Rabu, 27 April 2016

MAKALAH Kimia fisika Zat terlarut



BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Reaksi-reaksi kimia dapat terjadi dalam keadaan gas, cair, larutan, dan padatan. Reaksi kimia dalam gas memerlukan pengendalian suhu dan tekanan. Reaksi dalam padatan memerlukan suhu sangat tinggi, sedangkan reaksi dalam larutan mudah dikendalikan. Reaksi dalam larutan secara teknologi lebih sederhana dan umumnya dilakukan dalam larutan. Untuk melakukan reaksi dalam larutan, Anda perlu memahami komposisi dan sifat-sifat larutan. Salah satunya adalah sifat kelistrikan larutan.
            Larutan didefinisikan sebagai campuran dua atau lebih zat yang membentuk satu macam fasa (homogen) dan sifat kimia setiap zat yang membentuk larutan tidak berubah. Arti homogen menunjukkan tidak ada kecenderungan zat-zat dalam larutan terkonsentrasi pada bagian-bagian tertentu, melainkan menyebar secara merata di seluruh campuran. Sifatsifat fisika zat yang dicampurkan dapat berubah atau tidak, tetapi sifat-sifat kimianya tidak berubah.
Ada dua komponen yang berhubungan dengan larutan, yaitu pelarut dan zat terlarut. Pelarut adalah zat yang digunakan sebagai media untuk melarutkan zat lain. Umumnya, pelarut merupakan jumlah terbesar dari sistem larutan. Zat terlarut adalah komponen dari larutan yang memiliki jumlah lebih sedikit dalam sistem larutan. Selain ditentukan oleh kuantitas zat, istilah pelarut dan terlarut juga ditentukan oleh sifat fisikanya (struktur). Pelarut memiliki struktur tidak berubah, sedangkan zat terlarut dapat berubah.
Bergantung pada sifat zat terlarut, ada larutan yang dapat menghantarkan listrik ada juga yang tidak dapat menghantarkan listrik. Larutan yang dapat menghantarkan arus listrik disebut larutan elektrolit, sedangkan larutan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik disebut larutan nonelektrolit.



B.     Tujuan

1.      Mengkaji definisi zat terlarut
2.      Mengkaji zat padat terlarut (TDS) sebagai Estetika karakteristik air minum
3.      Distribusi zat terlarut antara dua fasa cairan
4.      Jenis pelarut dan terlarut
5.      Konsentrasi


C.    Landasan Teori
Titik beku adalah suhu pada P dimana terjadi perubahan wujud zat cair ke padat. Pada tekanan 1 atm, air membeku pada suhu 0 C, karena pada suhu itu tekanan uap air sama dengan tekanan uap es. Selisih antara titik beku pelarut dengan titik beku pelarutan disebut penurunan titik beku.


D.    Manfaat
Adapun manfaat yang bisa di ambil dari penulisan makalah ini :
1.      Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami pengertian atau definisi dari zat terlarut.
2.      Mahasiswa dapat mengetahui zat terlarut pada titik beku.
3.      Dapat mengetahui jenis zat terlarut dan pelarut
4.      Konsentrasi zat terlarut











BAB II
PEMBAHASAN
A.    Definisi Zat Terlarut
Zat terlarut (soluot) adalah zat yang jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan.sedangkan larutan adalah campuran homogen yang terdiri atas dua zat atau lebih. Zat yang jumlahnya lebih banya dari zat-zat lain dalam larutan disebut pelarut atau solven. Komposisi zat terlarut dan pelarut dalam larutan dinyatakan dalam konsentrasi larutan, sedangkan proses cencampuran zat terlarut dan pelarut disebut membentuk larutan disebut pelarutan atau solvasi baik pada larutan atupun sistem disversi, zat terlarut dapat berupa padatan,cairan atau gas. Bahkan bila zat terlarut adalah cairan, tidak ada kesulitan dalammembedakan peran pelarut dan zat terlarut bila kuantitas zat terlarut lebih kecul dari pelarut. Namun, bila kuantitas zat terlarut dan pelarut, sukar untuk memutuskanmanakah pelarut mana zat terlarut. Dalam kasus yang terakhir ini, Anda dapat sebutkomponen 1, komponen 2, dst.

ZAT TERLARUT      PELARUT      CONTOH
Gas                              gas                   udara, semua campuran gas
Gas                              cair                  karbon dioksida dalam air
Gas                              padat               hidrogen dalam platina
Cair                             cair                  alkohol dalam air
Cair                             padat               raksa dalam tembaga
Padat                           padat               perak dalam platina
Padat                           cair                  garam dalam air


B.     Golongan Zat Terlarut
Campuran merupakan gabungan dua atau lebih zat, dimana dalam penggabungan ini zat-zat tersebut mempertahankan identitasnya  masing-masing (Chang 2004:7). Campuran terdiri atas heterogen dan campuran heterogen. Campuran homogen susunan campurannya di bagian adalah sama. Contoh campuran homogen adalah larutan.. Larutan adalah campuran dari homogen dari dua atau lebih zat. (Chang,2004:90). Zat yang dicampurkan adalah zat terlarut dan zat pelarut.
            Zat terlarut berjumlah lebih sedikit daripada zat pelarut. Pada larutan, emua zat terlarut akan larut dalam air.

C.    Total  Zat Padat Terlarut (TDS) Sebagai Petunjuk Estetika Karakteristik Air Minum
Total zat padat terlarut (Total Dissolved Solids, sering disingkat dengan TDS) adalah suatu ukuran kandungan kombinasi dari semua zat-zat anorganik dan organik yang terdapat di dalam suatu cairan sebagai: molekul, yang terionkan atau bentuk mikrogranula (sol koloida) yang terperangkap. Secara umum definisi operasionalnya adalah bahwa zat padat harus cukup kecil untuk lolos dari penyaringan melalui saringan berukuran 2 µm (mikrometer). Total zat padat terlarut secara normal hanya dibahas untuk sistem air tawar, karena salinitas meliputi sebagian dari ion-ion yang merupakan definisi dari TDS. Aplikasi dasar dari TDS ialah studi mengenai mutu air untuk aliran, sungai, dan danau, meskipun TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang utama (misalnya, TDS tidak dianggap terkait dengan efek kesehatan) TDS digunakan sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air minum dan sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas kontaminan-kontaminan zat kimia.
Sumber utama bagi TDS dalam penerimaan air adalah limpasan pertanian dan perumah-an, pencucian kontaminasi tanah dan titik sumber polusi debit air dari instalasi pengolahan industri atau limbah.
Konstituen-konstituen zat kimia yang paling umum adalah kalsium, fosfat, nitrat, nitrit, natrium, kalium dan klorida, yang ditemukan dalam limpasan zat hara, limpasan badai air umum air limpasan dari dari iklim bersalju di mana jalan diberi garam untuk menghilangkan es. Zat-zat kimia mungkin kation-kation, anion-anion, molekul-molekul atau aglomerasi di atas tingkat seribu molekul atau lebih kecil, asalkan mikro-granula terbentuk. Unsur-unsur TDS yang lebih eksis dan berbahaya adalah pestisida yang muncul dari limpasan air permukaan. Total zat padat terlarut tertentu yang terjadi secara alami muncul dari pelapukan dan pelarutan batuan dan tanah. Amerika Serikat telah menetapkan baku mutu air sekunder 500 mg/liter untuk menyediakan air minum palatabilitas.

Total zat padat terlarut dibedakan dari total zat padat yang melayang (total suspended solids, disingkat TSS), pada yang terakhir ini tidak dapat melewati saringan 2 mikrometer dan masih tanpa batas tersuspensi dalam larutan.

Istilah “zat padat yang dapat mengendap” atau “settleable solids” mengacu pada benda dengan ukuran berapa pun itu tetap tidak akan tersuspensi atau terlarut dalam sebuah tangki penampungan tidak terpengaruh oleh gerak, dan tidak termasuk baik TDS maupun TSS. Zat padat yang dapat mengendap mungkin termasuk partikel yang lebih besar atau molekul-molekul tak larut.
1.      Pengukuran TDS
Dua cara dasar pengukuran TDS ialah gravimetri dan konduktivitas. Cara gravimetri adalah cara paling akurat dan meliputi penguapan pelarut cairan dan pengukuran massa residu yang tertinggal. Cara ini adalah yang terbaik, meskipun memakan waktu. Bila garam-garam anorganik yang meliputi mayoritas besar TDS, cara gravimetri tetap sangat tepat.
Konduktivitas listrik dari air terkait secara langsung dengan konsentrasi zat-zat padat terionisasi terlarut dalam air. Ion-ion dari zat-zat padat terlarut dalam air memberikan kemampuan bagi air untuk menimbulkan arus listrik, yang dapat diukur menggunakan conductivity meter konvensional atau TDS meter. Bila dikorelasikan dengan pengukuran TDS laboratorium, konduktivitas memberikan nilai bagi konsentrasi TDS, biasanya tingkat akurasinya 10%.
2.      Simulasi Hidrologis
Model pengangkutan hidrologis digunakan untuk meng-analisa secara matematis pergerakan TDS di dalam sistem sungai. Model-model yang paling umum dialamatkan pada limpasan air permukaan, yang memungkinkan variasi dalam jenis penggunaan lahan, topografi, jenis tanah, tutupan vegetasi, curah hujan, dan praktek pengelolaan lahan (misalnya, tingkat aplikasi pupuk. Model limpasan air telah ditingkatkan ke tingkat akurasi yang baik dan memungkinkan evaluasi praktek pengelolaan lahan alternatif pada dampak terhadap kualitas air sungai.
Model bak digunakan untuk mengevaluasi lebih komprehensif total zat padat terlarut dalam bak tangkapan dan secara dinamis di sepanjang berbagai jangkauan aliran.
Model DSSAM dikembangkan oleh Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) Amerika Serikat. Model transpor hidrologi secara aktual berdasarkan pada metrik muatan-zat cemar yang disebut “Total Maximum Daily Load” (TMDL), yang tertuju pada TDS dan zat-cemar kimia khas. Suksesnya model ini berkontribusi terhadap komitmen Dewan yang diperluas hingga penggunaan protokol yang menggaris-bawahi TMDL dalam kebijakan nasional untuk pengelolaan banyak sistem sungai di Amerika Serikat.
3.      Implikasi Praktis
Tingkat TDS tinggi umumnya menunjukkan air sadah, yang dapat menyebabkan timbulnya kerak di dalam pipa, katup, dan saringan, mengurangi kinerja dan menambah biaya perawatan sistem. Efek ini dapat terlihat dalam akuarium, spa, kolam renang, dan sistem pengolahan air “reverse osmosis”. Secara khas, dalam aplikasi tersebut, total zat padat terlarut seringkali diuji, dan membran filtrasi harus diperiksa agar dapat mencegah efek-efek yang tidak menguntungkan.
Dalam kasus hidroponik dan akuakultur, TDS sering dipantau untuk menciptakan lingkungan kualitas air yang menguntungkan bagi produktivitas organisme. Untuk tiram air tawar, trouts, dan seafood lainnya yang bernilai tinggi, produktivitas tertinggi dan keuntungan ekonomi dicapai dengan menirukan TDS dan tingkat pH dari setiap spesies dengan lingkungan aslinya. Untuk penggunaan hidroponik, total zat padat terlarut dianggap merupakan salah satu petunjuk terbaik dari ketersediaan zat hara bagi tanaman air yang di-kembangkan.
Karena ambang batas dari kriteria estetika yang dapat diterima untuk air minum manusia ialah 500 mg/L, tidak ada kekhawatiran umum atas bau, rasa, dan warna pada tingkat jauh lebih rendah daripada yang diperlukan untuk bahaya. Sejumlah penelitian telah dilakukan dan menunjukkan beragam reaksi spesies mulai dari tidak toleran sampai toksisitas langsung karena TDS tinggi. Sejumlah hasil harus terus-menerus diinterpretasikan, sebagai hasil toksisitas yang benar akan berhubungan dengan konstituen kimia yang spesifik. Namun demikian, beberapa informasi numerik adalah panduan yang berguna untuk risiko alami dalam mengungkap organisme air atau hewan darat ke tingkat TDS tinggi. Kebanyakan ekosistem perairan yang melibatkan fauna ikan campuran dapat mentolerir tingkat TDS 1000 mg/l.


Fathead minnow (Pimephales promelas), misalnya, melepaskan konsentrasi LD50 dengan 5600 ppm berdasarkan pada pajanan 96 jam. LD50 adalah konsentrasi yang diperlukan untuk menyebabkan efek mematikan terhadap 50% populasi yang terpajankan. Daphnia magna, satu contoh yang baik dari satu anggota utama rantai makanan, ada-lah sejenis crustacea plankton, kira – kira 0,5 mm panjangnya, memiliki LD50 sekitar 10.000 ppm TDS selama 96 jam pajanan.


Ikan-ikan yang baru memijah dan ikan belum dewasa tampaknya lebih sensitif terhadap tingkat DTS tinggi. Sebagai contoh, ditemukan bahwa konsentrasi 350 mg/L TDS mengurangi pemijahan Striped bass (Morone saxatilis) di wilayah San Francisco Bay-Delta, dan bahwa konsentrasi di bawah 200 mg/L menunjukkan kondisi pemijahan lebih sehat. Di Sungai Truckee, EPA menemukan bahwa ikan remaja Lahontan cuttrout tunduk pada kematian yang lebih tinggi bila terkena stres polusi termal dikombinasikan dengan tinggi konsentrasi total zat padat terlarut.
Untuk hewan-hewan terestrial, unggas biasanya memiliki batas atas yang aman dari paparan TDS sekitar 2.900 mg/L, sedangkan untuk sapi perah diukur memiliki batas atas yang aman dari sekitar 7.100 mg/l. Penelitian telah menunjukkan bahwa paparan TDS diperparah dengan toksisitas ketika penyebab stres lain ada, seperti pH abnormal, kekeruhan tinggi, atau oksigen terlarut berkurang dengan stressor yang terakhir hanya bertindak dalam kasus Animalia.
4.      Klasifikasi Air
Air dapat diklasifikasi berdasarkan jumlah TDS pere liter:
• Air tawar 5000 mg/L TDS
·         TDS meter
Sebuah TDS meter menunjukkan Total Dissolved Solids (TDS) dari suatu larutan, yaitu konsentrasi zat padat terlarut di dalamnya. Karena zat-zat padat terionisasi terlarut seperti garam-garam dan meniral-mineral menaikkan konduktivitas suatu larutan, maka TDS meter mengukur konduktivitas larutan tersebut dan menaksir TDS dari itu.
Zat-zat padat organik terlarut seperti gula dan partikel-partikel padat mikroskopis seperti koloid, tidak secara signifikan mempengaruhi konduktivitas suatu larutan sehingga TDS meter tidak melibatkan mereka dalam pembacaannya.
·         Satuan dari TDS
TDS meter suatu alat ukur yang menampilkan secara khas Total Zat Padat Terlarut (TDS) dalam bagian per juta (ppm). Misalnya, satu pembacaan TDS dengan 1 ppm akan menunjukkan terdapat 1 milligram zat padat terlarut dalam setiap kilogram air.

D.    Distribusi Zat Terlarut Antara Dua Fasa Cairan
Hal-hal yang mempengaruhi kesetimbangan :
1.      Perubahan Konsentrasi
Bila kedalam sistem ditambahkan gas oksigen maka posisi kesetimbangan akan bergeser untuk menetralkan efek penambahan oksigen.
2.      Tekanan
Bila tekanan dinaikkan keseimbangan akan bergeser ke kiri.  Yaitu mengarah pada pembentukan NO2 dengan bergesernya kekiri maka volume akan berkurang sehimgga akan mengurangi efek kenaikan tekanan.
3.      Pengaruh Perubahan Suhu
Jika suhu dinaikkan maka keseimbangan akan bergeser ke kanan. Ke arah reaksi yang endotermik, sehingga pengaruh kenaikan suhu dikurangi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi koefisien distribusi diantaranya :
1.      Temperatur yang digunakan
Semakin tinggi suhu, maka reaksi semakin cepat sehinggga volume titrasi menjadi kecil akibatnya berpengaruh terhadap nilai K.



E.      Jenis Pelarut dan Terlarut
Apabila pelarut yang digunakan adalah zat yang mudah menguap maka akan sangat mempengaruhi volume titrasi. Akibatnya berpengaruh pada perhitungan nilai k.
Apabila zat akan dilarutkan adalah zat yang mudah menguap atau higroskopis maka akan dipengaruhi normalitas atau konsentrasi zat tersebut. Akibatnya mempengaruhi nilai K.

Pelarut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1.      Pelarut aprotik
Pelarut ini tidak menerima maupun memberi proton dan dalam keadaan ini bersifat netral, tidak bereaksi, tetapan dielektriknya rendah, tidak terurai menjadi ion-ion dalam sistem pelarut, hingga ia tidak bereaksi baik dengan asam maupun basa. Pelarut Contohnya, kloroform, toluen, CCl4, hidrokarbon. Pelarut aprotik berguna unutuk mempelajari reaksi asam dan basa yang bebas dari pengaruh pelarut.
2.      Pelarut protofilik
Pelarut yang bersifat dapat menerima proton dari zat terlarut, disebut juga pelarut basa , dengan reaksi sebagai berikut:
HB + pelarut ↔ pelarut H+ + B–
Contohnya : NH4OH, amine, ketone, aseton, dan eter.
Asam lemah bila dilarutkan dalam pelarut protofilik maka keasamannya akan meningkat yang disebut efek “levelling”
3.      Pelarut protogenik
Pelarut yang bersifat memberi proton (donor proton). Jika basa lemah dilarutkan dalam pelarit protogenik maka kebasaannya akan meningkat.
Contohnya : HF, Asam Sulfat, asam acetat, asam format, dan HCl.
4.      Pelarut amfiprotik
Pelarut ini bekerja sebagai penerima proton, dan pemberi proton. Contoh untuk pelarut ini adalah golongan alkohol, air, asam acetat glasial.

Asam acetat bisa bersifat asam dengan reaksi :
CH3COOH ↔ CH3COO– + H+
Tetapi bila asam asetat dilarutkan dalam asam yang lebih kuat misalnya HClO4, asam asetat bersifat basa dengan reaksi :
CH3COOH + HClO4 ↔ CH3COOH2+ + ClO4–
Ion CH3COOH2+ dapat bereaksi dengan basa dengan cara memberikan proton. Maka zat yang bersifat basa lemah akan berubah sifatnya menjadi basa yang lebih kuat, sehingga titrasi antara basa lemah oleh HClO4 dapat dilangsungkan bila zat tersebut dilarutkan dalam asam asetat glasial.

F.     Konsentrasi
Konsentrasi merupakan jumlah zat terlarut dalam sejumlah larutan tertentu. Berbagai  macam satuan konsentrasi larutan dapat digunakan untuk menjelaskan secara kuantitatif jumlah relatif dari zat terlarut dan pelarut. Para ahli kimia menggunakan empat macam satuan konsentrasi, antara lain
1)      Persen massa ( W/W%)
Persen massa adalah perbandingan antara massa zat terlarut terhadap
masa larutan yang kemudian dikalikan dengan 100%.
Persen massa = [massa zat terlarut / (massa zat terlarut + massa pelarut)] x 100%
Persen massa = [massa zat terlarut massa larutan] x 100%


2)      Faksi Mol (x)
Fraksi mol merupakan perbandingan antara jumlah mol suatu komponen terhadap jumlah mol total semua komponen. Fraksi mol zat terlarut (xt) adalah perbandingan antara jumlah mol zat terlarut terhadap jumlah mol total dalam larutan. Sedangkan fraksi mol pelarut (xp) adalah perbandingan antara jumlah mol pelarut terhadap jumlah mol total larutan.
Xt = mol zat terlarut / ( mol zat terlarut + mol perlarut )
Xp = mol pelarut/ ( mol pelarut + mol pelarut )
Xp + xt = 1
3)      Molaritas (M)
Molaritas adalah jumlah mol zat terlarut per liter larutan.
                        M = mol zat terlarut / liter larutan
                        M = ( gram zat terlarut / Mr zat terlarut) x
                        ( 1l000 / mL larutan )
4)      Molalitas
Molalitas didefenisikan sebagai jumlah mol zat terlarut per kilogram pelarut
m = mol zat terlarut / kg pelarut
m =(gram zat terlarut / Mr zat terlarut0 x
(1000 /g pelarut)
Beberapa sifat larutan bergantung pada sifat khusus dari zat terlarutnya. Dengan kata lain, pengaruh yang dapat diamati tentang larutan tersebut bergantung pada sifat alamiah zat terlarutnya. Sebagai contoh, larutan garam menghantarkan listrik. Larutan yang mengantar kation nikel berwarna hijau, sedangkan , sedangkan larutan yang mengandung kation tembaga berwarna biru.


Ada juga penggolongan larutan yang tidak bergantung pada jenis zat terlarut, khususnya hannya bergantung pada jumlah partikel zat terlarut. Sifat ini disebabkan koligatif larutan yaitu sifat yang bergantung pada jumlah  zat terlarut yang ada. Yang termasuk termasuk sifat koligatif larutan antara lain:
a)      Penurunan tekanan
b)      Penurunan titik beku
c)      Tekana osmosis


a.       Penurunan Tekanan Uap
Jika suatu cairan dimasukkan dalam wadah tertutup, cairan tersebut akhirnya akan menguap, dan melekul – molekul gas tersebut menyebabkan adanya tekanan diatas cairan. Tekanan yang disebabkan karena adanya melekul – melekul dari cairan yang menguap  disebut Tekanan Uap cairan.
Jika cairan yang sama digunakan sebagai pelarut dalam suatu larutan, maka tekanan uap cairan akan menurun. Hal ini disebabkan karna partikel- partikel zat terlarut didalam cairan akan menempati ruangan permukaan, sehingga pelarut tidak dapat menguap dengan mudah. Sering kali, terdapat gaya tarik-  menarik antara zat terlarut dengan zat pelarut, yang menyebabkan pelarut lebih sukar menguap. Dengan kata lain, adanya zat terlarut menyebabkan penurunan tekanan uap cairan.
Jika zat pelarut bersivat nonvolatil ( sukar menguap ), maka tekanan uap larutan selalu lebih rendah dibandingkan tekanan uap pelarut murni. Hubungan antara tekanan uap larutan dengan tekanan uap pelarut murni bergantung pada konsentrasi zat terlarut didalam larutan.
b.      Kenaikan Titik Didih
Setiap cairan mempunyai suhu didih tertentu(pada tekanan atmosfer tertentu). Suhu ini disebut titik didih cairan. Jika cairan tersebut digunakan sebagai pelarut dalam suatu larutan, maka akan diamati bahwa titik didih larutannya akan selalu lebih tinggi dibandingkan cairan murninya  (pelaru). Hal ini di kenal dengan istilah kenaikan titik didih.
Adanya zat terlarut yang sukar menguap menyebabkan pelarut takkan mudah menguap dengan mudah. Oleh karena itu, diperlukan energi yang lebih besar( konsekuensinya suhu semakin tinggi) untuk menguapkan pelarut.

c.       Penurunan Titik Beku
Setiap cairan mempunyai suhu beku tertentu. Jika suatu cairan digunakan sebagai pelarut, dapat diamati bahwa titik beku larutan tersebut ternyata selalu lebih rendah dibandingkan titik beku cairan murninya ( pelarut ) hal ini disebabkan penurunan titik beku
Adanya zat terlarut menyebabkan entropi (ketidak teraturan) pelarut semakin tinggi. Dengan demikian, untuk mengubah pelarut dari fasa cair menjadi fasa padat diperlukan usaha ekstra. Hal ini mengakhibatkan titik beku larutan lebih rendah dibandingkan pelarutnya.
d.      Tekanan Osmosis
Osmosis merupakan peristiwa perpindahan pelarut melalui membran semi permiable kedalam larutan dengan konsentrasi zat terlarut yang lebih tinggi. Tekanan yang diberikan pada sisi yang lebih pekat untuk menghentikan proses ini disebut tekanan osmosis
Pelarut selalu mengalir melalui membran semipermiable dari sisi yang lebih encer kesisi yang lebih pekat. Semakin pekat larutan, semakin tinggi tekana yang diberikan untuk menghentikan osmosis (semakin besar tekanan osmosisnya)
Sama dengan sifat koligatif lainnya, besarnya tekanan osmosis berbanding lurus dengankosentrasi larutan. Dua larutan yang memiliki konsentrasi yang sama, akan memiliki tekanan osmosis yang sama, maka lar4utan yang lebih pekat dikatakan hipertonis sementara larutan yang lebih encer dikatakan hipotonis.
Sifat koligatif larutan elektrolit berbeda dibandingkan sifat koligatif larutan nonelektrolit. Hal ini terjadi karna sifat zat elektrolit akan terionisasin meng hasilkan ion-ion yang bebas dalam larutan, sehingga satu u akan menjadi dua atau lebih partikel ketika dilarutkan,sebagai contoh, setiap partikel NaCl akan terurai menjadi dua ion, Cl – Dengan demikian, sifat sifat koligatif CaCl2 0,1 m adalah tiga x sifat koligatif larutan – larutan glukosa 0,1 m ( nonelektrolit)

e.       Larutan elektrolit dan larutan nonelektrolit
Larutan elektrolit merupakan larutan yang dapat menghantar listrik dengan baik.Larutan elektrolit memiliki daya hantar listrik yang berfariasi. Larutan kuat memiliki daya hantar listrik yang jauh lebih baik daripada larutan elektrolit lemah.
Zat terlarut dalam elektrolit kuat akan terionisasi sempurna, sehingga menghasilkan ion-ion bebas dalam jumlah besar. Derajat ionisasi zat terlarut (a) sebesar 1 . Yang termasuk kategori larutan elektrolit kuat adalah asam kuat (HCl), basa kuat ( NaOH ) dan garam yang mudah larut ( NaCl ).
Larutan nonelektrolit merupakan larutan yang tidak menghantarkan listrik,sebab zat terlarut tidak terionisasi menghasilkan ion-ion bebas. Derajat ionisasi zat terlarut (a) sebesar 0. Yang termasuk kategori larutan non elektrolit  adalah senyawa berbasis karbon (hidro karbon dan senyawa organik)
Top of Form
Bottom of Form
Interaksi Pelarut – Zat Terlarut
            Berhubungan dengan kelarutan suatu zat dalam pelarut, maka akan terjadi interaksi antara pelarut- pelarut, pelarut zat pelarut terlarut dan zat-zat terlarut. Nilai atau diskripsi kualitatif beberapa parameter fisika kimia dan zat terlarut dan pelarut dapat membantu mendapatkan gambaran mengenai keterlarutan suatu obat, beberapa faktor dan konsep yang penting untuk meramal suatu obat adalah:
1)      Polaritas
2)      Co Solvency
3)      Parameter Kelarutan
4)      Suhu
5)      Salting out
6)      Salting in
7)      Hidrotopi
8)      Pembentukan Kompleks
9)      Efek bersama ion
10)  Ukuran partikel
11)  Ukuran dan bentuk melekul
12)  Stuktur air
a.       Polaritas
            Aturan yang terkenal yaitu like dissolves bahwa melekul- melekul dengan distribusi muatan yang sama dapat larut timbal balik’ yaitu polar, sedangkan melekul non polar akan larut dalam media non polar. Konsep polaritas kurang jelas apabila diterapkan dalam kelarutan yang rendah, terbentuk miseldan berbentuk hidrak padat.
b.      Konsolven
            Campuran pelarut untuk melarutkan zat tertentu untuk digunakan untuk  membuat larutan obat. Konsolven dapat dipandang sebagai modifikasi polaritas dari sistem pelarut terhadap zat terlarut atau terbentuknya pelarut baru yang terjadi interaksi tidak mudah diduga oleh individu pelarutn masing- masing dalam sistem campuran. Konsolven supaya dibedakan dari fenomena yang sangat erat hubungannya seperti pelarut ( solubilisasi ) dan didrotopi.

c.       Parameter Kelarutan
            Dikembangkan oleh hildbrand untuk sebagai alat peramal kelarutan cairan dan substansi amorf dalam banyak macam pelarut dari industri.
d.      Suhu
            Kebanyakan senyawa farmasetis pada kenaikan suhu akan naik kelarutannya, kecuali senyawa metilselulosa dan kalsium hidroksida. Proses eksoterm dapat digambarkan:
Zat terlarut + pelarut <> larutan.
            Jika pada peristiwa eksoterm, bila suhu dinaikan maka kelarutan zatnya karena reaksi bergeser kekiri. Sedangkan pada peristiwa endoterm, bila suhu dinaikan maka kelarutan zatnya akan bertambah, karena reaksi bergeser kekanan.
e.       Salting out
            Peristiwa pengendapan zat terlarut ( biasanya zat organik ) disebabkan oleh penambahan jumlah besar garam yang sangat mudah larut pada larutan air dari senyawa organik. Peristiwa ini merupakan kompetisi antara garam dan senyawa organik terhadap melekul pelarut yaitu air. Contoh peristiwa ini adalah: camphora dan elium manthae pepiritae dalam air aromatik. Larutan metilselulosa dalam air oleh penambahan Nacl.
            Mekanisme peristiwa ini adalah bahwa peristiwa metilselulosa dan air merupakan inkompetible dengan interaksi NaCl dengan air sebagai hasil terjadi dehidrasi dari metilselulosa dan mengakhibatkan peristiwa  salting out
f.       Salting in
            Merupakan peristiwa bertambahnya kelarutan dari suatu senyawa organik dengan penambahan suatu garam dalam larutannya. Sebagai contoh adalah globulin tidak larut dalam air tetapi dapat larut dalam larutan garam encer didalam air.
g.      Hidrotopi
            Merupakan peristiwa bertambahnya larutan dengan senyawa yang tidak larut atau sukar larut dengan penambahan suatu senyawa lainyang bukan zat surfaktan     (S.a.a. ). Mekanismenya mungkin salting in, kompleksasi atau kombinasi beberapa faktor.
h.      Pembentukan Kompleks
            Ialah peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tak larut dengan zat yang larut dengan membentuk senyawa kompleks yang larut. Sebagai contoh larutan iodium dalam larutan KI atau Nal dalam air. Disini terjadi senyawa kompleks triodida.
            Juga larutan coffein didalam larutan natrii salisilat atau natri benzoat dalam air. Senyawa kompleks ini bersifat reversible, mudah terjadi diosiasi dan melepas zat aktifnya dan memberi zat terapi.
i.        Common ion effect
            Obat yang tak larut sering dibuat sebagai suspensi, disini ada keseimbangan antara partikel padat dengan larutan jenuhnya. Sebagai contoh adalah suspensi procain penicilin. Dengan penambahan procain Hcl yang mudah larut dalam air akan mengurangi penicilin ion dalam larutan, karena produk kelarutan suatu senyawa pada suhu konstan adalah tetap.
j.        Ukuran partikel
            Efek ukuran partikel dari zat terlarut dalam sifat keterlarutan terjadi bila hanya partikel mempunyai ukuran dalam sub mikro dan akan terlihat kenaikan kira- kira 10% dalam kelarutannya. Kenaikan ini disebabkan adanya energi bebas permukaan yang besar dihubungkan dengan partikel yang kecil.
k.      Ukuran dan bentuk melekul
            Sifat-sifat dapat melarutkan dari air sebagian besar disebabkan oleh ukuran yang kecil dari melekulnya. Zat cair dapat mempunyai polaritas, konstante dielektrik dan ikatan hidrogen dapat menjadi pelarut yang kurang bagi senyawa ionik, disebabkan ukuran partikelnya lebih besar dan akan sukar bagi zat cair untuk menembus dan melarutkan kristal. Bentuk dari melekul zat terlarut juga merupakan faktor didalam stuktur dari air. Efek bentuk dari melekul zat terlarut terhadap kelarutannya didalam suatu pelarut lebih banyak merupakan efek entropi.

l.        Stuktur dari air
            Stuktur air merupakan anyaman molekul 3 dimensi dan stuktur ikatan hidrogen menentukan sifat – sifat air dan interaksinya dengan zat terlarut. Stuktur dapat dimodifikasi secara kualitatif dan kuantitatif oleh banyak faktor seperti suhu, permukaan dan zat terlarut.
Stuktur air adalah peka terhadap banyak faktor yang dapat memperkuat, melemahkan, mengubah atau memecah seluruhnya. Faktor faktor ini termasuk suhu, zat terlarut non polar, ion monovolen dan polivalen, S.a.a., makromolekul dan permukan.

G.    Ekstraksi Pelarut
Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan kelarutannya terhadap dua cairan tidak saling larut yang berbeda, biasanya air dan yang lalinnya pelarut organik.
Pelarut adalah benda cair atau gas yang melarutkan benda padat, cair atau gas, yang menghasilkan sebuah larutan.
Dari kesimpulan diatas Ekstraksi pelarut adalah benda cair atau gas yang melarutkan benda cair, padat, atau gas yang menghasilkan sebuah larutan melalui suatu proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan kelarutannya.
Hukum Distribusi atau Partisi
dapat diketahui bahwa zat-zat tertentu lebih mudah larut dalam pelarut-pelarut tertentu. contohnya bila banyaknya iod diubah-ubah , angka banding konsentrasi-konsentrasi itu selalu kontsan dengan syarat temperaturnya konstan.
Konsentrasi Iod dalam Karbon disulfida= C2 = Kd
Konsentrasi Iod dalam air C1
Kd = dikenal dengan koefisien distribusi atau partisi

Hukum distribusi atau partisi dapat dirumuskan: bila suatu zat terlarut terdistribusi antara dua pelarut yang tidak dapat campur, maka suatu temperatur yang konstan untuk tiap spesi molekul terdapat angka banding berubah dengan sifat dasar kedua pelarut itu, dan angka banding distribusi ini tidak tergantung pada spesi molekul lain apapun yang mungkin ada. harga angka banding berubah dengan sifat dasar kedua pelarut, sifat dasar zat terlarut, dan temperatur.
Penerapan Ekstraksi Pelarut Dalam Analisis Kualitatif.
  1. mengeluarkan bbrom dan iod dari dalam larutan air, bila larutan iod dalam air dikocok dengan karbon disulfida, konsentrasi iod dalam lapisan karbon disulfida yang terjadi kira-kira 400 kali konsentrasi dalam air. lapisan karbon disulfida dapat dipisahkan dengan bantuan corong pisah dan proses itu diulang. dengan cara ini konsentrasi iod dalam larutan air dapat dikurangi menjadi begitu kecil, meskipun secara teoritis tidak dapat menjadi nol.
  2. Berbagai Uji Dalam Analisis Kualitatif, (i) Kromium pentoksida lebih dapat larut dalam amil alkohol (eter) dari pada dalam air, dengan mengocok larutan encer dalam air dengan amil alkohol (eter). diperoleh suatu larutan pekat dalam amil alkolhol, dan adanya krmoat atau hidrogen peroksida yang dinyatakan oleh warna biru.
  3. Studi Hidrolisis, terdapat kesetimbangan antara garam, hidrolisis dapat ditulis sebagai Garam + Air ←→ Asam + Basa. konsentrasi dapat ditentukan dengan cara distribusi antara air dan pelarut lain, seperti benzena atau klorofrom.
  4. Penentuan Susunan Ion Halida yang Kompleks, Iod jauh lebih dapat larut dalam Kalium iodida dalam air dibandingkan dalam air. hal ini disebabkan oleh terbentuknya ion tri iodida. kesetimbangan berikut berlangsung seperti I2 + I- ←→ I3-.dengan menentukan konsentrasi iod dalam larutan karbon tetra klorida, konsentrasi iod bebas dalam larutan air dapat dihitung menggunakan koefisien distribusi yang diketahui, dan dapat diketahui konsentrasi ios total, diperolah konsentrasi ion tidak bebas sebagai I3- dengan memperkurangkan harga ini dari konsentrasi awal kalium iodida, dapatlah disimpulkan konsentrasi KI bebas. tetapan kesetimbangan K = [I-] x [I2] / [I3-], kemudian dapat dihitung metode yang sama telah digunaknan untuk mempelajari kesetimbangan antara brom dan bromida: Br2 =Br- ←→ Br3-.
Pengukuran distribusui juga telah dilakukan untuk membuktikan adanya ion tetraaminokuprat (II), dalam suatu larutan air ber amoniak dari tembaga sulfida, dengan diperiksanya perisi amonia bebas antara klorofrom dan air.

H.    Teori Asal Usul Garam di Laut
Mula-mula diperkirakan bahwa zat-zat kimia yang menyebabkan air laut asin berasal dari darat yang dibawa oleh sungai-sungai yang mengalir ke laut, entah itu dari pengikisan batu-batuan darat, dari tanah longsor, dari air hujan atau dari gejala alam lainnya, yang terbawa oleh air sungai ke laut. Jika hal ini benar tentunya susunan kimiawi air sungai tidak akan berbeda dengan susunan kimiawi air laut. Namun tabel 2 menunjukkan bahwa ada perbedaan besar dalam susunan kimiawi kedua macam air tersebut. Jadi dugaan itu tidak benar. Lalu dari mana sebenarnya asal garam-garam tersebut.


Menurut teori, zat-zat garam tersebut berasal dari dalam dasar laut melalui proses outgassing, yakni rembesan dari kulit bumi di dasar laut yang berbentuk gas ke permukaan dasar laut. Bersama gas-gas ini, terlarut pula hasil kikisan kerak bumi dan bersama-sama garam-garam ini merembes pula air, semua dalam perbandingan yang tetap sehingga terbentuk garam di laut. Kadar garam ini tetap tidak berubah sepanjang masa. Artinya kita tidak menjumpai bahwa air laut makin lama makin asin.
Zat-zat yang terlarut yang membentuk garam, yang kadarnya diukur dengan istilah salinitas dapat dibagi menjadi empat kelompok, yakni:

1.Konstituen utama : Cl, Na, SO4, dan Mg.
2.Gas terlarut : CO2, N2, dan O2.
3.Unsur Hara : Si, N, dan P.
4.Unsur Runut : I, Fe, Mn, Pb, dan Hg.
Konstituen utama merupakan 99,7% dari seluruh zat terlarut dalam air laut, sedangkan sisanya 0,3% terdiri dari ketiga kelompok zat lainnya. Akan tetapi meskipun kelompok zat terakhir ini sangat kecil persentasenya, mereka banyak menentukan kehidupan di laut. Sebaliknya kepekatan zat-zat ini banyak ditentukan oleh aktivitas kehidupan di laut.
Selain zat-zat terlarut ini, air juga mengandung butiran-butiran halus dalam suspense. Sebagian dari zat ini akhirnya terlarut, sebagian lagi mengendap ke dasar laut dan sisanya diurai oleh bakteri menjadi zat-zat hara yang dimanfaatkan tumbuhan untuk fotosintesis.



I.       Metode Ekstraksi
Metode ekstraksi didasarkan pada perbedaan koefisien distribusi zat terlarut dalam 2 larutan yang berbeda fasa dan tidak saling bercampur. Ekstraksi dilakukan dengan pertimbangan beberapa faktor yaitu:
1.      Kemudahan dan kecepatan proses .

2.      Kemurnian produk yang tinggi.

3.      Rendah polusi.

4.      Kebutuhan me-recovery  logam dari larutannya

5.      Efektivitas dan selektivitas yang tinggi. Partisi zat-zat terlarut antara dua cairan yang tidak dapat bercampur memiliki  banyak kemungkinan untuk terjadi pemisahan analitis. Bahkan di mana tujuan  primernya bukanlah analitis namun preparatif, ekstraksi pelarut yang merupakan suatu langkah penting dalam urutan yang menuju ke suatu produk murninya dalam laboratorium organik, anorganik atau biokimia.

6.       Dalam analisis penentuan suatu ion logam, ekstraksi dapat digunakan untuk memisahkan ion logam tersebut dari ion logam yang lainnya yang akan mengganggu identifikasi dan penentuan kadarnya. Melalui proses ekstraksi, ion logam dalam  pelarut air ditarik keluar dengan suatu pelarut organik. Secara umum, tujuan dari ekstraksi adalah untuk memisahkan suatu komponen dan campurannya dengan menggunakan suatu pelarut.

7.      Beberapa cara dapat mengklasifikasikan sistem ekstraksi. Cara klasik adalah mengklasifikasikan berdasarkan sifat zat yang diekstraksi, sebagai khelat atau system ion berasosiasi. Akan tetapi klasifikasi sekarang didasarkan pada hal yang lebih ilmiah, yaitu proses ekstraksi. Bila ekstraksi ion logam berlangsung, maka proses ekstraksi berlangsung dengan mekanisme tertentu. Berarti jika ektsraksi berlangsung melalui pembentukan khelat atau struktur cincin, ekstraksi dapat diklasifikasikan sebagai ekstraksi khelat.

8.       Tiga metode dasar pada ekstraksi pada ekstraksi cair-cair adalah ekstraksi  bertahap (bath), ekstraksi kontinyu dan ekstraksi counter current. Ekstraski bertahap merupakan cara yang paling sederhana. Caranya yaitu cukup dengan menambahkan  pelarut pengekstraksi yang tidak bercampur dengan pelarut semula kemudian dilakukan pengocokan sehingga terjadi kesetimbangan konsentrasi zat yang akan diekstraksi pada kedua lapisan, setelah itu tercapai lapisan didiamkan dan dipisahkan, metode ini sering digunakan untuk pemisahan analitik. Kesempurnaan ekstraksi tergantung pada banyaknya ekstraksi yang dilakukan.

9.      Salah satu penggunaan penting dalam proses ekstraksi pelarut adalah  penentuan logam-logam secara spektrofotometrik pada daerah sinar tampak. Banyak reagen organik membentuk kompleks khelat berwarna dengan logam-logam tetapi kompleks yang terbentuk kebanyakan tidak larut dalam air, kompleks-lompleks

10.  logam khelat tersebut umumnya larut dalam pelarut organik.Oleh karena itu,mudah diekstraksi.

11.  Satu hal kunci yang sangat menentukan pertimbangan desain proses ekstraksi adalah pemilihan solven yang akan digunakan. Hal-hal yang perlu diperhatikan di antaranya: a. Reproksivitas: kemampuan untuk melakukan kontak antara pelarut dengan suatu zat teralrut.  
b.Selektivitas: kemampuan suatu pelarut untuk melarutkan salah satu komponen zat terlarut. Bandingkan rasio kesetimbangan solute tiap fasa.
c.Koefisien distribusi: nilai ratio yang dalam kesetimbangan yang menunjukkan kemampuan zat terlarut terdistribusi dalam pelarut.
d.Ketidak larutan (insolubility) pelarut tidak boleh larut dalam cairan karier. e.
 Recoverability kemampuan pelarut untuk dapat dimurnikan (recover ) Pertimbangkan hambatan (misal: azeotrop).
 f.Kerapatan: menunujukkan konsentrasi zat terlarut dalam solven. Penurunan karapatan zat C kelarutannya semakin banyak dalam pelarut.
 g.Tegangan permukaan: menunjukkanan dua jenis cairan untuk bercampur. h.Reaktivitas kimia: adanya kemampuan untuk bereaksi secara kimiawi antara cairan sehingga dapat diketahui apakah dua larutan dapat dicampurkan tanpa  bereaksi. i.Viskositas, tekanan uap dan titik beku nilai rendah memudahkan penyimpanan. Proses ekstraksi pelarut berlangsung tiga tahap yaitu sebagai berikut.













J.       Cara Menentukan Kekuatan Larutan Elektrolit
 kekuatan larutan elektroit ditentukan oleh beberapa faktor :

1.      Jenis larutan elektrolit
,           Tentu saja elektrolit kuat dalam konsentrasi yangsama atau hampir sama mempunyai kekuatan jauh lebih besar jika dibandinglarutan nonelektrolit. Sebab dalam larutan non elektrolit lemah hanyasebagian kecil larutan yang terurai menjadi ion2nya (misal dengan derajatdissosiasi = 0,00001 berarti yang terurai hanya 0,001% dari totalkonsentrasinya) sedangkan larutan elektrolit kuat hampir semuanya terurai(100% dari konsentrasi terurai)


2.      Kadar/Konsentrasinya
,           Bila sama jenisnya (sama2 elektrolit lemah atausama2 elektrolit kuat) kekuatan larutan elektrolit ditentukan olehkonsentrasinya...semakin besar konsentrasi maka semakin besar kekuatannya.karena semakin banyak yang mengion.















BAB III
PENUTUP
     
A.    Kesimpulan

      Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut (Anonim, 1995). Larutan ada dua macam yaitu solutio dan mixtura. Bila solution hanya mengandung satu jenis obat yang dilarutkan sedangkan mixtura menggunakan lebih dari satu bahan obat yang dilarutkan. Molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata, sehingga menjamin keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau dicampur ( Anonim,1995). Keuntungan bentuk sediaan larutan antara lain - campuran homogen - dosis mudah diubah-ubah dalam pembuatan - dapat diberikan dalam larutan encer kapsul atau tablet lambung, sedangkan bila dalam bentuk tablet atau kapsul sulit diecerkan - kerja awal obat lebih cepat karena obat cepat diabsorbsi - mudah diberi pemanis, bau-bauan dan warna, dan hal ini untuk pemakaian obat pada anak-anak - untuk pemakaian luar, bentuk larutan mudah digunakan Kerugian bentuk larutan antara lain: - volume bentuk larutan lebih besar - ada obat yang tidak stabil dalam larutan - ada obat yang sukar ditutupi rasa dan baunya dalam larutan ( Anief, 2005).
      Dalam suatu larutan (solutio) terdapat dua komponen utama yaitu pelarut ( solven) dan zat terlarut ( solute). Adapun pemilihan solven didasarkan atas: - toksisitas rendah - viskositas - rasa, baud an warna - kecocokan dengan bahan lain - ekonomis. Pelarut yang sering digunakan adalah air. Namun dapat pula menggunakan pelarut lain seperti gliserol, alcohol, propilen glikol, dan minyak lemak, aseton, isopropyl akohol, dsb. Untuk memberi nama larutan, terdapat satu ketentuan umum yaitu: - jika larutan tersebut pelarutnya air maka dinamakan solutio diikuti dengan nama zat aktif - jika larutan tersebut pelarutnya bukan air maka dinamakan sesuai pelarutnya. Contoh : solution champhora oleosa ( pelarut minyak ), solution champhora spiritusa ( pelarut spiritus ). Hal- hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan solution yaitu: - PH Basa lemah seperti alcohol, atropine, codein, morfin tidak terlalu larut dalam air sehingga pelarut yang digunakan adalah asam encer. Zat organic berupa asam lemah seperti fenobarbital dan sulfonamide akan mengendap dalam larutan alkalis, membentuk garam yang dapat larut dalam air. - Suhu Panas pelarutan negatif zat menyerap panas dan kelarutan zat akan meningkatkan adanya kenaikan suhu.
       Sedangkan panas pelarutan positif yaitu zat akan berkurang kelarutannya seiring dengan kenaikan suhu, zat akan melepas panas. - Ukuran partikel Semakin kecil ukuran partikel maka semakin luas permukaannya sehingga frekuensi kontak dengan pelarut makin banyak dan proses pelarutan akan makin cepat. - Pengadukan Semakin kuat pengadukan maka semakin banyak pelarut tak jenuh bersentuhan dengan obat sehingga semakin cepat terbentuk larutan. Kelarutan suatu zat terutama tergantung luas permukaan zat. Pemanasan dalam proses pelarutan akan menaikkan kecepatan difusi. Jika reaksi yang terjadi eksoterm maka pelarutan dengan pemanasan harus diperhatikan karena berbahaya. Misalnya pada Hydras nutrias. Pemanasan harus dihindari jika : - Senyawa terurai dengan pemanasan Contoh : Luminal Natrium terurai menjadi fenil etil asetil ureum hexamine terurai menjadi formaldehid dan ammonia. - Kelarutan senyawa menurun dengan pemanasan Contoh : calcii hydroxyda, calcii hypophosphite, natrium sulfat anhidris.





















DAFTAR PUSTAKA

Misnani. 2010. Praktikum Teknik Lingkungan Total Padatan Terlarut. http://misnanidulhadi.blogspot.com/. diakses 17 Juni 2012.

Oram, B. 2010. Total Dissolved Solids, http://www.water-research.net/totaldissolved solids.htm. diakses tanggal 17 Juni 2012.
Tarigan, M.S, dan Edward. 2003. Kandungan Total Zat Padat Tersuspensi (Total Suspended Solid) di Perairan Raha, Sulawesi Tenggara. MAKARA. SAINS. VOL.7. NO. 3
Bird, Tony. 1987. Kimia Fisika untuk Universitas.Jakarta : Erlangga
Brady, James.1986. Kimia Universitas Asas dan Struktur.Jakarta : Erlangga
Hardjono. 2001. Kimia Dasar . Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.
Keenan, Klenifelter. 2000. Kimia untuk Universitas Jakarta :
 Gramedia.Oxtoby david w, dkk . 2001. Prinsip- Prinsip Kimia Modern. Surabaya :
Erlangga.Syukri, S. 1999.Kimia Dasar I.Bandung : Institut Tekhnologi Bandunghttp://idrissetiawanalwysclever-skiripsi.blogspot.com/2012/07/makalah-kimia-larutan-elektrolit-dan.htmlhttp://mediabelajaronline.blogspot.com/2010/03/larutan-elektrolit-dan-non-elektrolit.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar