RINGKASAN
Disusun Oleh :
Siner Gaya
1411070022
Sintaksis
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH
BANDA ACEH
2016
KALIMAT
1.
BATASAN
DAN CIRI-CIRI KALIMAT
Kalimat
adalah satuan bahasa terkecil, dalam bentuk lisan atau tulisan,yang
mengungkapkan pikiran yang utuh.Kalimat diucapkan dengan suara naik turun dan
keras lembut,kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda
titi (.), tanda tanya (?), atau tanda seru (!),sedangkan didalamnya disertakan
juga berbagai tanda baca seperti koma (,), titik dua (:), tanda pisah (-), dan
spasi.
2.
BAGIAN-BAGIAN KALIMAT
Dilihat
dari segi bentuknya, kalimat dapat dirumuskan sebagai konstruksi sintaksis
paling besar yang terdiri atas dua kata atau lebih.
Ada kelompok kata yang
dapat dihilangkan dengan menghasilkan bentuk yang tetap berupa kalimat kalimat
seperti pada (1b), dan ada pula yang tidak seperti (2b). Antara kalimat dan
kata terdapat dua satuan sintaksis antara, yaitu:
Klausa merupakan satuan
sintaksis yang terdiri atas dua kata, atau lebih, yang mengandung unsur
predikasi sedangkan Frasa adalah satuan sintaksis yang terdiri atas dua kata
atau lebih yang tidak mengandung unsur predikasi.
(1)
a. Ibu pergi ke pasar.
b.
Ibu pergi.
(2)
a. Masalah itu menyangkut masa depan
kita.
b.
Masalah itu menyangkut.
A.
Kalimat dan Klausa
Kalimat dalam banyak
hal tidak berbeda dari klausa.Baik kalimat mupun klausa merupakan konstruksi
sintaksis yang mengandung unsur predikasi.Dilihat dari segi struktur
internalnya, kalimat dan klausa keduanya terdiri atas unsur predikat dan subjek
dengan atau tanpa objek,pelengkap atau keterangan.
B.
Konstituen Kalimat
Kalimat
merupakan konstuksi sintaksis terbesar yang terdiri atas dua kata atau lebih.
Ini berarti bahwa
kalimat merupakan satuan terbesar untuk pemerian sintaksis dan kata yang
terkecil.
Aalisis struktural suatu
kalimat pada dasarnya adalah menetapkan pola hubungan konstituennya yang
memperlihatkan secara lengkap hierarki konstituen-konstituen kalimat itu.Salah
satu cara untuk menyatakan struktur konstituen kalimat dengan menggunakan
diagram.
C.
Unsur Wajib dan Unsur Takwajib
Kalimat
minimal terdiri atas unsur predikat dan unsur subjek. Kedua unsur kalimat itu
merupakan unsur yang kehadirannya selalu wajib. Di samping kedua unsur itu,
dalam suatu kalimat kadang-kadang ada kata atau kelompok kata yang dapat
dihilangkan tanpa mempengaruhi status bagian yang tersisa sebagai kalimat,
tetapi da pula yang tidak. Hal ini akan lebih jelas kalau kita memperhatikan
contoh di bawah ini:
Ø Barangkali
mereka menghadiri pertemuan itu kemarin sore.
Kalimat itu terdiri
atas lima konstituen: (i) barangkali, (ii) mereka, (iii) menghadiri, (iv)
pertemuan itu, dan (v) kemarin sore. Dari kelima konstituen itu, hanya
barangkali dan kemarin sore yang dapat dihilangkan tanpa mempengaruhi status
bagian yang tersisa sebagai kalimat, sedangkan yang lain tidak.
D.
Keserasian Unsur-Unsur Kalimat
Penggabungan
dua kata, atau lebih, dalam satu kalimat menuntut adanya keserasian diantara
unsur-unsur tersebut baik dari segi makna maupun dari segi bentuk. Berdasarkan
hal itu, keseraian unsur-unsur kalimat berikut ini akan dikemukakan dari kedua
segi tersebut, yakni keserasian makna dan keserasian bentuk.
a)
Keserasian Makna
Pada dasarnya orang
membuat kalimat berdasarkan pengetahuannya tentang dunia di sekelilingnya
sehingga mustahillah rasanya kita temukan kalimat seperti
Ø Batu
itu memukul anjing kami.
Ø Kuda
kami merokok lima butir jeruk.
b)
Keserasian Bentuk
Selain menuntut adanya
keserasian makna, bahasa Indonesia, seperti halnya dengan kebanyakan bahasa di
dunia ini, menuntut adanya keserasian bentuk di antara unsur-unsur kalimat,
khususnya antara nomina dan pronomina dan dalam batas tertentu, antara nomina
dan verba.
Ø Pelamar
banyak, tetapi mereka tidak memenuhi syarat.
Ø Pelamar
banyak tetapi dia tidak memenuhi syarat.
3.
STRUKTUR KALIMAT DASAR
Yang
dimaksud dengan kalimat dasar adalah
kalimat yang, (i) terdiri atas satu klausa, (ii) unsur-unsurnya lengkap,
(iii) susunan unsur-unsurnya menurut urutan yang paling umum, dan (iv) tidak
mengnadung pertanyaan atau pengingkaran.
A.Bentuk,
Kategori, Fungsi, dan Peran
Terdapat kategori
kata,antara lain, kategori seperti berikut.
a.
Verba (V) b. Preposisi (Prep)
Adjektifa
(Adj) Konjungtor (Konj)
Adverbia
(Adf) Interjeksi (Interj)
Nomina
(N) Partikel (Part)
Ada juga kategori
frasa, yaitu
a. Frasa
Nominal (FN) b. Frasa
Preposional (FRep)
Frasa
Verbal (FV)
Frasa
Adjektival (FAdj)
Frasa
Adverbal (FAdv)
B.
Pola Kalimat Dasar
Lima fungsi sintaksis
yang digunakan untuk pemerian kalimat, dalam suatu kalimat tidak selalu kelima
fungsi sintaksis itu terisi, tetapi paling tidak harus ada konstituen pengisi
subjek dan predikat, kehadiran kenstituen lainnya banyak ditentukan oleh
kenstituen pengisi predikat.
Perhatikan contoh
berikut.
Ø Dia
(S) tidur (P) di kamar depan (ket).
Ø Mereka
(S) sedang belajar (P) bahasa inggris (pel) sekarang (ket).
Pola-Pola
Kalimat Dasar
Kenyataan lainnya yang
akan tampak kalau kita mengamati suatu teks adalah bahwa banyak kalimat yang
predikatnya mendahului subjek kalimat. Kalimat-kalimat demikian pada umumnya
dapat diubah susunannya sehingga berpola S-P. Kalimat (majemuk) tidak banyak
(P) manusia yang mampu tinggal dalam kesendirian (S) dapat diubah menjadi
manusia yang mampu tinggal dalam kesendirian (S) tidak banyan (P). Berdasarkan
pertimbangan diatas, pola umum kalimat dasar dalam bahasa indonesia dapat dinyatakan
seperti:
Ø S+P+(O)+(pel)+(ket)
Apabila konstituen
kalimat dasar yang tidak wajib hadir diabaikan, dari pola umum (29) itu dapat
diturukkan 6 tipe dasar kalimat.
C.Kalimat
Dasar dan Konstituennya
Memperlihatkan secara
jelas hubungan struktural unsur kalimat. Akan tetapi, kalau diperhatikan kelima
tipe kalimat yang terakhir, akan tampak bahwa kehadiran objek, pelengkap, atau
keterangan wajib itu sangat ditentukan oleh bentuk dan jenis verba predikat.
Verba menjadi pada Dia menjadi ketua koperasi termasuk tipe S-P-pel, sedangkan
verba tinggal pada Kami tinggal di jakarta termasuk tipe S-P-ket, walaupun
kedua verba itu termasuk verba tak transitif.
Dri uraian di atas
tampek baahwa verba predikat dalam bahasa Indonesia mempunyai peranan yang
dominan karena menentukan kehadiran konstituen lain dalma kalimat. Perhatikan
contoh berikut.
Ø Ayah
membeli baju (S-P-O)
Ø Ayah
membelikan adik saya baju baru (S-P-O-pel)
D.Pola
Kalimat Topik-Komen
Sabagai susunan kalimat
yang terdiri atas dua bagian, yakni topik dan koment. Jadi, dalam kalimat
seperti Orang itu menyerahkan sebuah bingkisan Frasa Orang itu adalah topik
sedangkan menyerahkan sebuah bingkisan adalah Koment. Pola itu terdiri atas
topik yang merukan pokok pembicaraan, dan koment yang memberi penjelasan terhadap
pokok tersebut. Topik merupakan hal yang dianggap diketahui oleh
pendengar/pembaca sedangkan Koment adalah ikhwal yang menjelaskan tentang topik
tersebut.
Dalam baha Indonesia pola ini dapt pula diwujudkan dalam
kalimat seperti berikut:
a.
Rumah kami, atapnya bocor.
b.
Orang itu, ayahnya bekerja di pabrik.
4.
FUNGSI SINTAKSIS UNSUR-UNSUR KALIMAT
Dalam kenyataan
pemakain bahasa, banyak kalimat yang urutan unsurnya menyimpang dari pola
urutan di atas. Untuk dapat mengetahui fungsi unsur kalimat, kita perlu mengenal
ciri umum tiap-tiap fungsi sintaksis itu. Di bawah ini berturut-turut akan
dibicarakan fungsi predikat, subjek, objek, pelengkap, dan keterangan.
A.
Fungsi Predikat
Predikan merupakan
konstituen pokok Yang disertai konstituen subjek disebelah kiri, jika ada,
konstituen objek, pelengkap, dan/atau keterangan wajib di sebelah kanan.
Predikat kalimat biasanya berupa frasa verbal atau frasa adjektival. Pada
kalimat yang berpola S-P, predikat dapat pula berupa frasa nominal, frasa
numeral, atau frasa preposisional, disamping frasa verbal dan frasa adjektival.
Perhatikan contoh berikut. (Mengenai predikat frasa preposisional:)
a.
Ayahnya guru bahasa Inggais (P-FN)
b.
Adiknya dua (P-Fnum)
Unsur predikat pada
kalimat mempunyai pola intonasi menurun, yaitu (2) 3 1 pada pola S-P dan (2) 3
2 pada pola P-S. Perhatikan contoh berikut.
a.
i. Pencurunya dia.
ii.
Anak itu teman tono.
2- 23 / 2
– 31 #
B.
Fungsi Subjek
Subjek merupakan fungsi
sintaksis terpenting yang kedua setelah predikat. Pada umumnya subjek berupa
nomina, frasa nominal, atau klausa seperti tampak pada contoh berikut.
a.
Harimau binatang liar.
b.
Anak itu belum makan.
c.
Yang tidak ikut upacara akan ditindak.
C.
Fungsi Objek
Objek adalah konstituen
kalimat yang kehadirannya dituntut oleh predikat yang berupa verba transitif
pada kalimat aktif. Letaknya selalu setelah langsung predikatnya. Dengan
demikian, objek dapat dikenali dengan memperhatikan (1) jenis predikat yang
dilengkapinya dan (2) ciri khas objek itu sendiri verba transitif biasanya
ditandai oleh kehadiran afiks tertentu suffiks-kan dan-i serta prefiks meng-
umumnya merupakan pembentuk verba transitif. Pada contoh berikut louk merupakan
objek yang dapat dikenal dengan mudah oleh kehadiran verba transitif
bersufiks-kan: menundukkan.
a.
Morten menundukkan louk.
D.
Fungsi Pelengkap
Orang sering
mencampuradukkan pengertian objek dan pelengkap. Hal itu dapat dimengerti
karena antara kedua konsep itu memang terdapat kemiripan. Baik objek maupun
pelengkap sering berwujud nominal, dan keduanya juga sering menduduki tempat
yang sama, yakni dibelakang verba. Perhatikan kedua kalimat yang berikut.
a.
Dia mendagangkan barang-barang
elektronik di Glodok.
b.
Dia berdagang barang-barang elektronik
di Glodok.
E.
Fungsi Keterangan
Keterangan merupakan
fungsi sintaksis yang paling beragam dan paling mudah berpindah letaknya.
Keterangan dapat berada di akhir, di awal, dan bahkan di tengah kalimat. Pada
umumnya, kehadiran ketengan dalam kalimat manasuka. Konstituen keteranagan
biasanya berupa frasa nominal, frasa preposisisonal, atau adverbial. Perhatikan
contoh berikut.
a.
Dia memotong rambutnya.
b.
Dia memotong rambutnya di kamar.
F.
Interpresetasi Ganda
Dalam bahasa Indonesia
terdapat kenstuksi kalimat fungsi konstituennya dapat mempunyai tafsiran yang
berbeda. Di bawah ini akn dibicarakan dua macam kontruksi kalimat, yaitu
kalimat yang prediakatnya berupa frasa preposissional dan kalimat yang
subjeknya frasa verbal.
a.
Frasa Propeposisional Sebagai Predikat
Telah ditemukan bahwa
frasa preposisional dapat berfungsi sebagai predikat kalimat. Perhatikan contoh
berikut.
Ø Ibu
pergi ke pasar.
Ø Ayah
di kamar
b.
FrasaVerbal Sebagai Subjek
Frasa verbal dapat
menduduki posisi subjek kalimat. Perhatikan contoh berikut.
Ø Membangun
gedung bertingkat mahal sekali.
Ø Mengumpulkan
dana dari rumah ke rumah di larang.
5.
PERAN SEMANTIS UNSUR
Pada dasarnya kalimat
memerikan suatu peristirwa atau kadaan yang melibatkan suatu peserta, atau
lebih dengan semantis yang bebeda-beda. Peserta itu dinyatakan dengan nomina
atu frasa nominal dengan demikian, ada kalimat
Ø Ida memberi hadiah kepada ibunya.
Berikut akan di
dibicarakan peran semantis:
Pelaku, sasaran,
pengalam, peruntung, dan atribut.
A.
Pelaku
Pelaku adalah peserta
yang melakukan perbuatan yang ditanyakan oleh verba predikat peserta umumnya
manusia atau binatang. Akan tetapi, benda yang potensial juga dapat berlaku
sebagai pelaku. Peran pelaku itu merupakan peran semantis utama subjek kalimat
aktif dan pelengkap kalimat pasif. Perhatikan contoh berikut.
·
Anak itu sedang membaca koran.
·
Kucing saya selalu tdur di kursi.
B.
Sasaran
Yang dinyatakan oleh
verba predikat peran sasaran itu merupakan peran utama objek atau pelengkap
seperti terlihat pada contoh berikut.
·
Dia mengirim uang kepada ibunya.
·
Kami mendengarkan pidato presiden.
C.
Pengalaman
Pengalaman adalah
peserta yang mengalami peristiwa yang dinyatakan predikat. Peran pengalam
merupakan peran unsur subjek yang predikatnya adjektival atau verba
takteransitif yang lebih menyatakan keadaan seperti pada contoh berikut.
·
Adik saya sakit hari ini.
·
Mereka kehujanan di jalan.
D.
Peruntung
Peruntung adalah
peserta yang beruntung dan yang memproleh manfaat dari keadaan, peristiwa atau
perbuatan yang dinyatakan oleh predikat partisipan peruntung biasanya berfungsi
sebagai objek, atau pelengkap, atau sebagai subjek verbal jenis menerima atu
mempunyai. Perhatikan contoh berikut.
·
Ayah memberi uang kepada saya.
·
Ibu membelikan tuti kalung.
E.
Atribut
Dalam kalimat yang
predikatnya nominal, predikat mempunyai prasemantis atribut. Perhatikan guru
saya dan ibunya pada contoh berikut.
·
Orang itu guru saya.
·
Wanita itu ibunya.
F.
Peran Semantis Keterangan
Disamping kelima peran
tersebut di atas, ada peran semantis lain yang terdapat pada fungsi keterangan,
seperti keterangan waktu, keterangan tempat, keterangan alat, dan keterangan
sumber. Peran semantis itu pada dasarnya sesuai dengan sifat kodrati dan nomina
yang ada pada keterangan tersebut. Perhatikan contoh berbagai peran semantis
berikut ini yang dinyatakan oleh unsur yang berfungsi sintaksis keterangan.
a)
Peran Semantis Waktu:
·
Mereka pindah tahun 1998.
b)
Peran Semantis Tempat:
·
Kami tinggal di jakarta.
c)
Peran Semantis Alat:
·
Mereka membuka pintu itu dengan kunci
palsu.
d)
Peran Semantis Sumber:
·
Kursi itu terbuat dari ban mobil.
6.
JENIS-JENIS KALIMAT
Jenis kalimat dapat
ditinjau dari sudut (a) jumlah klausanaya,(b) bentuk sintaksisnya, (c)
kelengkapan unsurnya, dan (d) susunan subjek dan predikatnya.
A.
Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah
kalimat yang terdiri atas satu klausa.Contohnya seperti berikut:
·
Dia akan pergi.
·
Kami mahasiswa admajaya.
1)
Kalimat berpredikat verbal
Ada bermacam-macam
verba yang masing-masing mempengaruhi macam kalimat yang menggunakannya. Kita
ingat adanya verba taktransitif, verba semitransitif, verba transitif dibagi
lagi menjadi ekatransitif (atau monotransitif) dan dwitransitif. Berokut adalah
pembahsan untuk tipe tipe kalimat di
atas.
a)
Kalimat taktransitif
Kalimat yang tak
berobjek dan tak berpelekapan hanya memiliki dua unsur fungsi wajib,yakni
subjek dan predikat.pada umumnya,urutan katanya adalah subjek- predikat.
a)
Kalimat ekatransitif
Predikat dalam kalimat
ekatransitif verba yang dalam bab IV digolongkan dalaam kelompok
ekatramsitif.karena itu, kalimat macam itu disebut pula kalimet ekatransitif.
Dari segi makna,semua verba ekatransitif memiliki makna inheren perbuatan.berikut
ini adalah beberapa contoh kalimat ekatransitif.
·
pemerintah akan memasuk semua kebutuhan
lebaran.
·
.presiden merestui pembentukan panitia
pemilihan umum.
b)
Kalimat Dwitransitif
verba transitif dalam
bahasa indonesia yang secara semantis mengukapkan hubungan tiga maujud.dalam
bentuk aktif,maujud ini masing –masing merupakan subjek,objek,dan
pelengkap.verba itu dinamakan verba dwitransitif.perhatikan kalimat yang
berikut.
·
Ida sedang mencarikan pekerjaan.
·
Ida sedang mencari pekerjaan.
Dari kalimat kita
ketahui bahwa yang memerlukan pekerjaan adalah ida dengan di tambahkannya
sufiks –kan pada verba dalam kalimat kita rasakan ada perbedaan makna:yang
melakukan perbuatan “mencari” memang ida,tetapi pekerjaan itu bukan untuk dia
sendiri –meskipun tidak disebut siapa orangnya pada kalimat orang itu secara
eksplisit di sebutkan, yakni adiknya. Pada kalimat kita lihat bahwa ada dua
nomina yang terleak di belakang verba predikat.sebaiknya pelekap dalam kalimat
dwitransitif itu berdiri di belakang objek jika objek itu ada. Bandingkan kedua
kalimat berikut.
·
Ida sedang mencarikan adiknya pekerjaan.
d
)kalimat pasif
pengertian aktif dan
pasif dalam kalimat meyangkut beberapa hal:macam verba yang menjadi
predikat,sabjek, dan objek,dan bentuk verba yang di pakai.perhatikan kalimat
yang berikut.
·
Pak tona mengangkat asisten baru.
·
Ibu gubenur akan membuka pameran itu.
Jigka guna simbul S
untuk subjek,P untuk predikat,dan O untuk objek,maka kaidah umum untuk
pembentukan kalimat pasif dari kalimat aktif dalam bahasa indonesia adalah
sebagai berikut.
a)
Cara pertama
·
Pertukarkanlah S dengan O.
·
Gantilah prefiks meng-dengan di-pada P.
·
Tambahkan kata oleh di mukak unsur yang
tadinya S.
b)
Cara kedua
Seperti setelah
disinggung di atas,padanan pasifdari kalimat aktif transitif yang subjeknya
berupa pronomina di bentuk dengan cara
kedua. Adapun kaidah pembentukan kalimat pasif cara kedua itu adalah sebagai
berikut.
·
Pindahkan O ke awal kalimat.
·
Tanggalkan prefiks meng-pada P
·
Pindahkan S ke tempat yang tepat sebelum verba.
b)
Kalimat Berpredikat Adjektival
Predikat kalimat dalam bahasa
indonesia dapat pula berupa adjektival seperti terlihat pada contoh berikut.
·
Ayah sakit.
·
Peryataan orang itu benar.
c)
Kalimat Berpredikat Nominal
Dalam bahsa indonesia
ada macam kalimat yang predikatnya terdiri atas nomina (termasuk pronomina)atau
frasa nominal. Dengan demikian, kedua nomina atau frasa nominal yang dijejerkan
dapat membentuk kalimat asalkan syarat untuk subjek dan predikatnya terpenuhi.syarat
kedua itu saat penting karena jika tidak di penuhi, maka jejeran nomina tadi
tidak akan membentuk kalimat. Perhatikan contoh yang berikut.
·
Buku cetakan bandung itu.
·
Buku ini cetakan bandung
4)
Kalimat Berpredikat Numeral
Selain macam –macam kalimat
yang predikatnya berupa frasa verbal,adjektifal,dan nominal yang telah di
bicarakan di atas, ada pula kalimat dalam bahasa Indonesia yang predikatnya
frasa numeral, seperti tampak pada contoh berikut.
·
Anaknya banyak.
·
Uangnya hanya sedikit.
5)
Kalimat Berpredikat Frasa Preposisional
Predikat kalimat dalam
bahasa indonesia dapat pula berupa frasa preposisional. Perhatikan contoh
berikut.
·
Ibu sedang ke pasar.
·
Mereka ke rumah kemarin.
B.
Kalimat Dilihat Dari Bentuk Sintaksis
Pada bagian awal telah dekemukakan
bahwa kalimat, jika dilihat dari bentuk sintaksisnya, dapat dibagi atas, (1)
kalimat deklaratif, (2) kalimat introgatif, (3) kalimat impratif, (4) kalimat
eksklamatif.
1)
Kalimat Deklaratif
Kalimat deklaratif,
yang juga dikenal dengan nama kalimat berita dalam buku-buku tata bahasa
Indonesia, secara formal, jika dibandingkan dengan tiga jeniskalimat yang
lainnya, tidak bermarkah khusus. Dalam pemakaian bahasa bentuk kalimat
deklaratif umumnya digunakan oleh pembicara/penulis untuk membuat pernyataan
sehingga isinya merupakan berita bagi pendengar atau pembacanya. Bermacam-macam
bentuk kalimat deklaratif, antara lain, seperti berikut.
·
Tadi siang ada tabrakan mobil di dekat
Monas.
·
Saya lihat ada bus masuk Ciliwung tadi
pagi.
2)
Kalimat Imperatif
Kalimat imperatif dapat
diwujudkan sebagai berikut.
Ø Kalimat
yang terdiri atas predikat verbal dasar atau adjektiva, ataupun frasa
preposisional saja yang sifatnya taktransitif,
Ø Kalimat
lengkap yang berpredikat verbal taktransitif atau transitif, dan
Ø Kalimat
yang dimarkahi oleh berbagai kata tugas modalitas kalimat.
a)
Kalimat Impratif Taktransitif
Kalimat impratif
taktransitif dibentuk dari kalimat deklaratif
(taktransitif) yang dapat berpredikat verba dasar, frasa adjektival, dan
frasa verbal yang ber prefiks ber- atau meng- ataupun frasa
preposisional.Perhatikan contoh berikut.
·
Engkau masuk.
·
Masuk!
b)
Kalimat Imperatif Transitif
Kalimat intratif yang
berpredikat verba transitif mirip dengan konstruksi kalimat deklaratif
pasif.Kalimat (a) berikut adalah kalimat berita sedangkan (b) kalimat perintah.
a.
Engkau mencari pekerjaan apa saja.
b.
Carilah pekerjaan apa saja!
c)
Kalimat Imperatif Halus
Disamping bentuk fasif
yang baru saja dibicarakan, bahasa Indonesia juga memiliki sejumlah kata yang
dipakai untuk menghaluskan isi kalimat imperatif. Kata seperti tolong, coba,
silakan, dan sudilah, dan kiranya sering dipakai untuk maksud itu. Perhatikan
contoh yang berikut.
·
Tolong kirimkan kontrak ini.
·
Tolong kontrak ini di kirim segera.
d)
Kalimat Imperatif Permintaan
Kalimat imperatif juga
digunakan untuk kalimat permintaan. Kalimat seperti ditandai ole minta atau
mohon. Subjek pelaku kalimat imperaktif permintaan ialah pembicara yang sering
tidak dimunculkan. Perhatikan contoh berikut.
·
Minta perhatian, sudara-saudara!
·
Minta ampun!
e)
Kalimat Imperatif Ajakan dan Harapan
Di dalam kalimat
imperatif, ajakan dan harapan tergolong kalimat yang biasanya didahului kata
ayo(lah), mari(lah), harap dan hendaknya. Perhatikan contoh berikut.
·
Ayolah, masuk!
·
Ayo, cepat!
f)
Kalimat Imperatif Larangan
Kalimat imperatif dapat
bersifat larangan karena adanya kata jangan(lah). Perhatikan contoh berikut.
·
Jangan (kamu) naik.
·
Jangan (kamu) marah.
3)
Kalimat Introgatif
Kalimat introgatif,
yang juga dikenal dengan kalimat tanya, secara formal ditandai oleh kehadiran
kata kata tanya seperti apa, siapa, berapa, kapan, dan bagaimana dengan atau
tanpa partikel –kah sebagai penegas.Kalimat introgatif diakhiri dengan tanda
tanya (?) pada bahasa tulis dan pada bahasa lisan dengan suara naik, terutama
jika tidak ada kata tanya atau suara turun.Partikel –kah dapat ditambah pada
partikel penanya itu untuk mempertegas pertanyaan itu.Intonasi yang dipakai
hampir sama dengan berita. Perhatikan contoh berikut.
·
Dia istri pak Bambang.
·
Apa dia istri pak Bambang?
4)
Kalimat Eksklamatif
Kalimat eksklamatif,
yang juga dikenal dengan kalimat seru, secara formal ditandai oleh kata
alangkah, betapa atau bukan main pada kalimat.
Cara pembentukan kalimat eksklamatif dari kalimat
deklaratif mengikuti langkah berikut.
a.
Balikkan urutan unsur kalimat dari S-P
menjadi P-S
b.
Tambahkan partikel –nya pada adjektiva P
c.
Tambahkan kata (seru) alangkah, bukan
main, atau betapa du muka P jika dianggap perlu.
Dengan menerapkan
kaidah di atas, kita dapat membuat kalimat eksklaratif dari kalimat deklaratif
seperti pada contoh berikut.
·
Pergaulan mereka bebas.
·
Bebas pergaulan mereka.
C.
Kalimat Tarlengkap
Kalimat taklengkap pada
dasarnya adalah kalimat yang tidak ada subjek dan/atau predikatnya. Hal itu
biasa terjadi dalam wacana karen unsur yang tidak muncul ini sudah diketahui
atau disebutkan sebelumnya. Perhatikan penggalan percakapan berikut.
·
Amir : Kamu tinggal dimana, Min?
·
Amin : Di Kampung Melayu.
D.
Kalimat Inversi
Urutan fungsi dalam
bahasa Indonesia boleh dikatakan mengikuti pola: (a) subjek, (b) predikat, (c)
objek (jika ada), dan (d) pelengkap (jika ada). Akan tetapi ada satu pola
kalimat dalam bahasa Indonesia yang predikatnya selalu mendahului subjek.
Perhatikan contoh berikut.
·
Ada tamu, Pak.
·
Ada kabar bahwa dia telah meninggal.
7.
PERLUASAN KALIMAT TUNGGAL
Perluasan kalimat
tunggal itu dapat dilakukan dengan penambahan (1) unsur keterangan, (2) unsur
vokatif, dan konstruksi aposisi.
1)
Keterangan
Pada umumnya kehadiran
keterangan dalam kalimat tidak wajib sehingga keterangan diperlakukan sebagai
unsur takwajib dalam arti bahwa tanpa keteranganpun kalimat telah mempunyai
makna mandiri. Perhatikan contoh berikut.
·
Mereka membuang binatang buas itu.
·
Mereka membunuh binatang buas itu di
pinggir jalan.
Keterangan dibedakan
sembilan macam yakni keterangan (1) waktu, (2) tempat, (3) tujuan, (4) cara,
(5) penyerta, (6) alat, (7) pembandingan, (8) sebab, (9) kesalingan.
a.
Keterangan Waktu
Keterangan waktu
memberikan informasi saat terjadinya suatu peristiwa. Fungsi keterangan itu
ialah (a) kata tunggal, (b) frasa nominal, (c) frasa preposisional.Keterangan
waktu yang berbentuk frasa nominal dapat berupa pengulangan kata seperti
pagi-pagi,malam-malam atau macam gabungan yang lain seperti sebentar lagi.
Perhatikan contoh berikut.
·
Pemerintah mengumumkan desentralisasi
itu kemarin.
·
Dia biasanya datang ke kkantor
pagi-pagi.
Keterangan waktu dengan
preposisional diawali dengan preposisi dan kemudian di ikuti oleh nomina
tertentu. Sepeti pada contoh berikut.
·
Di saat itu kita belum memiliki
teknologi canggih.
·
Mereka menunggu anda sampai pukul lima
sore.
b.
Keterangan Tempat
Keterangan tempat
adalah keterangan yang menunjukkan tempat terjadinya peristiwa atau keadaan.
Keterangan tempat hanya bisa diisi oleh frasa preposisional. Perhatikan contoh
berikut.
·
Kita meletakkan batu pertama ini di
sana.
·
Dari sini kita harus melancarkan
serangan kita.
c.
Keterangan Tujuan
Keterangan tujuan
adalah keterangan yang menyatakan arah, jurusan, atau maksud perbuatan atau
kejadian. Wujud keterangan tujuan selalu berbentuk frasa preposisional dan
preposisi yang di pakai adalah demi, bagi, guna, untuk, dan buat. Keenam
preposisi itu dapat diikuti oleh nomina atau frasa nominal seperti dalam cntoh
yang berikut.
·
Dia bersedia berkorban demi kepentingan
negara.
·
Mari kita mengheningkan cipta bagi
pahlawan yang telah gugur.
d.
Keterangan Cara
Keterangan cara adalah
keterangan yang menyatakan jalannya suatu peristiwa berlangsung.Kata tunggal
yang menyatakan cara misalnya seenaknya,secepatnya. Letak keterangan itu
umumnya setelah sesudah predikat atau objek (kalu ada), tetapi ada juga yang
muncul di awal atau akhir kalimat. Perhatikan contoh berikut.
·
Dia berbicara seenaknya dengan
atasannya.
·
Kamu boleh mengambil kue semaumu.
e.
Keterangan Penyerta
Keterangan penyerta
adalah keterangan yang menyatakan ada tidaknya alat yang dipakai untuk
melakukan suatu perbuatan. Kecuali untuk kata sendiri yang dapat berdiri tanpa
iringan kata lain, semua keterangan penyerta dibentuk dengan menggabungkan
preposisi dengan, tanpa atau bersama dengan kata atau frasa tertentu. Kata atau
frasa yang berdiri di belakang preposisi itu harus merupakan maujud yang
bernyawa atau dianggap bernyawa. Perhatikan contoh berikut.
·
Ibu ke pasar dengan saya.
·
Dia merumuskan konsep itu dengan para
pembantunya.
f.
Keterangan Alat
Keterangan alat adalah
keterangan yang menyatakan ada tidaknya alat yang dipakai untuk melakukan suatu
perbuatan. Pengertian alat dalam hal itu tidak harus selalu dalam bentuk benda
konkret. Keterangan alat selalu berbentuk frasa preposisional dengan memakai
preposisi dengan atau tanpa. Perhatikan contoh berikut.
·
Kami biasanya pergi ke kantor naik bus.
·
Kita akan gagal tanpa bantuan mereka.
g.
Keterangan Pembandingan
Keterangan pembandingan
adalah keterangan yang menyatakan kesetaraan atau kemiripan suatu keadaan,
kejadian atau perrbuatan denagan keadaan, kajadian atau perbuatan yang lain.
Wujud keterangan itu selalu berbentuk frasa dengan preposisi seperti laksana,
seperti, atau sebagai. Perhatikan contoh berikut.
·
Tekatnya untuk merantau teguh laksana
gunung karang.
·
Berpikirlah seperti orang dewasa.
h.
Keterangan Sebab
Keterangan sebab adalah
keterangan yang menyatakan sebab atau alasan terjadinya suatu keadaan,
kejadian, atau perbuatan. Wujud keterangan itu selalu frasa dengan preposisi
karena, atau akibat. Perhatikan contoh berikut.
·
Banyak pemimpin dunia jatuh karena
wanita.
·
Gaji terasa kurang terus akibat
inflansi.
i.
Keterangan Kesalingan
Keterangan kesalingan
adalah keterangan yang menyatakan bahwa suatu perbuatan dilakukan secara
berbalasan.Wujud keterangan kesalingan, yakni satu sam alin atau saling adalah
tegar dan umumnya diletakkan di sebelah kiri verba atau di bagian akhir
kalimat. Perhatikan contoh berikut.
·
Kedua delegasi itu akan merundingkan
pemulihan hubungan diplomatik satu sama lain.
·
Ketua dan sekretaris orgnisasi itu
saling membenci satu sama lain.
2)
Nomina Vokatif
Nomina vokatif adalah
konstituen tambahan dalam ujaran berupa nomina atau frasa nominal yang
menyatakan orang yang disapa. Unsur vokatif itu bersifat manasuka, dan letaknya
dapat di awal, tengah, atau di akhir kalimat, seperti tampat pada contoh
berikut.
·
Mir, tolong belikan rokok.
·
Dan kamu, dani, jangan bermain saja.
Fungsi utama nomina
vokatif adalah minta perhatian orang yang disapa, terutama jika ada pendengar
lain.
3)
Aposisi
Kalimat tunggal dapat
pula diperluas dengan salah satu unsur kalimat (biaanya unsur nominal) yang
ada. Dua unsur kalimat disebut beraposisi dengan salah satu unsur kalimat
(biasanya unsur nominal) yang ada. Dua unsur kalimat disebut braposisi jika
kedua unsur itu sederajat dan mempunyai acuan yang sama atau, paling tidak,
salah satu mencakupi acuan unsur yang lainnya. Pada kalimat
·
Ir. Soekarno, presiden Indonesia
pertama, adalah tokoh pendiri gerakan non blok.
8.
PENGINGKARAN
Pengingkaran atau
negasi, yakni proses atau konstruksi yang mengungkapkan pertentangan isi makna
suatu kalimat, dilakukan dengan penambahan kata ingkar pada kalimat. Dalam
bahasa Indonesia terdapat empat kata ingkar: tidak (tak), bukan, jangan, dan
belum. Perhatikan contoh berikut.
·
Dia masuk hari ini.
·
Dia tidak masuk hari ini.
1)
Pengingkaran Kalimat
Pengingkaran Kalimat
dilakukan dengan menambahkan kata ingkar yang sesuai diawal frasa predikatnya.
Kata ingkar tidak ditempatkan pada awal
predikat yang tidak mengandung bentuk sudah atau telah pada kalimat berpredikat
(a)
Verbal, jenis deklaratif dan introgatif;
(b)
Adjektival, jenis deklaratif,
introgatif, dan eksklamatif;
(c)
Numeral taktentu, jenis deklaratif dan
introgatif.
Perhatikan contoh
berikut.
·
Tuti akan datang nanti.
·
Tuti tidak akan datang nanti.
2)
Pengingkaran Bagian Kalimat
Bagian kalimat tertentu
dapat diingkarkan dengan menempatkan kata ingkar yang sesuai di depan unsur
yang di ingkarkan itu. Salah satu jenis pengingkaran unsur kalimat adalah
pengingkaran pengontrasan. Kata ingkar yang digunakan untuk tujuan itu adalah
bukan, bukan ... melainkan ..., tidak ... tetapi.... Perhatikan contoh berikut.
·
Dia tiba bukan kemarin melainkan tadi
pagi.
·
Saya ingin minum, bukan makan.
3)
Lingkup Pengingkaran
Kata ingkar seperti
tidak mempunyai ruang lingkup pengingkaran yang berbeda-beda tergantung pada
ada tidaknya keterangan pada kalimat. Perhatikan contoh berikut.
·
Dia membunuh orang itu.
·
Dia tidak membunuh orang itu.
HUBUNGAN ANTAR KLAUSA
1.
PENDAHULUAN
Seperti sudah di
bicarakan dalam kalimat, sebuah kalimat
dapat mengandung satu klausa atau lebih.Pembicaraan ini menyangkut berbagai
hubungan yang terdapat antara satu klausa dengan klausa yang lain di dalam
kalimat majemuk setara atau bertingkat.
Hubungan antarklausa yang disebut di atas dapat ditandai
dengan kehadiran konjungtor (kata hubung) pada awal salah satu klausa tersebut.
Perhatikan contoh yang di bawah ini.
·
Pardi tinggal di daerah kumuh, dan
kakaknya tidak bisa membantunya.
·
Dia menyarankan kepada kami supaya kami
menunggu.
2.
HUBUNGAN KOORDINASI DAN SUBBORDINASI
Kalimat majemuk setara
maupun kalimat majemuk bertingkat mempunyai dua klausa atau yang saling
berhubungan. Ada dua cara untuk menghubungkan klausa dalam sebuah kalimat
majemuk, yaitu dengan koordinasi dan subordinasi.
a.
Hubungan Koordinasi
Koordinasi
menggabungkan dua klausa atau lebih yang masing-masing mempunyai kedudukanyang
asetara dalam struktur konstituen kalimat. Hasilnya adalah satuan yang sama
kedudukannya.
b.
Hubungan Subordinasi
Subordinasi
menggabungkan dua klausa atau lebih sehingga terbukti kalimat majemuk yang
salah satu klausanya menjadi bagian dari klausa yang lain. Jadi klausa-klausa
dalam kalimat majemuk yang disusun dengan cara subordinasi itu tidak mempunyai
kedudukan yang setara.Oleh karena itu, kalimat majemuk yang disusun dengan cara
subordinatif itu disebut kalimat majemuk bertingkat. Perhatikan contoh
penggabungan klausa dengan cara subordinatif berikut ini.
·
Orang tua itu mengatakan (sesuatu).
·
Anak gadisnya mancintai pemuda itu
sepenuh hati.
3.
CIRI-CIRI HUBUNGAN KOORDINASI DAN
SUBKOORDINASI
Ciri-ciri hungungan
koordinasi dan subkoordinasi secara eksplisit. Ciri ini akan lebih terlihat
dari segi sintaksis dan semantisnya dalam pembicaraan berikut.
A.
Ciri-ciri sintaksis hubungan koordinasi
Ada empat ciri hubungan
koordinasi.
a.
Hubungan koordinasi menggabungkan dua
klausa atau lebih, salah satu klausa yang dihubungkan oleh konjungtor dapat
berupa kalimat majemuk. Perhatikan contoh berikut.
·
Saya mengetahui kedatangannya, tetapi
tidak mengetaui tujuan dan maksud kedatangannya.
b.
Pada umumnya posisi kluasa yang
didahului oleh koordinator dan, atau, dan tetapi, tidak dapat diubah. Apabila
posisinya diubah, perubahan ini mengakibatkan munculnya kalimat majemuk setara
yang tidak berterima. Perhatikan contoh berikut.
·
Dalam pengungsian itu saya sering
melihat orang ditembak musuh dan mayatnya di buang begitu saja.
c.
Urutan klausa yang tetap dalam hubungan
koordinasi yang telah dibicarakan di atas berhubungan erat dengan
pronominalisasi. Acuan kataforis (pronomina yang mendahului nomina yang di
acunya) tidak diproleh dalam hubungan koordinatif. Perhatikan contoh kalimat
berikut.
·
Dia suka lagu keroncong, tetapi hasan
tidak mau membeli kaset itu.
B.
Ciri-ciri Sintaksis Hubungan Subordinasi
Ada tiga cirrrrri
sintaksis dalam hubungan subordinasf.
a.
Subordinasi menghubungkan dua klausa
yang salah diantaranya merupakan bagian dari klausa yang lain. Di samping itu,
salah satu klausa yang dihubungkan oleh konjungtor subordinatif dapat pula
berupa kalimat majemuk. Perhatikan kalimat berikut.
·
Ketua partai itu tetap menyatakan
kebanggaannya karena ternyata partainya masih dapat meraih hampir empat belas
juta suara pemilih setelah pemilih itu dihitung ulang.
b.
Pada umumnya posisi klausa yang diawali
oleh subordinator dapat berubah. Perhatikan kalimat berikut.
·
Kita jangan bertindak sebelum atasan
kita mengambil keputusan.
c.
Hubungan suberdinatif memungkinkan
adanya acuan kataforis. Dalam kalimat berikut ini pronomina dia dapat mengacu
pada nomina nama diri Hasan walaupun tidak harus demikian.
·
Walaupun dia suka lagu keroncong, Hasan
tidak mau membeli kaset itu.
C.
Ciri-ciri Semantis Hubungan Koordinasi
Klausa-klausa yang
digunakan oleh koordinator tidak menyatakan perbedaan tingkat pesan. Perhatikan contoh kalimat berikut.
·
Orang itu putus asa dan bunuh diri.
·
Pemuda itu bekerja keras dan berhasil.
D.
Ciri-ciri Semantis Hubungan Subordinasi
Ada dua cara semantis
pada hubungan subordinasi. Pertama, dalam hubungan subordinasi, klausa yang
mengikuti subordinator memuat informasi atau kenyataan yang di anggap skunder
oleh pemakai bahasa, sedangkan klausa yang lain memuat pesan utama kalimat
tersebut. Perhatikan contoh berikut.
·
Orang itu bunuh diri karena ia putus
asa.
4.
HUBUNGAN SEMANTIS ANTARKLAUSA DALAM
KALIMAT MAJEMUK SETARA
Klausa yang terdapat
dalam kalimat majemuk setara dihubungkan oleh koordinator seperti dan, serta,
lalu, kemudian, tetapi, padahal, dll.
Sepeti dinyatakan sebelumnya, hubungan semantis
antarklausa dalam kalimat majemuk setara ditenyukan oleh dua hal, yaitu arti
koodinator dan arti klausa-klausa yang di hubungkan. Perhatikan contoh kalimat
berikut ini.
·
Engkau harus menjadi orang kaya dan tetap rendah hati.
·
Engkau harus menjadi orang kaya, tetapi
tatap rendah hati.
Jika
dilihat dari segi arti koordinasinya, hubungan semantis antarklausa dalam
kalimat majemuk setara ada tiga macam: (a) hubungan penjumlahan, (b) hubungan
perlawanan, (c) hubungangan pemilihan. Tiap hubungan itu berkaitan erat dengan
koordinatornya.
a.
Hubungan Penjumlahan
Yang dimaksud dengan
hubungan penjumlahan ialah hubungan yang menyatakan penjumlahan atau gabungan
kegiatan, keadaan, peristiwa, atau proses. Jika perhatika kontes nya, hubungan
penjumlahan dapat menyatakan (1) sebab-akibat, (2) urutan waktu, (3)
pertentangan, atau perluasan.
a)
Penjumlahan yang Menyatakan Sebab-Akibat
Dalam hubungan seperti
ini, klausa kedua merupakan akibat dari klausa pertama.Perhatikan contoh
berikut.
·
Paa hari yang naas itu, gempa
menggoncang bumi dan rumah-rumah jadi berantakan.
b)
Penjumlahan yang Menyatakan Urutan Waktu
Klausa kedua merupakan
urutan dari peristiwa yang terjadi pada klausa pertama. Koordinator yang
dipakai adalah dan, kemudian, dan lalu. Parhatikan contoh berikut.
·
Ibu hanya mengangguk-angguk dan air
matanya terus mengalir.
c)
Penjumlahan yang Menyatakan Pertentangan
Klausa kedua merupakan
sesuatu yang bertentangan dengan apa yang dinyatakan dalam klausa pertama.
Koordinar yang dapat dipakai adalah, misalnya, sedangkan dan padahal.
Perhatikan contoh berikut.
·
Ia selalu makan yang enak-enak,
sedangkan anak dan istrinya kelaparan
·
Para tamu sudah mulai datang, sedangkan
kami belum siap.
b.
Hubungan Perlawanan
Yang dimaksud hubungan
perlawanan ialah hubungan yang menyatakan bahwa apa yang dinyatakan dalam
klausa pertama berlawanan, atau tidak sama, dengan apa yang dinyatakan dalam
klausa kedua.
Hubungan perlawanan itu dapat dibedakan atas hubungan
yang menyatakan (1) penguatan, (2) implikasi, (3) perluasan.
a)
Perlawanan yang Menyatakan Penguatan
Klausa kedua memuat
informasi yang menguatkan dan menandaskan informasi yang dinyatakan dalam
klausa yang pertama. Pada klausa pertama terdapat tidak/bukan dan dalam klausa
kedua terdapat tetapi/melainkan juga. Perhatikan contoh berikut.
·
Masalah kemiskinan tidak hanya masalah
nasional, tetapi juga masalah kemanusiaan.
b)
Perlawanan yang Menyatakan Implikasi
Klausa kedua merupakan
sesuatu yang merupakan perlawanan terhadap implikasi klausa pertama.
Koordinator yang umumnya dipakai adalah tetapi. Perhatikan contoh berikut.
·
Adikku belum bersekolah, tetapi dia
sudah bisa membaca.
c)
Perlawanan yang Menyatakan Perluasaan
Berlainan dengan
hubungan yang menyatakan hubungan perluasan pada kalimat majemuk setara yang memakai dan, hubungan yang memakai
perluasan tetapi menyatakan bahwa informasi yang terkandung dalam klausa kedua
merupakan informasi tambahan untuk melengkapi apa yang dinyatakan oleh klausa
pertama, dan kadang-kadang malah memperlemahnya. Perhatikan contoh berikut.
·
Adat dipertahankan agar tidak berubah,
tapi unsur-unsur dari luar yang dianggap baik perlu dimasukkan.
c.
Hubungan Pemilihan
Yang dimaksud dengan
hubungan pemilihan adalah hubungan yang menyatakan pilihan diantara dua
kemungkinan atau lebih yang dinyatakan oleh klausa-klausa yang dihubungkan.
Koordinato yang di pakai adalah atau. Perhatikan contoh berikut
·
Dalam keadaan seperti itu dia terpaksa
membunuh musuh atau dibunuh musuh.
5.
HUBUNGAN SEMANTIS ANTARKLAUSA DALAM
KALIMAT MAJEMUK BERTINGKAT
Seperti halnya dengan
kalimat majemuk setara, hubungan semantis antarklausa dalam kalimat majemuk
bertingkat juga ditentukan oleh macam koordinator yang di pakai dan makna
leksikal dari kata atau frasa dalam klausa masing-massing. Perhatikan hubungan
semantis kedua klausa contoh-contoh berikut.
a.
Hubungan Waktu
Klausa subordinatif ini
menyatakan waktu terjadinya peristiwa atau keadaan yang dinyatakan dalam klausa
utama. Hubungan waktu dapat dibedakan menjadi:
a)
Hubungan Batas Permulaan
Untuk menentukan batas
waktu permulaan, dipakai subordinator seperti sejak dan sedari. Perhatikan
contoh berikut.
·
Sedari saya masih di SD, saya suka
pelajaran bahasa.
b)
Waktu Bersamaan
Hubungan waktu
bersamaan menunjukkan bahwa peristiwa atau keadaan yang dinyatakan dalam klausa
utama dan klausa suberdinatif terjadi secara bersamaan atau hampir bersamaan.
Subordinator yang dipakai adalah (se) waktu, ketika ddl. Perhatikan contoh
berikut.
·
Begitu dia datang, dia memelukku serta
mencium pipiku.
c)
Waktu Berurutan
Hubungan waktu
berurutan menunjukkan bahwa yang
dinyatakan dalam klausa utama lebih dahulu atau lebih kemudian daripada yang
dinyatakan dalam klausa sobordinatif. Subordinator yang bisa dipakai adalah
sebelum, setelah dll. Perhatikan contoh berikut.
·
Ia baru kembali ke desa setelah biaya
untuk melanjutkan kuliahnya tidak ada.
d)
Waktu Batas Akhir
Hubungan batas waktu
akhir dipakai untuk menyatakan ujung suatu proses, dan subordinator yang di
paki adalah sampai dan hingga. Perhatikan contoh berikut.
·
Gotong royong itu berjalan dengan lancar
sampai kami menyelesaikan sekolah.
b.
Hubungan Syarat
Hubungan syarat
terdapat dalam kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan syarat
terlaksananya apa yang disebut dalam klausa utama. Subordinator yang lazim
dipakai adalah jika(lau), kalau, dan asal(kan). Perhatikan contoh berikut.
·
Jika anda mau mendengarkannya, saya
tentu senang sekali menceritakannya.
c.
Hubungan Pengandaian
Hubungan pengandaian
terdapat dalam kalimat majemuk yang klausa subordinatifnya menyatakan suatu
tujuan atau harapan dari apa yang disebut dalam klausa utama. Subordinator yang
bisa dipakai adalah agar, supaya, untuk dan biar. Perhatikan contoh berikut.
·
Saya sengaja tinggal di kota kecil agar
dapat mengetahui kehidupan di sana.
d.
Hubungan Tujuan
Hubungan tujuan
terdapat dalam kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan suatu tujuan atau
harapan dari apa yang disebut dalam klausa utama. Subordinator yang biasa
dipakai adalah agar, supaya, untuk, dan biar. Perhatikan contoh berikut.
·
Kami pergi biar dia bisa berbuat
sesukanya.
e.
Hubungan Konsesif
Hubungan konsesif
terdapat dalam kalimat majemuk yang klausa subordinatifnya mengandung
pernyataan yang tidak akan merubah apa yang dinyatakan dalam klausa utama.
Subordinator yang biasa dipakai adalah walau(pun), meski(pun) dll. Perhatikan
contoh berikut.
·
Dia akan pergi sekalipun kami mencoba
menahannya.
f.
Hubungan Pembandingan
Hubungan pembandingan
terdapat dalam kalimat majemuk yang klausa subordinatifnya menyatakan
pembandingan. Subordinator yang biasa digunakan adalah seperti, bagaikan, dll.
Perhatikan contoh berikut.
·
Saya akan menolongmu sebagaimana ayahmu
yang telah menolong keluargaku.
g.
Hubungan Penyebab
Hubungan penyebab
terdapat dalam kalimat yang hubungan subordinatifnya menyatakan sebab atau
alasan terjadinya apa yang dinyatakan dalam klausa utama. Subordinator yang
biasa digunakan adalah sebab, karena akibat, dan oleh karena. Perhatikan contoh
berikut.
·
Keadaan menjadi genting lagi karena
musuh akan melancarkan lagi aksinya di bandung.
h.
Hubungan Hasil
Hubungan hasil terdapat
dalam kalimat majemuk yang klausa subordinatifnya menyatakan hasil atau
akibatdari apa yang dinyatakan dalam klausa utama. Subordinator yang digunakan
adalah sehingga, sampai, dan maka. Perhatikan contoh berikut.
·
Kami tidak setuju, maka kami pun protes.
i.
Hubungan Cara
Hubungan cara terdapat
dalam kalimat yang subordinatifnya menyatakan cara pelaksanaan dari apa yang
dinyatakan oleh klausa utama. Subordinator yang digunakan adalah dengan dan
tanpa. Perhatikan contoh berikut.
·
Elly Pical mencoba bertahan dengan
menghindar.
j.
Hubungan Alat
Hubungan alat terdapat
pada kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan alat yang dinyatakan oleh
klausa utama. Subordinator yang dipakai adalah dengan dan tanpa. Perhatikan
contoh berikut.
·
Dia menangkap ikan dengan mempergunakan
kail.
k.
Hubungan Komplementasi
Dalam hubungan
komplementasi, klausa subordinatif melengkapi apa yang dinyatakan oleh verba
klausa utama, atau nomina subjek, baik dinyatakan maupun tidak. Subordinator
yang digunakan adalah bahwa. Perhatikan contoh berikut.
·
Penulis perlu menekankan di sini bahwa
isi bukunya berjumlah sempurna.
l.
Hubungan Atributif
Hubungan atributif
ditandai oleh subordinator yang.
a)
Hubungan Atributif Restriktif
Dalam hubungan seperti
ini, klausa relatif mewatasi makna dari nomina yang diterangkannya. Perhatikan
contoh berikut.
·
Pamannya yang tinggal di bogor meninggal
kemarin.
b)
Hubungan Atributif Takresriktif
Klausa subordinatif
yang takresriktif hanyalah memberikan sekadar tambahan informasi pada nomina
yang diterangkannya.
·
Istri saya yang tinggal di bogor
meninggal kemarin.
m.
Hubungan Perbandingan
Hubungan perbandingan
terdapat dalam kalimat majemuk bertingkat yang klausa subordinatif dan klausa
utamanya menpunyai unsur yang sama yang tarafnya sama (ekuatif) atau berbeda
(komparatif).
a)
Hubungan Ekuatif
Hubungan ekuatif muncul
bila hal atau unsur pada klausa subordinatif dan klausa utama yang
diperbandingkan sama tarafnya. Perhatikan contoh berikut.
·
Rumah ini sama tua dengan saya (tua).
·
Rumah ini setua saya.
b)
Hubungan Kompratif
Hubungan kompratif
muncul bila ha latau unsur pada klausa subordinatif dan klausa utama yang
diperbandingkan berbeda tarafnya. Perhatikan contoh berikut.
·
Pembantu saya lebih senang menonton film
india daripada film barat.
n.
Hubungan Opratif
Hubungan operatif
terdapat dalam kalimat majemuk bertingkatyang klausa utamanya menyatakan
harapan agara apa yang dinyatakan dalam kalimat subordinatif dapat terjadi.
Perhatika contoh berikut.
·
Kita berdoa semoga kemalangan ini cepat
berakhir.
6.
PELEPASAN
Penggabungan dua klausa
baik secara subordinatif maupun secara koordinatif dapat mengakibatkan
terdapatnya dua unsur yang sama dalam satu kalimat. Salah satu alat sintaksis
untuk mengurangi taraf redundansi itu adalah pelepasan atau elipsis, yaitu
penghilangan unsur tertentu dari satu kalimat. Perhatikan conroh berikut.
·
Ayahnya datang ke pesta itu, tetapi
ibunya tidak (datang ke pesta itu).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar