku mutu air sekunder 500 mg/liter untuk menyediakan air minum palatabilitas.
Sumber utama bagi TDS dalam penerimaan air adalah limpasan pertanian dan perumah-an, pencucian kontaminasi tanah dan titik sumber polusi debit air dari instalasi pengolahan industri atau limbah.
Konstituen-konstituen zat kimia yang paling umum adalah kalsium, fosfat, nitrat, nitrit, natrium, kalium dan klorida, yang ditemukan dalam limpasan zat hara, limpasan badai air umum air limpasan dari dari iklim bersalju di mana jalan diberi garam untuk menghilangkan es. Zat-zat kimia mungkin kation-kation, anion-anion, molekul-molekul atau aglomerasi di atas tingkat seribu molekul atau lebih kecil, asalkan mikro-granula terbentuk. Unsur-unsur TDS yang lebih eksis dan berbahaya adalah pestisida yang muncul dari limpasan air permukaan. Total zat padat terlarut tertentu yang terjadi secara alami muncul dari pelapukan dan pelarutan batuan dan tanah. Amerika Serikat telah menetapkan baku mutu air sekunder 500 mg/liter untuk menyediakan air minum palatabilitas.
Total zat padat terlarut dibedakan dari total zat
padat yang melayang (total suspended solids, disingkat TSS), pada yang terakhir
ini tidak dapat melewati saringan 2 mikrometer dan masih tanpa batas
tersuspensi dalam larutan.
Istilah “zat padat yang dapat mengendap” atau
“settleable solids” mengacu pada benda dengan ukuran berapa pun itu tetap tidak
akan tersuspensi atau terlarut dalam sebuah tangki penampungan tidak
terpengaruh oleh gerak, dan tidak termasuk baik TDS maupun TSS. Zat padat yang
dapat mengendap mungkin termasuk partikel yang lebih besar atau molekul-molekul
tak larut.
1. Pengukuran TDS
Dua cara dasar pengukuran TDS ialah gravimetri dan
konduktivitas. Cara gravimetri adalah cara paling akurat dan meliputi penguapan
pelarut cairan dan pengukuran massa residu yang tertinggal. Cara ini adalah
yang terbaik, meskipun memakan waktu. Bila garam-garam anorganik yang meliputi
mayoritas besar TDS, cara gravimetri tetap sangat tepat.
Konduktivitas listrik dari air terkait secara langsung dengan konsentrasi zat-zat padat terionisasi terlarut dalam air. Ion-ion dari zat-zat padat terlarut dalam air memberikan kemampuan bagi air untuk menimbulkan arus listrik, yang dapat diukur menggunakan conductivity meter konvensional atau TDS meter. Bila dikorelasikan dengan pengukuran TDS laboratorium, konduktivitas memberikan nilai bagi konsentrasi TDS, biasanya tingkat akurasinya 10%.
Konduktivitas listrik dari air terkait secara langsung dengan konsentrasi zat-zat padat terionisasi terlarut dalam air. Ion-ion dari zat-zat padat terlarut dalam air memberikan kemampuan bagi air untuk menimbulkan arus listrik, yang dapat diukur menggunakan conductivity meter konvensional atau TDS meter. Bila dikorelasikan dengan pengukuran TDS laboratorium, konduktivitas memberikan nilai bagi konsentrasi TDS, biasanya tingkat akurasinya 10%.
2. Simulasi Hidrologis
Model pengangkutan hidrologis digunakan untuk
meng-analisa secara matematis pergerakan TDS di dalam sistem sungai. Model-model
yang paling umum dialamatkan pada limpasan air permukaan, yang memungkinkan
variasi dalam jenis penggunaan lahan, topografi, jenis tanah, tutupan vegetasi,
curah hujan, dan praktek pengelolaan lahan (misalnya, tingkat aplikasi pupuk.
Model limpasan air telah ditingkatkan ke tingkat akurasi yang baik dan
memungkinkan evaluasi praktek pengelolaan lahan alternatif pada dampak terhadap
kualitas air sungai.
Model bak digunakan untuk mengevaluasi lebih komprehensif total zat padat terlarut dalam bak tangkapan dan secara dinamis di sepanjang berbagai jangkauan aliran.
Model DSSAM dikembangkan oleh Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) Amerika Serikat. Model transpor hidrologi secara aktual berdasarkan pada metrik muatan-zat cemar yang disebut “Total Maximum Daily Load” (TMDL), yang tertuju pada TDS dan zat-cemar kimia khas. Suksesnya model ini berkontribusi terhadap komitmen Dewan yang diperluas hingga penggunaan protokol yang menggaris-bawahi TMDL dalam kebijakan nasional untuk pengelolaan banyak sistem sungai di Amerika Serikat.
Model bak digunakan untuk mengevaluasi lebih komprehensif total zat padat terlarut dalam bak tangkapan dan secara dinamis di sepanjang berbagai jangkauan aliran.
Model DSSAM dikembangkan oleh Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) Amerika Serikat. Model transpor hidrologi secara aktual berdasarkan pada metrik muatan-zat cemar yang disebut “Total Maximum Daily Load” (TMDL), yang tertuju pada TDS dan zat-cemar kimia khas. Suksesnya model ini berkontribusi terhadap komitmen Dewan yang diperluas hingga penggunaan protokol yang menggaris-bawahi TMDL dalam kebijakan nasional untuk pengelolaan banyak sistem sungai di Amerika Serikat.
3. Implikasi Praktis
Tingkat TDS tinggi umumnya menunjukkan air sadah, yang dapat menyebabkan
timbulnya kerak di dalam pipa, katup, dan saringan, mengurangi kinerja dan
menambah biaya perawatan sistem. Efek ini dapat terlihat dalam akuarium, spa,
kolam renang, dan sistem pengolahan air “reverse osmosis”. Secara khas, dalam
aplikasi tersebut, total zat padat terlarut seringkali diuji, dan membran
filtrasi harus diperiksa agar dapat mencegah efek-efek yang tidak
menguntungkan.
Dalam kasus hidroponik dan akuakultur, TDS sering dipantau untuk menciptakan lingkungan kualitas air yang menguntungkan bagi produktivitas organisme. Untuk tiram air tawar, trouts, dan seafood lainnya yang bernilai tinggi, produktivitas tertinggi dan keuntungan ekonomi dicapai dengan menirukan TDS dan tingkat pH dari setiap spesies dengan lingkungan aslinya. Untuk penggunaan hidroponik, total zat padat terlarut dianggap merupakan salah satu petunjuk terbaik dari ketersediaan zat hara bagi tanaman air yang di-kembangkan.
Karena ambang batas dari kriteria estetika yang dapat diterima untuk air minum manusia ialah 500 mg/L, tidak ada kekhawatiran umum atas bau, rasa, dan warna pada tingkat jauh lebih rendah daripada yang diperlukan untuk bahaya. Sejumlah penelitian telah dilakukan dan menunjukkan beragam reaksi spesies mulai dari tidak toleran sampai toksisitas langsung karena TDS tinggi. Sejumlah hasil harus terus-menerus diinterpretasikan, sebagai hasil toksisitas yang benar akan berhubungan dengan konstituen kimia yang spesifik. Namun demikian, beberapa informasi numerik adalah panduan yang berguna untuk risiko alami dalam mengungkap organisme air atau hewan darat ke tingkat TDS tinggi. Kebanyakan ekosistem perairan yang melibatkan fauna ikan campuran dapat mentolerir tingkat TDS 1000 mg/l.
Dalam kasus hidroponik dan akuakultur, TDS sering dipantau untuk menciptakan lingkungan kualitas air yang menguntungkan bagi produktivitas organisme. Untuk tiram air tawar, trouts, dan seafood lainnya yang bernilai tinggi, produktivitas tertinggi dan keuntungan ekonomi dicapai dengan menirukan TDS dan tingkat pH dari setiap spesies dengan lingkungan aslinya. Untuk penggunaan hidroponik, total zat padat terlarut dianggap merupakan salah satu petunjuk terbaik dari ketersediaan zat hara bagi tanaman air yang di-kembangkan.
Karena ambang batas dari kriteria estetika yang dapat diterima untuk air minum manusia ialah 500 mg/L, tidak ada kekhawatiran umum atas bau, rasa, dan warna pada tingkat jauh lebih rendah daripada yang diperlukan untuk bahaya. Sejumlah penelitian telah dilakukan dan menunjukkan beragam reaksi spesies mulai dari tidak toleran sampai toksisitas langsung karena TDS tinggi. Sejumlah hasil harus terus-menerus diinterpretasikan, sebagai hasil toksisitas yang benar akan berhubungan dengan konstituen kimia yang spesifik. Namun demikian, beberapa informasi numerik adalah panduan yang berguna untuk risiko alami dalam mengungkap organisme air atau hewan darat ke tingkat TDS tinggi. Kebanyakan ekosistem perairan yang melibatkan fauna ikan campuran dapat mentolerir tingkat TDS 1000 mg/l.
Fathead minnow (Pimephales promelas), misalnya,
melepaskan konsentrasi LD50 dengan 5600 ppm berdasarkan pada pajanan 96 jam.
LD50 adalah konsentrasi yang diperlukan untuk menyebabkan efek mematikan
terhadap 50% populasi yang terpajankan. Daphnia magna, satu contoh yang baik
dari satu anggota utama rantai makanan, ada-lah sejenis crustacea plankton,
kira – kira 0,5 mm panjangnya, memiliki LD50 sekitar 10.000 ppm TDS selama 96
jam pajanan.
Ikan-ikan yang baru memijah dan ikan belum dewasa
tampaknya lebih sensitif terhadap tingkat DTS tinggi. Sebagai contoh, ditemukan
bahwa konsentrasi 350 mg/L TDS mengurangi pemijahan Striped bass (Morone
saxatilis) di wilayah San Francisco Bay-Delta, dan bahwa konsentrasi di bawah
200 mg/L menunjukkan kondisi pemijahan lebih sehat. Di Sungai Truckee, EPA
menemukan bahwa ikan remaja Lahontan cuttrout tunduk pada kematian yang lebih
tinggi bila terkena stres polusi termal dikombinasikan dengan tinggi
konsentrasi total zat padat terlarut.
Untuk hewan-hewan terestrial, unggas biasanya memiliki batas atas yang aman dari paparan TDS sekitar 2.900 mg/L, sedangkan untuk sapi perah diukur memiliki batas atas yang aman dari sekitar 7.100 mg/l. Penelitian telah menunjukkan bahwa paparan TDS diperparah dengan toksisitas ketika penyebab stres lain ada, seperti pH abnormal, kekeruhan tinggi, atau oksigen terlarut berkurang dengan stressor yang terakhir hanya bertindak dalam kasus Animalia.
Untuk hewan-hewan terestrial, unggas biasanya memiliki batas atas yang aman dari paparan TDS sekitar 2.900 mg/L, sedangkan untuk sapi perah diukur memiliki batas atas yang aman dari sekitar 7.100 mg/l. Penelitian telah menunjukkan bahwa paparan TDS diperparah dengan toksisitas ketika penyebab stres lain ada, seperti pH abnormal, kekeruhan tinggi, atau oksigen terlarut berkurang dengan stressor yang terakhir hanya bertindak dalam kasus Animalia.
4. Klasifikasi Air
Air dapat diklasifikasi berdasarkan jumlah TDS pere
liter:
• Air tawar 5000 mg/L TDS
• Air tawar 5000 mg/L TDS
·
TDS meter
Sebuah TDS meter menunjukkan Total Dissolved Solids
(TDS) dari suatu larutan, yaitu konsentrasi zat padat terlarut di dalamnya.
Karena zat-zat padat terionisasi terlarut seperti garam-garam dan
meniral-mineral menaikkan konduktivitas suatu larutan, maka TDS meter mengukur
konduktivitas larutan tersebut dan menaksir TDS dari itu.
Zat-zat padat organik terlarut seperti gula dan partikel-partikel padat mikroskopis seperti koloid, tidak secara signifikan mempengaruhi konduktivitas suatu larutan sehingga TDS meter tidak melibatkan mereka dalam pembacaannya.
Zat-zat padat organik terlarut seperti gula dan partikel-partikel padat mikroskopis seperti koloid, tidak secara signifikan mempengaruhi konduktivitas suatu larutan sehingga TDS meter tidak melibatkan mereka dalam pembacaannya.
·
Satuan dari TDS
TDS meter suatu alat ukur yang menampilkan secara khas
Total Zat Padat Terlarut (TDS) dalam bagian per juta (ppm). Misalnya, satu
pembacaan TDS dengan 1 ppm akan menunjukkan terdapat 1 milligram zat padat
terlarut dalam setiap kilogram air.
D.
Distribusi Zat Terlarut Antara Dua Fasa Cairan
Hal-hal yang mempengaruhi kesetimbangan :
1.
Perubahan
Konsentrasi
Bila kedalam sistem ditambahkan gas
oksigen maka posisi kesetimbangan akan bergeser untuk menetralkan efek
penambahan oksigen.
2.
Tekanan
Bila tekanan dinaikkan keseimbangan akan bergeser ke
kiri. Yaitu mengarah pada pembentukan
NO2 dengan bergesernya kekiri maka volume akan berkurang sehimgga akan
mengurangi efek kenaikan tekanan.
3.
Pengaruh
Perubahan Suhu
Jika suhu dinaikkan maka keseimbangan
akan bergeser ke kanan. Ke arah reaksi yang endotermik, sehingga pengaruh
kenaikan suhu dikurangi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi koefisien distribusi
diantaranya :
1.
Temperatur
yang digunakan
Semakin tinggi suhu, maka reaksi
semakin cepat sehinggga volume titrasi menjadi kecil akibatnya berpengaruh
terhadap nilai K.
E. Jenis Pelarut dan Terlarut
Apabila pelarut yang digunakan adalah
zat yang mudah menguap maka akan sangat mempengaruhi volume titrasi. Akibatnya
berpengaruh pada perhitungan nilai k.
Apabila zat akan dilarutkan adalah
zat yang mudah menguap atau higroskopis maka akan dipengaruhi normalitas atau
konsentrasi zat tersebut. Akibatnya mempengaruhi nilai K.
Pelarut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Pelarut
aprotik
Pelarut ini tidak menerima maupun memberi proton dan
dalam keadaan ini bersifat netral, tidak bereaksi, tetapan dielektriknya
rendah, tidak terurai menjadi ion-ion dalam sistem pelarut, hingga ia tidak
bereaksi baik dengan asam maupun basa. Pelarut Contohnya, kloroform, toluen,
CCl4, hidrokarbon. Pelarut aprotik berguna unutuk mempelajari reaksi asam dan
basa yang bebas dari pengaruh pelarut.
2. Pelarut
protofilik
Pelarut yang bersifat dapat menerima proton dari zat
terlarut, disebut juga pelarut basa , dengan reaksi sebagai berikut:
HB + pelarut
↔ pelarut H+ + B–
Contohnya :
NH4OH, amine, ketone, aseton, dan eter.
Asam lemah
bila dilarutkan dalam pelarut protofilik maka keasamannya akan meningkat yang
disebut efek “levelling”
3. Pelarut
protogenik
Pelarut yang bersifat memberi proton (donor proton).
Jika basa lemah dilarutkan dalam pelarit protogenik maka kebasaannya akan
meningkat.
Contohnya :
HF, Asam Sulfat, asam acetat, asam format, dan HCl.
4. Pelarut
amfiprotik
Pelarut ini bekerja sebagai penerima proton, dan
pemberi proton. Contoh untuk pelarut ini adalah golongan alkohol, air, asam
acetat glasial.
Asam acetat
bisa bersifat asam dengan reaksi :
CH3COOH
↔ CH3COO– + H+
Tetapi bila
asam asetat dilarutkan dalam asam yang lebih kuat misalnya HClO4, asam asetat
bersifat basa dengan reaksi :
CH3COOH +
HClO4 ↔ CH3COOH2+ + ClO4–
Ion CH3COOH2+
dapat bereaksi dengan basa dengan cara memberikan proton. Maka zat yang
bersifat basa lemah akan berubah sifatnya menjadi basa yang lebih kuat,
sehingga titrasi antara basa lemah oleh HClO4 dapat dilangsungkan
bila zat tersebut dilarutkan dalam asam asetat glasial.
F. Konsentrasi
Konsentrasi
merupakan jumlah zat terlarut dalam sejumlah larutan tertentu. Berbagai macam satuan konsentrasi larutan dapat
digunakan untuk menjelaskan secara kuantitatif jumlah relatif dari zat terlarut
dan pelarut. Para ahli kimia menggunakan empat macam satuan konsentrasi, antara
lain
1) Persen
massa ( W/W%)
Persen massa adalah perbandingan antara
massa zat terlarut terhadap
masa
larutan yang kemudian dikalikan dengan 100%.
Persen
massa = [massa zat terlarut / (massa zat terlarut + massa pelarut)] x 100%
Persen
massa = [massa zat terlarut massa larutan] x 100%
2) Faksi
Mol (x)
Fraksi
mol merupakan perbandingan antara jumlah mol suatu komponen terhadap jumlah mol
total semua komponen. Fraksi mol zat terlarut (xt) adalah perbandingan antara
jumlah mol zat terlarut terhadap jumlah mol total dalam larutan. Sedangkan
fraksi mol pelarut (xp) adalah perbandingan antara jumlah mol pelarut terhadap
jumlah mol total larutan.
Xt = mol zat terlarut /
( mol zat terlarut + mol perlarut )
Xp = mol pelarut/ ( mol
pelarut + mol pelarut )
Xp + xt = 1
3) Molaritas
(M)
Molaritas
adalah jumlah mol zat terlarut per liter larutan.
M
= mol zat terlarut / liter larutan
M = ( gram zat terlarut
/ Mr zat terlarut) x
( 1l000 / mL larutan )
4) Molalitas
Molalitas
didefenisikan sebagai jumlah mol zat terlarut per kilogram pelarut
m
= mol zat terlarut / kg pelarut
m
=(gram zat terlarut / Mr zat terlarut0 x
(1000
/g pelarut)
Beberapa
sifat larutan bergantung pada sifat khusus dari zat terlarutnya. Dengan kata
lain, pengaruh yang dapat diamati tentang larutan tersebut bergantung pada
sifat alamiah zat terlarutnya. Sebagai contoh, larutan garam menghantarkan
listrik. Larutan yang mengantar kation nikel berwarna hijau, sedangkan ,
sedangkan larutan yang mengandung kation tembaga berwarna biru.
Ada
juga penggolongan larutan yang tidak bergantung pada jenis zat terlarut,
khususnya hannya bergantung pada jumlah partikel zat terlarut. Sifat ini
disebabkan koligatif larutan yaitu
sifat yang bergantung pada jumlah zat
terlarut yang ada. Yang termasuk termasuk sifat koligatif larutan antara lain:
a) Penurunan
tekanan
b) Penurunan
titik beku
c) Tekana
osmosis
a. Penurunan
Tekanan Uap
Jika
suatu cairan dimasukkan dalam wadah tertutup, cairan tersebut akhirnya akan
menguap, dan melekul – molekul gas tersebut menyebabkan adanya tekanan diatas
cairan. Tekanan yang disebabkan karena adanya melekul – melekul dari cairan
yang menguap disebut Tekanan Uap cairan.
Jika
cairan yang sama digunakan sebagai pelarut dalam suatu larutan, maka tekanan
uap cairan akan menurun. Hal ini disebabkan karna partikel- partikel zat
terlarut didalam cairan akan menempati ruangan permukaan, sehingga pelarut
tidak dapat menguap dengan mudah. Sering kali, terdapat gaya tarik- menarik antara zat terlarut dengan zat
pelarut, yang menyebabkan pelarut lebih sukar menguap. Dengan kata lain, adanya
zat terlarut menyebabkan penurunan
tekanan uap cairan.
Jika
zat pelarut bersivat nonvolatil ( sukar menguap ), maka tekanan uap larutan
selalu lebih rendah dibandingkan tekanan uap pelarut murni. Hubungan antara
tekanan uap larutan dengan tekanan uap pelarut murni bergantung pada
konsentrasi zat terlarut didalam larutan.
b. Kenaikan
Titik Didih
Setiap
cairan mempunyai suhu didih tertentu(pada tekanan atmosfer tertentu). Suhu ini
disebut titik didih cairan. Jika cairan tersebut digunakan sebagai pelarut
dalam suatu larutan, maka akan diamati bahwa titik didih larutannya akan selalu
lebih tinggi dibandingkan cairan murninya
(pelaru). Hal ini di kenal dengan istilah kenaikan titik didih.
Adanya
zat terlarut yang sukar menguap menyebabkan pelarut takkan mudah menguap dengan
mudah. Oleh karena itu, diperlukan energi yang lebih besar( konsekuensinya suhu
semakin tinggi) untuk menguapkan pelarut.
c. Penurunan
Titik Beku
Setiap
cairan mempunyai suhu beku tertentu. Jika suatu cairan digunakan sebagai
pelarut, dapat diamati bahwa titik beku larutan tersebut ternyata selalu lebih
rendah dibandingkan titik beku cairan murninya ( pelarut ) hal ini disebabkan penurunan titik beku
Adanya
zat terlarut menyebabkan entropi (ketidak teraturan) pelarut semakin tinggi.
Dengan demikian, untuk mengubah pelarut dari fasa cair menjadi fasa padat
diperlukan usaha ekstra. Hal ini mengakhibatkan titik beku larutan lebih rendah
dibandingkan pelarutnya.
d. Tekanan
Osmosis
Osmosis
merupakan peristiwa perpindahan pelarut melalui membran semi permiable kedalam
larutan dengan konsentrasi zat terlarut yang lebih tinggi. Tekanan yang
diberikan pada sisi yang lebih pekat untuk menghentikan proses ini disebut tekanan osmosis
Pelarut
selalu mengalir melalui membran semipermiable dari sisi yang lebih encer kesisi
yang lebih pekat. Semakin pekat larutan, semakin tinggi tekana yang diberikan
untuk menghentikan osmosis (semakin besar tekanan osmosisnya)
Sama
dengan sifat koligatif lainnya, besarnya tekanan osmosis berbanding lurus
dengankosentrasi larutan. Dua larutan yang memiliki konsentrasi yang sama, akan
memiliki tekanan osmosis yang sama, maka lar4utan yang lebih pekat dikatakan hipertonis sementara larutan yang lebih
encer dikatakan hipotonis.
Sifat
koligatif larutan elektrolit berbeda dibandingkan sifat koligatif larutan
nonelektrolit. Hal ini terjadi karna sifat zat elektrolit akan terionisasin
meng hasilkan ion-ion yang bebas dalam larutan, sehingga satu u akan menjadi
dua atau lebih partikel ketika dilarutkan,sebagai contoh, setiap partikel NaCl
akan terurai menjadi dua ion, Cl – Dengan demikian, sifat sifat koligatif CaCl2
0,1 m adalah tiga x sifat koligatif larutan – larutan glukosa 0,1 m (
nonelektrolit)
e. Larutan elektrolit dan larutan nonelektrolit
Larutan elektrolit merupakan larutan yang dapat
menghantar listrik dengan baik.Larutan elektrolit memiliki daya hantar listrik
yang berfariasi. Larutan kuat memiliki daya hantar listrik yang jauh lebih baik
daripada larutan elektrolit lemah.
Zat terlarut dalam elektrolit kuat akan terionisasi
sempurna, sehingga menghasilkan ion-ion bebas dalam jumlah besar. Derajat
ionisasi zat terlarut (a) sebesar 1 . Yang termasuk kategori larutan elektrolit
kuat adalah asam kuat (HCl), basa kuat ( NaOH ) dan garam yang mudah larut (
NaCl ).
Larutan nonelektrolit merupakan larutan yang tidak
menghantarkan listrik,sebab zat terlarut tidak terionisasi menghasilkan ion-ion
bebas. Derajat ionisasi zat terlarut (a) sebesar 0. Yang termasuk kategori
larutan non elektrolit adalah senyawa
berbasis karbon (hidro karbon dan senyawa organik)
Interaksi Pelarut – Zat Terlarut
Berhubungan
dengan kelarutan suatu zat dalam pelarut, maka akan terjadi interaksi antara
pelarut- pelarut, pelarut zat pelarut terlarut dan zat-zat terlarut. Nilai atau
diskripsi kualitatif beberapa parameter fisika kimia dan zat terlarut dan
pelarut dapat membantu mendapatkan gambaran mengenai keterlarutan suatu obat,
beberapa faktor dan konsep yang penting untuk meramal suatu obat adalah:
1)
Polaritas
2)
Co Solvency
3)
Parameter
Kelarutan
4)
Suhu
5)
Salting out
6)
Salting in
7)
Hidrotopi
8)
Pembentukan
Kompleks
9)
Efek bersama ion
10) Ukuran partikel
11) Ukuran dan bentuk melekul
12) Stuktur air
a.
Polaritas
Aturan
yang terkenal yaitu like dissolves bahwa melekul- melekul dengan distribusi
muatan yang sama dapat larut timbal balik’ yaitu polar, sedangkan melekul non
polar akan larut dalam media non polar. Konsep polaritas kurang jelas apabila
diterapkan dalam kelarutan yang rendah, terbentuk miseldan berbentuk hidrak
padat.
b.
Konsolven
Campuran
pelarut untuk melarutkan zat tertentu untuk digunakan untuk membuat larutan obat. Konsolven dapat
dipandang sebagai modifikasi polaritas dari sistem pelarut terhadap zat
terlarut atau terbentuknya pelarut baru yang terjadi interaksi tidak mudah
diduga oleh individu pelarutn masing- masing dalam sistem campuran. Konsolven
supaya dibedakan dari fenomena yang sangat erat hubungannya seperti pelarut (
solubilisasi ) dan didrotopi.
c.
Parameter
Kelarutan
Dikembangkan
oleh hildbrand untuk sebagai alat peramal kelarutan cairan dan substansi amorf
dalam banyak macam pelarut dari industri.
d.
Suhu
Kebanyakan
senyawa farmasetis pada kenaikan suhu akan naik kelarutannya, kecuali senyawa
metilselulosa dan kalsium hidroksida. Proses eksoterm dapat digambarkan:
Zat terlarut + pelarut <> larutan.
Jika
pada peristiwa eksoterm, bila suhu dinaikan maka kelarutan zatnya karena reaksi
bergeser kekiri. Sedangkan pada peristiwa endoterm, bila suhu dinaikan maka
kelarutan zatnya akan bertambah, karena reaksi bergeser kekanan.
e.
Salting out
Peristiwa
pengendapan zat terlarut ( biasanya zat organik ) disebabkan oleh penambahan
jumlah besar garam yang sangat mudah larut pada larutan air dari senyawa
organik. Peristiwa ini merupakan kompetisi antara garam dan senyawa organik
terhadap melekul pelarut yaitu air. Contoh peristiwa ini adalah: camphora dan
elium manthae pepiritae dalam air aromatik. Larutan metilselulosa dalam air
oleh penambahan Nacl.
Mekanisme
peristiwa ini adalah bahwa peristiwa metilselulosa dan air merupakan
inkompetible dengan interaksi NaCl dengan air sebagai hasil terjadi dehidrasi
dari metilselulosa dan mengakhibatkan peristiwa
salting out
f.
Salting in
Merupakan
peristiwa bertambahnya kelarutan dari suatu senyawa organik dengan penambahan
suatu garam dalam larutannya. Sebagai contoh adalah globulin tidak larut dalam
air tetapi dapat larut dalam larutan garam encer didalam air.
g.
Hidrotopi
Merupakan peristiwa bertambahnya larutan dengan senyawa yang tidak larut
atau sukar larut dengan penambahan suatu senyawa lainyang bukan zat surfaktan (S.a.a. ). Mekanismenya mungkin salting in,
kompleksasi atau kombinasi beberapa faktor.
h.
Pembentukan
Kompleks
Ialah
peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tak larut dengan zat yang larut
dengan membentuk senyawa kompleks yang larut. Sebagai contoh larutan iodium
dalam larutan KI atau Nal dalam air. Disini terjadi senyawa kompleks triodida.
Juga
larutan coffein didalam larutan natrii salisilat atau natri benzoat dalam air.
Senyawa kompleks ini bersifat reversible, mudah terjadi diosiasi dan melepas
zat aktifnya dan memberi zat terapi.
i.
Common ion
effect
Obat
yang tak larut sering dibuat sebagai suspensi, disini ada keseimbangan antara
partikel padat dengan larutan jenuhnya. Sebagai contoh adalah suspensi procain
penicilin. Dengan penambahan procain Hcl yang mudah larut dalam air akan
mengurangi penicilin ion dalam larutan, karena produk kelarutan suatu senyawa
pada suhu konstan adalah tetap.
j.
Ukuran partikel
Efek
ukuran partikel dari zat terlarut dalam sifat keterlarutan terjadi bila hanya
partikel mempunyai ukuran dalam sub mikro dan akan terlihat kenaikan kira- kira
10% dalam kelarutannya. Kenaikan ini disebabkan adanya energi bebas permukaan
yang besar dihubungkan dengan partikel yang kecil.
k.
Ukuran dan
bentuk melekul
Sifat-sifat
dapat melarutkan dari air sebagian besar disebabkan oleh ukuran yang kecil dari
melekulnya. Zat cair dapat mempunyai polaritas, konstante dielektrik dan ikatan
hidrogen dapat menjadi pelarut yang kurang bagi senyawa ionik, disebabkan
ukuran partikelnya lebih besar dan akan sukar bagi zat cair untuk menembus dan
melarutkan kristal. Bentuk dari melekul zat terlarut juga merupakan faktor
didalam stuktur dari air. Efek bentuk dari melekul zat terlarut terhadap
kelarutannya didalam suatu pelarut lebih banyak merupakan efek entropi.
l.
Stuktur dari air
Stuktur
air merupakan anyaman molekul 3 dimensi dan stuktur ikatan hidrogen menentukan
sifat – sifat air dan interaksinya dengan zat terlarut. Stuktur dapat
dimodifikasi secara kualitatif dan kuantitatif oleh banyak faktor seperti suhu,
permukaan dan zat terlarut.
Stuktur air adalah peka terhadap banyak faktor yang
dapat memperkuat, melemahkan, mengubah atau memecah seluruhnya. Faktor faktor
ini termasuk suhu, zat terlarut non polar, ion monovolen dan polivalen, S.a.a.,
makromolekul dan permukan.
G. Ekstraksi
Pelarut
Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan suatu zat
berdasarkan perbedaan kelarutannya terhadap dua cairan tidak saling larut yang
berbeda, biasanya air dan yang lalinnya pelarut organik.
Pelarut adalah benda cair atau gas yang melarutkan benda padat, cair atau
gas, yang menghasilkan sebuah larutan.
Dari kesimpulan diatas Ekstraksi pelarut adalah benda cair atau gas yang
melarutkan benda cair, padat, atau gas yang menghasilkan sebuah larutan melalui
suatu proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan kelarutannya.
Hukum Distribusi atau Partisi
dapat diketahui bahwa zat-zat tertentu lebih mudah larut dalam
pelarut-pelarut tertentu. contohnya bila banyaknya iod diubah-ubah , angka
banding konsentrasi-konsentrasi itu selalu kontsan dengan syarat temperaturnya
konstan.
Konsentrasi Iod dalam Karbon disulfida= C2
= Kd
Konsentrasi Iod dalam air C1
Kd = dikenal dengan koefisien distribusi atau partisi
Hukum distribusi atau partisi dapat dirumuskan: bila
suatu zat terlarut terdistribusi antara dua pelarut yang tidak dapat campur,
maka suatu temperatur yang konstan untuk tiap spesi molekul terdapat angka
banding berubah dengan sifat dasar kedua pelarut itu, dan angka banding
distribusi ini tidak tergantung pada spesi molekul lain apapun yang mungkin
ada. harga angka banding berubah dengan sifat dasar kedua pelarut, sifat dasar
zat terlarut, dan temperatur.
Penerapan Ekstraksi Pelarut Dalam Analisis Kualitatif.
- mengeluarkan bbrom dan iod dari dalam larutan air, bila larutan iod dalam air dikocok dengan karbon disulfida, konsentrasi iod dalam lapisan karbon disulfida yang terjadi kira-kira 400 kali konsentrasi dalam air. lapisan karbon disulfida dapat dipisahkan dengan bantuan corong pisah dan proses itu diulang. dengan cara ini konsentrasi iod dalam larutan air dapat dikurangi menjadi begitu kecil, meskipun secara teoritis tidak dapat menjadi nol.
- Berbagai Uji Dalam Analisis Kualitatif, (i) Kromium pentoksida lebih dapat larut dalam amil alkohol (eter) dari pada dalam air, dengan mengocok larutan encer dalam air dengan amil alkohol (eter). diperoleh suatu larutan pekat dalam amil alkolhol, dan adanya krmoat atau hidrogen peroksida yang dinyatakan oleh warna biru.
- Studi Hidrolisis, terdapat kesetimbangan antara garam, hidrolisis dapat ditulis sebagai Garam + Air ←→ Asam + Basa. konsentrasi dapat ditentukan dengan cara distribusi antara air dan pelarut lain, seperti benzena atau klorofrom.
- Penentuan Susunan Ion Halida yang Kompleks, Iod jauh lebih dapat larut dalam Kalium iodida dalam air dibandingkan dalam air. hal ini disebabkan oleh terbentuknya ion tri iodida. kesetimbangan berikut berlangsung seperti I2 + I- ←→ I3-.dengan menentukan konsentrasi iod dalam larutan karbon tetra klorida, konsentrasi iod bebas dalam larutan air dapat dihitung menggunakan koefisien distribusi yang diketahui, dan dapat diketahui konsentrasi ios total, diperolah konsentrasi ion tidak bebas sebagai I3- dengan memperkurangkan harga ini dari konsentrasi awal kalium iodida, dapatlah disimpulkan konsentrasi KI bebas. tetapan kesetimbangan K = [I-] x [I2] / [I3-], kemudian dapat dihitung metode yang sama telah digunaknan untuk mempelajari kesetimbangan antara brom dan bromida: Br2 =Br- ←→ Br3-.
Pengukuran distribusui juga telah dilakukan untuk
membuktikan adanya ion tetraaminokuprat (II), dalam suatu larutan air ber
amoniak dari tembaga sulfida, dengan diperiksanya perisi amonia bebas antara
klorofrom dan air.
H. Teori Asal
Usul Garam di Laut
Mula-mula diperkirakan bahwa zat-zat
kimia yang menyebabkan air laut asin berasal dari darat yang dibawa oleh
sungai-sungai yang mengalir ke laut, entah itu dari pengikisan batu-batuan
darat, dari tanah longsor, dari air hujan atau dari gejala alam lainnya, yang
terbawa oleh air sungai ke laut. Jika hal ini benar tentunya susunan kimiawi
air sungai tidak akan berbeda dengan susunan kimiawi air laut. Namun tabel 2
menunjukkan bahwa ada perbedaan besar dalam susunan kimiawi kedua macam air
tersebut. Jadi dugaan itu tidak benar. Lalu dari mana sebenarnya asal
garam-garam tersebut.
Menurut teori, zat-zat garam tersebut berasal dari dalam dasar laut melalui proses outgassing, yakni rembesan dari kulit bumi di dasar laut yang berbentuk gas ke permukaan dasar laut. Bersama gas-gas ini, terlarut pula hasil kikisan kerak bumi dan bersama-sama garam-garam ini merembes pula air, semua dalam perbandingan yang tetap sehingga terbentuk garam di laut. Kadar garam ini tetap tidak berubah sepanjang masa. Artinya kita tidak menjumpai bahwa air laut makin lama makin asin.
Zat-zat yang terlarut yang membentuk garam, yang kadarnya diukur dengan istilah salinitas dapat dibagi menjadi empat kelompok, yakni:
1.Konstituen utama : Cl, Na, SO4, dan Mg.
2.Gas terlarut : CO2, N2, dan O2.
3.Unsur Hara : Si, N, dan P.
4.Unsur Runut : I, Fe, Mn, Pb, dan Hg.
Konstituen utama merupakan 99,7% dari seluruh zat terlarut dalam air laut, sedangkan sisanya 0,3% terdiri dari ketiga kelompok zat lainnya. Akan tetapi meskipun kelompok zat terakhir ini sangat kecil persentasenya, mereka banyak menentukan kehidupan di laut. Sebaliknya kepekatan zat-zat ini banyak ditentukan oleh aktivitas kehidupan di laut.
Menurut teori, zat-zat garam tersebut berasal dari dalam dasar laut melalui proses outgassing, yakni rembesan dari kulit bumi di dasar laut yang berbentuk gas ke permukaan dasar laut. Bersama gas-gas ini, terlarut pula hasil kikisan kerak bumi dan bersama-sama garam-garam ini merembes pula air, semua dalam perbandingan yang tetap sehingga terbentuk garam di laut. Kadar garam ini tetap tidak berubah sepanjang masa. Artinya kita tidak menjumpai bahwa air laut makin lama makin asin.
Zat-zat yang terlarut yang membentuk garam, yang kadarnya diukur dengan istilah salinitas dapat dibagi menjadi empat kelompok, yakni:
1.Konstituen utama : Cl, Na, SO4, dan Mg.
2.Gas terlarut : CO2, N2, dan O2.
3.Unsur Hara : Si, N, dan P.
4.Unsur Runut : I, Fe, Mn, Pb, dan Hg.
Konstituen utama merupakan 99,7% dari seluruh zat terlarut dalam air laut, sedangkan sisanya 0,3% terdiri dari ketiga kelompok zat lainnya. Akan tetapi meskipun kelompok zat terakhir ini sangat kecil persentasenya, mereka banyak menentukan kehidupan di laut. Sebaliknya kepekatan zat-zat ini banyak ditentukan oleh aktivitas kehidupan di laut.
Selain zat-zat terlarut ini, air
juga mengandung butiran-butiran halus dalam suspense. Sebagian dari zat ini
akhirnya terlarut, sebagian lagi mengendap ke dasar laut dan sisanya diurai
oleh bakteri menjadi zat-zat hara yang dimanfaatkan tumbuhan untuk
fotosintesis.
I. Metode
Ekstraksi
Metode ekstraksi didasarkan pada
perbedaan koefisien distribusi zat terlarut dalam 2 larutan yang berbeda fasa
dan tidak saling bercampur. Ekstraksi dilakukan dengan pertimbangan beberapa
faktor yaitu:
1.
Kemudahan dan kecepatan proses .
2.
Kemurnian produk yang tinggi.
3.
Rendah polusi.
4.
Kebutuhan me-recovery logam dari larutannya
5.
Efektivitas dan selektivitas yang tinggi. Partisi
zat-zat terlarut antara dua cairan yang tidak dapat bercampur memiliki
banyak kemungkinan untuk terjadi pemisahan analitis. Bahkan di mana
tujuan primernya bukanlah analitis namun preparatif, ekstraksi pelarut
yang merupakan suatu langkah penting dalam urutan yang menuju ke suatu produk
murninya dalam laboratorium organik, anorganik atau biokimia.
6.
Dalam analisis penentuan suatu ion logam,
ekstraksi dapat digunakan untuk memisahkan ion logam tersebut dari ion logam
yang lainnya yang akan mengganggu identifikasi dan penentuan kadarnya. Melalui proses
ekstraksi, ion logam dalam pelarut air ditarik keluar dengan suatu
pelarut organik. Secara umum, tujuan dari ekstraksi adalah untuk memisahkan
suatu komponen dan campurannya dengan menggunakan suatu pelarut.
7.
Beberapa cara dapat mengklasifikasikan sistem
ekstraksi. Cara klasik adalah mengklasifikasikan berdasarkan sifat zat yang
diekstraksi, sebagai khelat atau system ion berasosiasi. Akan tetapi
klasifikasi sekarang didasarkan pada hal yang lebih ilmiah, yaitu proses
ekstraksi. Bila ekstraksi ion logam berlangsung, maka proses ekstraksi
berlangsung dengan mekanisme tertentu. Berarti jika ektsraksi berlangsung
melalui pembentukan khelat atau struktur cincin, ekstraksi dapat
diklasifikasikan sebagai ekstraksi khelat.
8.
Tiga metode dasar pada ekstraksi pada ekstraksi
cair-cair adalah ekstraksi bertahap (bath), ekstraksi kontinyu dan
ekstraksi counter current. Ekstraski bertahap merupakan cara yang paling
sederhana. Caranya yaitu cukup dengan menambahkan pelarut pengekstraksi
yang tidak bercampur dengan pelarut semula kemudian dilakukan pengocokan
sehingga terjadi kesetimbangan konsentrasi zat yang akan diekstraksi pada kedua
lapisan, setelah itu tercapai lapisan didiamkan dan dipisahkan, metode ini
sering digunakan untuk pemisahan analitik. Kesempurnaan ekstraksi tergantung
pada banyaknya ekstraksi yang dilakukan.
9.
Salah satu penggunaan penting dalam proses ekstraksi
pelarut adalah penentuan logam-logam secara spektrofotometrik pada daerah
sinar tampak. Banyak reagen organik membentuk kompleks khelat berwarna dengan
logam-logam tetapi kompleks yang terbentuk kebanyakan tidak larut dalam air,
kompleks-lompleks
10. logam khelat
tersebut umumnya larut dalam pelarut organik.Oleh karena itu,mudah diekstraksi.
11. Satu hal
kunci yang sangat menentukan pertimbangan desain proses ekstraksi adalah
pemilihan solven yang akan digunakan. Hal-hal yang perlu diperhatikan di
antaranya: a. Reproksivitas: kemampuan untuk melakukan kontak antara
pelarut dengan suatu zat teralrut.
b.Selektivitas: kemampuan suatu pelarut untuk
melarutkan salah satu komponen zat terlarut. Bandingkan rasio kesetimbangan
solute tiap fasa.
c.Koefisien distribusi: nilai ratio yang dalam
kesetimbangan yang menunjukkan kemampuan zat terlarut terdistribusi dalam
pelarut.
d.Ketidak larutan (insolubility) pelarut tidak boleh
larut dalam cairan karier. e.
Recoverability kemampuan pelarut untuk dapat
dimurnikan (recover ) Pertimbangkan hambatan (misal: azeotrop).
f.Kerapatan:
menunujukkan konsentrasi zat terlarut dalam solven. Penurunan karapatan zat C kelarutannya
semakin banyak dalam pelarut.
g.Tegangan
permukaan: menunjukkanan dua jenis cairan untuk bercampur. h.Reaktivitas kimia:
adanya kemampuan untuk bereaksi secara kimiawi antara cairan sehingga dapat
diketahui apakah dua larutan dapat dicampurkan tanpa bereaksi.
i.Viskositas, tekanan uap dan titik beku nilai rendah memudahkan penyimpanan.
Proses ekstraksi pelarut berlangsung tiga tahap yaitu sebagai berikut.
J.
Cara Menentukan Kekuatan Larutan
Elektrolit
kekuatan larutan elektroit ditentukan oleh
beberapa faktor :
1.
Jenis larutan elektrolit
, Tentu saja elektrolit kuat dalam
konsentrasi yangsama atau hampir sama mempunyai kekuatan jauh lebih besar jika
dibandinglarutan nonelektrolit. Sebab dalam larutan non elektrolit lemah
hanyasebagian kecil larutan yang terurai menjadi ion2nya (misal dengan
derajatdissosiasi = 0,00001 berarti yang terurai hanya 0,001% dari
totalkonsentrasinya) sedangkan larutan elektrolit kuat hampir semuanya
terurai(100% dari konsentrasi terurai)
2.
Kadar/Konsentrasinya
, Bila sama jenisnya (sama2 elektrolit
lemah atausama2 elektrolit kuat) kekuatan larutan elektrolit ditentukan
olehkonsentrasinya...semakin besar konsentrasi maka semakin besar
kekuatannya.karena semakin banyak yang mengion.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Larutan adalah sediaan cair yang
mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut (Anonim, 1995). Larutan ada
dua macam yaitu solutio dan mixtura. Bila solution hanya mengandung satu jenis
obat yang dilarutkan sedangkan mixtura menggunakan lebih dari satu bahan obat yang
dilarutkan. Molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata, sehingga
menjamin keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan
diencerkan atau dicampur ( Anonim,1995). Keuntungan bentuk sediaan larutan
antara lain - campuran homogen - dosis mudah diubah-ubah dalam pembuatan -
dapat diberikan dalam larutan encer kapsul atau tablet lambung, sedangkan bila
dalam bentuk tablet atau kapsul sulit diecerkan - kerja awal obat lebih cepat
karena obat cepat diabsorbsi - mudah diberi pemanis, bau-bauan dan warna, dan
hal ini untuk pemakaian obat pada anak-anak - untuk pemakaian luar, bentuk
larutan mudah digunakan Kerugian bentuk larutan antara lain: - volume bentuk
larutan lebih besar - ada obat yang tidak stabil dalam larutan - ada obat yang
sukar ditutupi rasa dan baunya dalam larutan ( Anief, 2005).
Dalam suatu larutan (solutio) terdapat dua
komponen utama yaitu pelarut ( solven) dan zat terlarut ( solute). Adapun
pemilihan solven didasarkan atas: - toksisitas rendah - viskositas - rasa, baud
an warna - kecocokan dengan bahan lain - ekonomis. Pelarut yang sering
digunakan adalah air. Namun dapat pula menggunakan pelarut lain seperti
gliserol, alcohol, propilen glikol, dan minyak lemak, aseton, isopropyl akohol,
dsb. Untuk memberi nama larutan, terdapat satu ketentuan umum yaitu: - jika
larutan tersebut pelarutnya air maka dinamakan solutio diikuti dengan nama zat
aktif - jika larutan tersebut pelarutnya bukan air maka dinamakan sesuai
pelarutnya. Contoh : solution champhora oleosa ( pelarut minyak ), solution
champhora spiritusa ( pelarut spiritus ). Hal- hal yang perlu diperhatikan
dalam pembuatan solution yaitu: - PH Basa lemah seperti alcohol, atropine,
codein, morfin tidak terlalu larut dalam air sehingga pelarut yang digunakan
adalah asam encer. Zat organic berupa asam lemah seperti fenobarbital dan
sulfonamide akan mengendap dalam larutan alkalis, membentuk garam yang dapat
larut dalam air. - Suhu Panas pelarutan negatif zat menyerap panas dan
kelarutan zat akan meningkatkan adanya kenaikan suhu.
Sedangkan panas pelarutan positif yaitu zat
akan berkurang kelarutannya seiring dengan kenaikan suhu, zat akan melepas
panas. - Ukuran partikel Semakin kecil ukuran partikel maka semakin luas
permukaannya sehingga frekuensi kontak dengan pelarut makin banyak dan proses
pelarutan akan makin cepat. - Pengadukan Semakin kuat pengadukan maka semakin
banyak pelarut tak jenuh bersentuhan dengan obat sehingga semakin cepat
terbentuk larutan. Kelarutan suatu zat terutama tergantung luas permukaan zat.
Pemanasan dalam proses pelarutan akan menaikkan kecepatan difusi. Jika reaksi
yang terjadi eksoterm maka pelarutan dengan pemanasan harus diperhatikan karena
berbahaya. Misalnya pada Hydras nutrias. Pemanasan harus dihindari jika : -
Senyawa terurai dengan pemanasan Contoh : Luminal Natrium terurai menjadi fenil
etil asetil ureum hexamine terurai menjadi formaldehid dan ammonia. - Kelarutan
senyawa menurun dengan pemanasan Contoh : calcii hydroxyda, calcii
hypophosphite, natrium sulfat anhidris.
DAFTAR PUSTAKA
Misnani. 2010. Praktikum Teknik Lingkungan Total Padatan Terlarut. http://misnanidulhadi.blogspot.com/. diakses 17 Juni 2012.
Oram, B. 2010. Total
Dissolved Solids, http://www.water-research.net/totaldissolved solids.htm. diakses tanggal 17 Juni 2012.
Tarigan, M.S, dan Edward. 2003. Kandungan Total Zat Padat Tersuspensi (Total Suspended Solid) di Perairan
Raha, Sulawesi Tenggara. MAKARA.
SAINS. VOL.7. NO. 3
Bird, Tony. 1987. Kimia Fisika untuk Universitas.Jakarta : Erlangga
Brady, James.1986. Kimia Universitas Asas dan Struktur.Jakarta : Erlangga
Hardjono. 2001. Kimia Dasar . Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.
Keenan, Klenifelter. 2000. Kimia untuk Universitas Jakarta :
Gramedia.Oxtoby david w, dkk .
2001. Prinsip- Prinsip Kimia Modern. Surabaya :
Erlangga.Syukri, S. 1999.Kimia Dasar I.Bandung : Institut Tekhnologi
Bandunghttp://idrissetiawanalwysclever-skiripsi.blogspot.com/2012/07/makalah-kimia-larutan-elektrolit-dan.htmlhttp://mediabelajaronline.blogspot.com/2010/03/larutan-elektrolit-dan-non-elektrolit.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar