Rabu, 27 April 2016

Ringkasan Kalimat Terlengkap



RINGKASAN






Disusun Oleh :

Siner Gaya
1411070022
Sintaksis





FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH
BANDA ACEH
2016


KALIMAT




1.      BATASAN DAN CIRI-CIRI KALIMAT

Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam bentuk lisan atau tulisan,yang mengungkapkan pikiran yang utuh.Kalimat diucapkan dengan suara naik turun dan keras lembut,kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titi (.), tanda tanya (?), atau tanda seru (!),sedangkan didalamnya disertakan juga berbagai tanda baca seperti koma (,), titik dua (:), tanda pisah (-), dan spasi.

2.      BAGIAN-BAGIAN KALIMAT

Dilihat dari segi bentuknya, kalimat dapat dirumuskan sebagai konstruksi sintaksis paling besar yang terdiri atas dua kata atau lebih.
Ada kelompok kata yang dapat dihilangkan dengan menghasilkan bentuk yang tetap berupa kalimat kalimat seperti pada (1b), dan ada pula yang tidak seperti (2b). Antara kalimat dan kata terdapat dua satuan sintaksis antara, yaitu: 
Klausa merupakan satuan sintaksis yang terdiri atas dua kata, atau lebih, yang mengandung unsur predikasi sedangkan Frasa adalah satuan sintaksis yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak mengandung unsur predikasi.

(1)   a. Ibu pergi ke pasar.
b. Ibu pergi.

(2)   a. Masalah itu menyangkut masa depan kita.
b. Masalah itu menyangkut.

A.    Kalimat dan Klausa

Kalimat dalam banyak hal tidak berbeda dari klausa.Baik kalimat mupun klausa merupakan konstruksi sintaksis yang mengandung unsur predikasi.Dilihat dari segi struktur internalnya, kalimat dan klausa keduanya terdiri atas unsur predikat dan subjek dengan atau tanpa objek,pelengkap atau keterangan.
B.     Konstituen Kalimat

Kalimat merupakan konstuksi sintaksis terbesar yang terdiri atas dua kata atau lebih.
Ini berarti bahwa kalimat merupakan satuan terbesar untuk pemerian sintaksis dan kata yang terkecil.
Aalisis struktural suatu kalimat pada dasarnya adalah menetapkan pola hubungan konstituennya yang memperlihatkan secara lengkap hierarki konstituen-konstituen kalimat itu.Salah satu cara untuk menyatakan struktur konstituen kalimat dengan menggunakan diagram.


C.     Unsur Wajib dan Unsur Takwajib

Kalimat minimal terdiri atas unsur predikat dan unsur subjek. Kedua unsur kalimat itu merupakan unsur yang kehadirannya selalu wajib. Di samping kedua unsur itu, dalam suatu kalimat kadang-kadang ada kata atau kelompok kata yang dapat dihilangkan tanpa mempengaruhi status bagian yang tersisa sebagai kalimat, tetapi da pula yang tidak. Hal ini akan lebih jelas kalau kita memperhatikan contoh di bawah ini:
Ø  Barangkali mereka menghadiri pertemuan itu kemarin sore.
Kalimat itu terdiri atas lima konstituen: (i) barangkali, (ii) mereka, (iii) menghadiri, (iv) pertemuan itu, dan (v) kemarin sore. Dari kelima konstituen itu, hanya barangkali dan kemarin sore yang dapat dihilangkan tanpa mempengaruhi status bagian yang tersisa sebagai kalimat, sedangkan yang lain tidak.


D.    Keserasian Unsur-Unsur Kalimat

Penggabungan dua kata, atau lebih, dalam satu kalimat menuntut adanya keserasian diantara unsur-unsur tersebut baik dari segi makna maupun dari segi bentuk. Berdasarkan hal itu, keseraian unsur-unsur kalimat berikut ini akan dikemukakan dari kedua segi tersebut, yakni keserasian makna dan keserasian bentuk.
a)      Keserasian Makna
Pada dasarnya orang membuat kalimat berdasarkan pengetahuannya tentang dunia di sekelilingnya sehingga mustahillah rasanya kita temukan kalimat seperti

Ø  Batu itu memukul anjing kami.
Ø  Kuda kami merokok lima butir jeruk.

b)      Keserasian Bentuk
Selain menuntut adanya keserasian makna, bahasa Indonesia, seperti halnya dengan kebanyakan bahasa di dunia ini, menuntut adanya keserasian bentuk di antara unsur-unsur kalimat, khususnya antara nomina dan pronomina dan dalam batas tertentu, antara nomina dan verba.
Ø  Pelamar banyak, tetapi mereka tidak memenuhi syarat.
Ø  Pelamar banyak tetapi dia tidak memenuhi syarat.

3.      STRUKTUR KALIMAT DASAR

Yang dimaksud dengan kalimat dasar adalah  kalimat yang, (i) terdiri atas satu klausa, (ii) unsur-unsurnya lengkap, (iii) susunan unsur-unsurnya menurut urutan yang paling umum, dan (iv) tidak mengnadung pertanyaan atau pengingkaran.
A.Bentuk, Kategori, Fungsi, dan Peran
Terdapat kategori kata,antara lain, kategori seperti berikut.
a.       Verba (V)                                b. Preposisi (Prep)
Adjektifa (Adj)                           Konjungtor (Konj)
Adverbia (Adf)                           Interjeksi (Interj)
Nomina (N)                                 Partikel (Part)
Ada juga kategori frasa, yaitu
a.       Frasa Nominal (FN)                  b. Frasa Preposional (FRep)
Frasa Verbal (FV)
Frasa Adjektival (FAdj)
Frasa Adverbal (FAdv)

B. Pola Kalimat Dasar
Lima fungsi sintaksis yang digunakan untuk pemerian kalimat, dalam suatu kalimat tidak selalu kelima fungsi sintaksis itu terisi, tetapi paling tidak harus ada konstituen pengisi subjek dan predikat, kehadiran kenstituen lainnya banyak ditentukan oleh kenstituen pengisi predikat.

Perhatikan contoh berikut.
Ø  Dia (S) tidur (P) di kamar depan (ket).
Ø  Mereka (S) sedang belajar (P) bahasa inggris (pel) sekarang (ket).


Pola-Pola Kalimat Dasar
Kenyataan lainnya yang akan tampak kalau kita mengamati suatu teks adalah bahwa banyak kalimat yang predikatnya mendahului subjek kalimat. Kalimat-kalimat demikian pada umumnya dapat diubah susunannya sehingga berpola S-P. Kalimat (majemuk) tidak banyak (P) manusia yang mampu tinggal dalam kesendirian (S) dapat diubah menjadi manusia yang mampu tinggal dalam kesendirian (S) tidak banyan (P). Berdasarkan pertimbangan diatas, pola umum kalimat dasar dalam bahasa indonesia dapat dinyatakan seperti:
Ø  S+P+(O)+(pel)+(ket)
Apabila konstituen kalimat dasar yang tidak wajib hadir diabaikan, dari pola umum (29) itu dapat diturukkan 6 tipe dasar kalimat.

C.Kalimat Dasar dan Konstituennya
Memperlihatkan secara jelas hubungan struktural unsur kalimat. Akan tetapi, kalau diperhatikan kelima tipe kalimat yang terakhir, akan tampak bahwa kehadiran objek, pelengkap, atau keterangan wajib itu sangat ditentukan oleh bentuk dan jenis verba predikat. Verba menjadi pada Dia menjadi ketua koperasi termasuk tipe S-P-pel, sedangkan verba tinggal pada Kami tinggal di jakarta termasuk tipe S-P-ket, walaupun kedua verba itu termasuk verba tak transitif.
Dri uraian di atas tampek baahwa verba predikat dalam bahasa Indonesia mempunyai peranan yang dominan karena menentukan kehadiran konstituen lain dalma kalimat. Perhatikan contoh berikut.
Ø  Ayah membeli baju (S-P-O)
Ø  Ayah membelikan adik saya baju baru (S-P-O-pel)






D.Pola Kalimat Topik-Komen


Sabagai susunan kalimat yang terdiri atas dua bagian, yakni topik dan koment. Jadi, dalam kalimat seperti Orang itu menyerahkan sebuah bingkisan Frasa Orang itu adalah topik sedangkan menyerahkan sebuah bingkisan adalah Koment. Pola itu terdiri atas topik yang merukan pokok pembicaraan, dan koment yang memberi penjelasan terhadap pokok tersebut. Topik merupakan hal yang dianggap diketahui oleh pendengar/pembaca sedangkan Koment adalah ikhwal yang menjelaskan tentang topik tersebut.
            Dalam baha Indonesia pola ini dapt pula diwujudkan dalam kalimat seperti berikut:
a.       Rumah kami, atapnya bocor.
b.      Orang itu, ayahnya bekerja di pabrik.


4.      FUNGSI SINTAKSIS UNSUR-UNSUR KALIMAT

Dalam kenyataan pemakain bahasa, banyak kalimat yang urutan unsurnya menyimpang dari pola urutan di atas. Untuk dapat mengetahui fungsi unsur kalimat, kita perlu mengenal ciri umum tiap-tiap fungsi sintaksis itu. Di bawah ini berturut-turut akan dibicarakan fungsi predikat, subjek, objek, pelengkap, dan keterangan.

A.    Fungsi Predikat

Predikan merupakan konstituen pokok Yang disertai konstituen subjek disebelah kiri, jika ada, konstituen objek, pelengkap, dan/atau keterangan wajib di sebelah kanan. Predikat kalimat biasanya berupa frasa verbal atau frasa adjektival. Pada kalimat yang berpola S-P, predikat dapat pula berupa frasa nominal, frasa numeral, atau frasa preposisional, disamping frasa verbal dan frasa adjektival. Perhatikan contoh berikut. (Mengenai predikat frasa preposisional:)

a.       Ayahnya guru bahasa Inggais (P-FN)
b.      Adiknya dua (P-Fnum)
Unsur predikat pada kalimat mempunyai pola intonasi menurun, yaitu (2) 3 1 pada pola S-P dan (2) 3 2 pada pola P-S. Perhatikan contoh berikut.
a.       i. Pencurunya dia.
ii. Anak itu teman tono.
2-  23  / 2 – 31 #


B.     Fungsi Subjek

Subjek merupakan fungsi sintaksis terpenting yang kedua setelah predikat. Pada umumnya subjek berupa nomina, frasa nominal, atau klausa seperti tampak pada contoh berikut.
a.       Harimau binatang liar.
b.      Anak itu belum makan.
c.       Yang tidak ikut upacara akan ditindak.


C.     Fungsi Objek

Objek adalah konstituen kalimat yang kehadirannya dituntut oleh predikat yang berupa verba transitif pada kalimat aktif. Letaknya selalu setelah langsung predikatnya. Dengan demikian, objek dapat dikenali dengan memperhatikan (1) jenis predikat yang dilengkapinya dan (2) ciri khas objek itu sendiri verba transitif biasanya ditandai oleh kehadiran afiks tertentu suffiks-kan dan-i serta prefiks meng- umumnya merupakan pembentuk verba transitif. Pada contoh berikut louk merupakan objek yang dapat dikenal dengan mudah oleh kehadiran verba transitif bersufiks-kan: menundukkan.
a.       Morten menundukkan louk.

D.    Fungsi Pelengkap

Orang sering mencampuradukkan pengertian objek dan pelengkap. Hal itu dapat dimengerti karena antara kedua konsep itu memang terdapat kemiripan. Baik objek maupun pelengkap sering berwujud nominal, dan keduanya juga sering menduduki tempat yang sama, yakni dibelakang verba. Perhatikan kedua kalimat yang berikut.
a.       Dia mendagangkan barang-barang elektronik di Glodok.
b.      Dia berdagang barang-barang elektronik di Glodok.

E.     Fungsi Keterangan

Keterangan merupakan fungsi sintaksis yang paling beragam dan paling mudah berpindah letaknya. Keterangan dapat berada di akhir, di awal, dan bahkan di tengah kalimat. Pada umumnya, kehadiran ketengan dalam kalimat manasuka. Konstituen keteranagan biasanya berupa frasa nominal, frasa preposisisonal, atau adverbial. Perhatikan contoh berikut.
a.       Dia memotong rambutnya.
b.       Dia memotong rambutnya di kamar.

F.      Interpresetasi Ganda

Dalam bahasa Indonesia terdapat kenstuksi kalimat fungsi konstituennya dapat mempunyai tafsiran yang berbeda. Di bawah ini akn dibicarakan dua macam kontruksi kalimat, yaitu kalimat yang prediakatnya berupa frasa preposissional dan kalimat yang subjeknya frasa verbal.
a.       Frasa Propeposisional Sebagai Predikat
Telah ditemukan bahwa frasa preposisional dapat berfungsi sebagai predikat kalimat. Perhatikan contoh berikut.
Ø  Ibu pergi ke pasar.
Ø  Ayah di kamar

b.      FrasaVerbal Sebagai Subjek
Frasa verbal dapat menduduki posisi subjek kalimat. Perhatikan contoh berikut.
Ø  Membangun gedung bertingkat mahal sekali.
Ø  Mengumpulkan dana dari rumah ke rumah di larang.


5.      PERAN SEMANTIS UNSUR

Pada dasarnya kalimat memerikan suatu peristirwa atau kadaan yang melibatkan suatu peserta, atau lebih dengan semantis yang bebeda-beda. Peserta itu dinyatakan dengan nomina atu frasa nominal dengan demikian, ada kalimat

Ø   Ida memberi hadiah kepada ibunya.
Berikut akan di dibicarakan peran semantis:
Pelaku, sasaran, pengalam, peruntung, dan atribut.
A.    Pelaku
Pelaku adalah peserta yang melakukan perbuatan yang ditanyakan oleh verba predikat peserta umumnya manusia atau binatang. Akan tetapi, benda yang potensial juga dapat berlaku sebagai pelaku. Peran pelaku itu merupakan peran semantis utama subjek kalimat aktif dan pelengkap kalimat pasif. Perhatikan contoh berikut.
·         Anak itu sedang membaca koran.
·         Kucing saya selalu tdur di kursi.

B.     Sasaran
Yang dinyatakan oleh verba predikat peran sasaran itu merupakan peran utama objek atau pelengkap seperti terlihat pada contoh berikut.
·         Dia mengirim uang kepada ibunya.
·         Kami mendengarkan pidato presiden.

C.     Pengalaman
Pengalaman adalah peserta yang mengalami peristiwa yang dinyatakan predikat. Peran pengalam merupakan peran unsur subjek yang predikatnya adjektival atau verba takteransitif yang lebih menyatakan keadaan seperti pada contoh berikut.
·         Adik saya sakit hari ini.
·         Mereka kehujanan di jalan.

D.    Peruntung
Peruntung adalah peserta yang beruntung dan yang memproleh manfaat dari keadaan, peristiwa atau perbuatan yang dinyatakan oleh predikat partisipan peruntung biasanya berfungsi sebagai objek, atau pelengkap, atau sebagai subjek verbal jenis menerima atu mempunyai. Perhatikan contoh berikut.
·         Ayah memberi uang kepada saya.
·         Ibu membelikan tuti kalung.


E.     Atribut
Dalam kalimat yang predikatnya nominal, predikat mempunyai prasemantis atribut. Perhatikan guru saya dan ibunya pada contoh berikut.
·         Orang itu guru saya.
·         Wanita itu ibunya.

F.      Peran Semantis Keterangan
Disamping kelima peran tersebut di atas, ada peran semantis lain yang terdapat pada fungsi keterangan, seperti keterangan waktu, keterangan tempat, keterangan alat, dan keterangan sumber. Peran semantis itu pada dasarnya sesuai dengan sifat kodrati dan nomina yang ada pada keterangan tersebut. Perhatikan contoh berbagai peran semantis berikut ini yang dinyatakan oleh unsur yang berfungsi sintaksis keterangan.

a)      Peran Semantis Waktu:
·         Mereka pindah tahun 1998.
b)      Peran Semantis Tempat:
·         Kami tinggal di jakarta.
c)      Peran Semantis Alat:
·         Mereka membuka pintu itu dengan kunci palsu.
d)     Peran Semantis Sumber:
·         Kursi itu terbuat dari ban mobil.


6.      JENIS-JENIS KALIMAT

Jenis kalimat dapat ditinjau dari sudut (a) jumlah klausanaya,(b) bentuk sintaksisnya, (c) kelengkapan unsurnya, dan (d) susunan subjek dan predikatnya.

A.    Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa.Contohnya seperti berikut:
·         Dia akan pergi.
·         Kami mahasiswa admajaya.

1)      Kalimat berpredikat verbal
Ada bermacam-macam verba yang masing-masing mempengaruhi macam kalimat yang menggunakannya. Kita ingat adanya verba taktransitif, verba semitransitif, verba transitif dibagi lagi menjadi ekatransitif (atau monotransitif) dan dwitransitif. Berokut adalah pembahsan untuk  tipe tipe kalimat di atas.

a)      Kalimat taktransitif
Kalimat yang tak berobjek dan tak berpelekapan hanya memiliki dua unsur fungsi wajib,yakni subjek dan predikat.pada umumnya,urutan katanya adalah subjek- predikat.


a)      Kalimat ekatransitif
Predikat dalam kalimat ekatransitif verba yang dalam bab IV digolongkan dalaam kelompok ekatramsitif.karena itu, kalimat macam itu disebut pula kalimet ekatransitif. Dari segi makna,semua verba ekatransitif memiliki makna inheren perbuatan.berikut ini adalah beberapa contoh kalimat ekatransitif.
·         pemerintah akan memasuk semua kebutuhan lebaran.
·         .presiden merestui pembentukan panitia pemilihan umum.


b)      Kalimat Dwitransitif
verba transitif dalam bahasa indonesia yang secara semantis mengukapkan hubungan tiga maujud.dalam bentuk aktif,maujud ini masing –masing merupakan subjek,objek,dan pelengkap.verba itu dinamakan verba dwitransitif.perhatikan kalimat yang berikut.
·         Ida sedang mencarikan pekerjaan.
·         Ida sedang mencari pekerjaan.
Dari kalimat kita ketahui bahwa yang memerlukan pekerjaan adalah ida dengan di tambahkannya sufiks –kan pada verba dalam kalimat kita rasakan ada perbedaan makna:yang melakukan perbuatan “mencari” memang ida,tetapi pekerjaan itu bukan untuk dia sendiri –meskipun tidak disebut siapa orangnya pada kalimat orang itu secara eksplisit di sebutkan, yakni adiknya. Pada kalimat kita lihat bahwa ada dua nomina yang terleak di belakang verba predikat.sebaiknya pelekap dalam kalimat dwitransitif itu berdiri di belakang objek jika objek itu ada. Bandingkan kedua kalimat berikut.
·         Ida sedang mencarikan adiknya pekerjaan.
d )kalimat pasif
pengertian aktif dan pasif dalam kalimat meyangkut beberapa hal:macam verba yang menjadi predikat,sabjek, dan objek,dan bentuk verba yang di pakai.perhatikan kalimat yang berikut.
·         Pak tona mengangkat asisten baru.
·         Ibu gubenur akan membuka pameran itu.
Jigka guna simbul S untuk subjek,P untuk predikat,dan O untuk objek,maka kaidah umum untuk pembentukan kalimat pasif dari kalimat aktif dalam bahasa indonesia adalah sebagai berikut.
a)      Cara pertama
·         Pertukarkanlah S dengan O.
·         Gantilah prefiks meng-dengan di-pada P.
·         Tambahkan kata oleh di mukak unsur yang tadinya S.
b)      Cara kedua
Seperti setelah disinggung di atas,padanan pasifdari kalimat aktif transitif yang subjeknya berupa pronomina di bentuk dengan  cara kedua. Adapun kaidah pembentukan kalimat pasif cara kedua itu adalah sebagai berikut.
·         Pindahkan O ke awal kalimat.
·         Tanggalkan prefiks meng-pada P
·         Pindahkan S ke tempat  yang tepat sebelum verba.
b)      Kalimat Berpredikat Adjektival
Predikat kalimat dalam bahasa indonesia dapat pula berupa adjektival seperti terlihat pada contoh berikut.
·         Ayah sakit.
·         Peryataan orang itu benar.

c)      Kalimat Berpredikat Nominal
Dalam bahsa indonesia ada macam kalimat yang predikatnya terdiri atas nomina (termasuk pronomina)atau frasa nominal. Dengan demikian, kedua nomina atau frasa nominal yang dijejerkan dapat membentuk kalimat asalkan syarat untuk subjek dan predikatnya terpenuhi.syarat kedua itu saat penting karena jika tidak di penuhi, maka jejeran nomina tadi tidak akan membentuk kalimat. Perhatikan contoh yang berikut.
·         Buku cetakan bandung itu.
·         Buku ini cetakan bandung



4)      Kalimat Berpredikat Numeral



Selain macam –macam kalimat yang predikatnya berupa frasa verbal,adjektifal,dan nominal yang telah di bicarakan di atas, ada pula kalimat dalam bahasa Indonesia yang predikatnya frasa numeral, seperti tampak pada contoh berikut.
·         Anaknya banyak.
·         Uangnya hanya sedikit.


5)      Kalimat Berpredikat Frasa Preposisional
Predikat kalimat dalam bahasa indonesia dapat pula berupa frasa preposisional. Perhatikan contoh berikut.
·         Ibu sedang ke pasar.
·         Mereka ke rumah kemarin.


B.     Kalimat Dilihat Dari Bentuk Sintaksis
Pada bagian awal telah dekemukakan bahwa kalimat, jika dilihat dari bentuk sintaksisnya, dapat dibagi atas, (1) kalimat deklaratif, (2) kalimat introgatif, (3) kalimat impratif, (4) kalimat eksklamatif.

1)      Kalimat Deklaratif
Kalimat deklaratif, yang juga dikenal dengan nama kalimat berita dalam buku-buku tata bahasa Indonesia, secara formal, jika dibandingkan dengan tiga jeniskalimat yang lainnya, tidak bermarkah khusus. Dalam pemakaian bahasa bentuk kalimat deklaratif umumnya digunakan oleh pembicara/penulis untuk membuat pernyataan sehingga isinya merupakan berita bagi pendengar atau pembacanya. Bermacam-macam bentuk kalimat deklaratif, antara lain, seperti berikut.
·         Tadi siang ada tabrakan mobil di dekat Monas.
·         Saya lihat ada bus masuk Ciliwung tadi pagi.

2)      Kalimat Imperatif
Kalimat imperatif dapat diwujudkan sebagai berikut.
Ø  Kalimat yang terdiri atas predikat verbal dasar atau adjektiva, ataupun frasa preposisional saja yang sifatnya taktransitif,
Ø  Kalimat lengkap yang berpredikat verbal taktransitif atau transitif, dan
Ø  Kalimat yang dimarkahi oleh berbagai kata tugas modalitas kalimat.

a)      Kalimat Impratif Taktransitif
Kalimat impratif taktransitif dibentuk dari kalimat deklaratif  (taktransitif) yang dapat berpredikat verba dasar, frasa adjektival, dan frasa verbal yang ber prefiks ber- atau meng- ataupun frasa preposisional.Perhatikan contoh berikut.
·         Engkau masuk.
·         Masuk!

b)      Kalimat Imperatif Transitif
Kalimat intratif yang berpredikat verba transitif mirip dengan konstruksi kalimat deklaratif pasif.Kalimat (a) berikut adalah kalimat berita sedangkan (b) kalimat perintah.
a.       Engkau mencari pekerjaan apa saja.
b.      Carilah pekerjaan apa saja!




c)      Kalimat Imperatif Halus
Disamping bentuk fasif yang baru saja dibicarakan, bahasa Indonesia juga memiliki sejumlah kata yang dipakai untuk menghaluskan isi kalimat imperatif. Kata seperti tolong, coba, silakan, dan sudilah, dan kiranya sering dipakai untuk maksud itu. Perhatikan contoh yang berikut.
·         Tolong kirimkan kontrak ini.
·         Tolong kontrak ini di kirim segera.


d)     Kalimat Imperatif Permintaan
Kalimat imperatif juga digunakan untuk kalimat permintaan. Kalimat seperti ditandai ole minta atau mohon. Subjek pelaku kalimat imperaktif permintaan ialah pembicara yang sering tidak dimunculkan. Perhatikan contoh berikut.
·         Minta perhatian, sudara-saudara!
·         Minta ampun!

e)      Kalimat Imperatif Ajakan dan Harapan
Di dalam kalimat imperatif, ajakan dan harapan tergolong kalimat yang biasanya didahului kata ayo(lah), mari(lah), harap dan hendaknya. Perhatikan contoh berikut.
·         Ayolah, masuk!
·         Ayo, cepat!

f)       Kalimat Imperatif Larangan
Kalimat imperatif dapat bersifat larangan karena adanya kata jangan(lah). Perhatikan contoh berikut.
·         Jangan (kamu) naik.
·         Jangan (kamu) marah.

3)      Kalimat Introgatif
Kalimat introgatif, yang juga dikenal dengan kalimat tanya, secara formal ditandai oleh kehadiran kata kata tanya seperti apa, siapa, berapa, kapan, dan bagaimana dengan atau tanpa partikel –kah sebagai penegas.Kalimat introgatif diakhiri dengan tanda tanya (?) pada bahasa tulis dan pada bahasa lisan dengan suara naik, terutama jika tidak ada kata tanya atau suara turun.Partikel –kah dapat ditambah pada partikel penanya itu untuk mempertegas pertanyaan itu.Intonasi yang dipakai hampir sama dengan berita. Perhatikan contoh berikut.
·         Dia istri pak Bambang.
·         Apa dia istri pak Bambang?

4)      Kalimat Eksklamatif
Kalimat eksklamatif, yang juga dikenal dengan kalimat seru, secara formal ditandai oleh kata alangkah, betapa atau bukan main pada kalimat.
            Cara pembentukan kalimat eksklamatif dari kalimat deklaratif mengikuti langkah berikut.
a.       Balikkan urutan unsur kalimat dari S-P menjadi P-S
b.      Tambahkan partikel –nya pada adjektiva P
c.       Tambahkan kata (seru) alangkah, bukan main, atau betapa du muka P jika dianggap perlu.
Dengan menerapkan kaidah di atas, kita dapat membuat kalimat eksklaratif dari kalimat deklaratif seperti pada contoh berikut.
·         Pergaulan mereka bebas.
·         Bebas pergaulan mereka.

C.     Kalimat Tarlengkap
Kalimat taklengkap pada dasarnya adalah kalimat yang tidak ada subjek dan/atau predikatnya. Hal itu biasa terjadi dalam wacana karen unsur yang tidak muncul ini sudah diketahui atau disebutkan sebelumnya. Perhatikan penggalan percakapan berikut.
·         Amir : Kamu tinggal dimana, Min?
·         Amin : Di Kampung Melayu.


D.    Kalimat Inversi
Urutan fungsi dalam bahasa Indonesia boleh dikatakan mengikuti pola: (a) subjek, (b) predikat, (c) objek (jika ada), dan (d) pelengkap (jika ada). Akan tetapi ada satu pola kalimat dalam bahasa Indonesia yang predikatnya selalu mendahului subjek. Perhatikan contoh berikut.

·         Ada tamu, Pak.
·         Ada kabar bahwa dia telah meninggal.


7.      PERLUASAN KALIMAT TUNGGAL
Perluasan kalimat tunggal itu dapat dilakukan dengan penambahan (1) unsur keterangan, (2) unsur vokatif, dan konstruksi aposisi.
1)      Keterangan
Pada umumnya kehadiran keterangan dalam kalimat tidak wajib sehingga keterangan diperlakukan sebagai unsur takwajib dalam arti bahwa tanpa keteranganpun kalimat telah mempunyai makna mandiri. Perhatikan contoh berikut.
·         Mereka membuang binatang buas itu.
·         Mereka membunuh binatang buas itu di pinggir jalan.
Keterangan dibedakan sembilan macam yakni keterangan (1) waktu, (2) tempat, (3) tujuan, (4) cara, (5) penyerta, (6) alat, (7) pembandingan, (8) sebab, (9) kesalingan.
a.       Keterangan Waktu
Keterangan waktu memberikan informasi saat terjadinya suatu peristiwa. Fungsi keterangan itu ialah (a) kata tunggal, (b) frasa nominal, (c) frasa preposisional.Keterangan waktu yang berbentuk frasa nominal dapat berupa pengulangan kata seperti pagi-pagi,malam-malam atau macam gabungan yang lain seperti sebentar lagi. Perhatikan contoh berikut.
·         Pemerintah mengumumkan desentralisasi itu kemarin.
·         Dia biasanya datang ke kkantor pagi-pagi.
Keterangan waktu dengan preposisional diawali dengan preposisi dan kemudian di ikuti oleh nomina tertentu. Sepeti pada contoh berikut.
·         Di saat itu kita belum memiliki teknologi canggih.
·         Mereka menunggu anda sampai pukul lima sore.


b.      Keterangan Tempat
Keterangan tempat adalah keterangan yang menunjukkan tempat terjadinya peristiwa atau keadaan. Keterangan tempat hanya bisa diisi oleh frasa preposisional. Perhatikan contoh berikut.
·         Kita meletakkan batu pertama ini di sana.
·         Dari sini kita harus melancarkan serangan kita.



c.       Keterangan Tujuan
Keterangan tujuan adalah keterangan yang menyatakan arah, jurusan, atau maksud perbuatan atau kejadian. Wujud keterangan tujuan selalu berbentuk frasa preposisional dan preposisi yang di pakai adalah demi, bagi, guna, untuk, dan buat. Keenam preposisi itu dapat diikuti oleh nomina atau frasa nominal seperti dalam cntoh yang berikut.
·         Dia bersedia berkorban demi kepentingan negara.
·         Mari kita mengheningkan cipta bagi pahlawan yang telah gugur.


d.      Keterangan Cara
Keterangan cara adalah keterangan yang menyatakan jalannya suatu peristiwa berlangsung.Kata tunggal yang menyatakan cara misalnya seenaknya,secepatnya. Letak keterangan itu umumnya setelah sesudah predikat atau objek (kalu ada), tetapi ada juga yang muncul di awal atau akhir kalimat. Perhatikan contoh berikut.
·         Dia berbicara seenaknya dengan atasannya.
·         Kamu boleh mengambil kue semaumu.


e.       Keterangan Penyerta
Keterangan penyerta adalah keterangan yang menyatakan ada tidaknya alat yang dipakai untuk melakukan suatu perbuatan. Kecuali untuk kata sendiri yang dapat berdiri tanpa iringan kata lain, semua keterangan penyerta dibentuk dengan menggabungkan preposisi dengan, tanpa atau bersama dengan kata atau frasa tertentu. Kata atau frasa yang berdiri di belakang preposisi itu harus merupakan maujud yang bernyawa atau dianggap bernyawa. Perhatikan contoh berikut.
·         Ibu ke pasar dengan saya.
·         Dia merumuskan konsep itu dengan para pembantunya.


f.       Keterangan Alat
Keterangan alat adalah keterangan yang menyatakan ada tidaknya alat yang dipakai untuk melakukan suatu perbuatan. Pengertian alat dalam hal itu tidak harus selalu dalam bentuk benda konkret. Keterangan alat selalu berbentuk frasa preposisional dengan memakai preposisi dengan atau tanpa. Perhatikan contoh berikut.
·         Kami biasanya pergi ke kantor naik bus.
·         Kita akan gagal tanpa bantuan mereka.


g.      Keterangan Pembandingan
Keterangan pembandingan adalah keterangan yang menyatakan kesetaraan atau kemiripan suatu keadaan, kejadian atau perrbuatan denagan keadaan, kajadian atau perbuatan yang lain. Wujud keterangan itu selalu berbentuk frasa dengan preposisi seperti laksana, seperti, atau sebagai. Perhatikan contoh berikut.
·         Tekatnya untuk merantau teguh laksana gunung karang.
·         Berpikirlah seperti orang dewasa.


h.      Keterangan Sebab
Keterangan sebab adalah keterangan yang menyatakan sebab atau alasan terjadinya suatu keadaan, kejadian, atau perbuatan. Wujud keterangan itu selalu frasa dengan preposisi karena, atau akibat. Perhatikan contoh berikut.
·         Banyak pemimpin dunia jatuh karena wanita.
·         Gaji terasa kurang terus akibat inflansi.


i.        Keterangan Kesalingan
Keterangan kesalingan adalah keterangan yang menyatakan bahwa suatu perbuatan dilakukan secara berbalasan.Wujud keterangan kesalingan, yakni satu sam alin atau saling adalah tegar dan umumnya diletakkan di sebelah kiri verba atau di bagian akhir kalimat. Perhatikan contoh berikut.
·         Kedua delegasi itu akan merundingkan pemulihan hubungan diplomatik satu sama lain.
·         Ketua dan sekretaris orgnisasi itu saling membenci satu sama lain.


2)      Nomina Vokatif
Nomina vokatif adalah konstituen tambahan dalam ujaran berupa nomina atau frasa nominal yang menyatakan orang yang disapa. Unsur vokatif itu bersifat manasuka, dan letaknya dapat di awal, tengah, atau di akhir kalimat, seperti tampat pada contoh berikut.
·         Mir, tolong belikan rokok.
·         Dan kamu, dani, jangan bermain saja.
Fungsi utama nomina vokatif adalah minta perhatian orang yang disapa, terutama jika ada pendengar lain.


3)      Aposisi
Kalimat tunggal dapat pula diperluas dengan salah satu unsur kalimat (biaanya unsur nominal) yang ada. Dua unsur kalimat disebut beraposisi dengan salah satu unsur kalimat (biasanya unsur nominal) yang ada. Dua unsur kalimat disebut braposisi jika kedua unsur itu sederajat dan mempunyai acuan yang sama atau, paling tidak, salah satu mencakupi acuan unsur yang lainnya. Pada kalimat
·         Ir. Soekarno, presiden Indonesia pertama, adalah tokoh pendiri gerakan non blok.


8.      PENGINGKARAN
Pengingkaran atau negasi, yakni proses atau konstruksi yang mengungkapkan pertentangan isi makna suatu kalimat, dilakukan dengan penambahan kata ingkar pada kalimat. Dalam bahasa Indonesia terdapat empat kata ingkar: tidak (tak), bukan, jangan, dan belum. Perhatikan contoh berikut.
·         Dia masuk hari ini.
·         Dia tidak masuk hari ini.


1)      Pengingkaran Kalimat
Pengingkaran Kalimat dilakukan dengan menambahkan kata ingkar yang sesuai diawal frasa predikatnya. Kata ingkar tidak ditempatkan pada  awal predikat yang tidak mengandung bentuk sudah atau telah pada kalimat berpredikat
(a)    Verbal, jenis deklaratif dan introgatif;
(b)   Adjektival, jenis deklaratif, introgatif, dan eksklamatif;
(c)    Numeral taktentu, jenis deklaratif dan introgatif.
Perhatikan contoh berikut.
·         Tuti akan datang nanti.
·         Tuti tidak akan datang nanti.


2)      Pengingkaran Bagian Kalimat
Bagian kalimat tertentu dapat diingkarkan dengan menempatkan kata ingkar yang sesuai di depan unsur yang di ingkarkan itu. Salah satu jenis pengingkaran unsur kalimat adalah pengingkaran pengontrasan. Kata ingkar yang digunakan untuk tujuan itu adalah bukan, bukan ... melainkan ..., tidak ... tetapi.... Perhatikan contoh berikut.
·         Dia tiba bukan kemarin melainkan tadi pagi.
·         Saya ingin minum, bukan makan.


3)      Lingkup Pengingkaran
Kata ingkar seperti tidak mempunyai ruang lingkup pengingkaran yang berbeda-beda tergantung pada ada tidaknya keterangan pada kalimat. Perhatikan contoh berikut.
·         Dia membunuh orang itu.
·         Dia tidak membunuh orang itu.







HUBUNGAN ANTAR KLAUSA



1.      PENDAHULUAN
Seperti sudah di bicarakan dalam kalimat, sebuah  kalimat dapat mengandung satu klausa atau lebih.Pembicaraan ini menyangkut berbagai hubungan yang terdapat antara satu klausa dengan klausa yang lain di dalam kalimat majemuk setara atau bertingkat.
            Hubungan antarklausa yang disebut di atas dapat ditandai dengan kehadiran konjungtor (kata hubung) pada awal salah satu klausa tersebut. Perhatikan contoh yang di bawah ini.
·         Pardi tinggal di daerah kumuh, dan kakaknya tidak bisa membantunya.
·         Dia menyarankan kepada kami supaya kami menunggu.


2.      HUBUNGAN KOORDINASI DAN SUBBORDINASI
Kalimat majemuk setara maupun kalimat majemuk bertingkat mempunyai dua klausa atau yang saling berhubungan. Ada dua cara untuk menghubungkan klausa dalam sebuah kalimat majemuk, yaitu dengan koordinasi dan subordinasi.


a.       Hubungan Koordinasi
Koordinasi menggabungkan dua klausa atau lebih yang masing-masing mempunyai kedudukanyang asetara dalam struktur konstituen kalimat. Hasilnya adalah satuan yang sama kedudukannya.

b.       Hubungan Subordinasi
Subordinasi menggabungkan dua klausa atau lebih sehingga terbukti kalimat majemuk yang salah satu klausanya menjadi bagian dari klausa yang lain. Jadi klausa-klausa dalam kalimat majemuk yang disusun dengan cara subordinasi itu tidak mempunyai kedudukan yang setara.Oleh karena itu, kalimat majemuk yang disusun dengan cara subordinatif itu disebut kalimat majemuk bertingkat. Perhatikan contoh penggabungan klausa dengan cara subordinatif berikut ini.

·         Orang tua itu mengatakan (sesuatu).
·         Anak gadisnya mancintai pemuda itu sepenuh hati.


3.      CIRI-CIRI HUBUNGAN KOORDINASI DAN SUBKOORDINASI
Ciri-ciri hungungan koordinasi dan subkoordinasi secara eksplisit. Ciri ini akan lebih terlihat dari segi sintaksis dan semantisnya dalam pembicaraan berikut.

A.    Ciri-ciri sintaksis hubungan koordinasi
Ada empat ciri hubungan koordinasi.
a.       Hubungan koordinasi menggabungkan dua klausa atau lebih, salah satu klausa yang dihubungkan oleh konjungtor dapat berupa kalimat majemuk. Perhatikan contoh berikut.
·         Saya mengetahui kedatangannya, tetapi tidak mengetaui tujuan dan maksud kedatangannya.
b.      Pada umumnya posisi kluasa yang didahului oleh koordinator dan, atau, dan tetapi, tidak dapat diubah. Apabila posisinya diubah, perubahan ini mengakibatkan munculnya kalimat majemuk setara yang tidak berterima. Perhatikan contoh berikut.
·         Dalam pengungsian itu saya sering melihat orang ditembak musuh dan mayatnya di buang begitu saja.
c.       Urutan klausa yang tetap dalam hubungan koordinasi yang telah dibicarakan di atas berhubungan erat dengan pronominalisasi. Acuan kataforis (pronomina yang mendahului nomina yang di acunya) tidak diproleh dalam hubungan koordinatif. Perhatikan contoh kalimat berikut.
·         Dia suka lagu keroncong, tetapi hasan tidak mau membeli kaset itu.


B.     Ciri-ciri Sintaksis Hubungan Subordinasi
Ada tiga cirrrrri sintaksis dalam hubungan subordinasf.
a.       Subordinasi menghubungkan dua klausa yang salah diantaranya merupakan bagian dari klausa yang lain. Di samping itu, salah satu klausa yang dihubungkan oleh konjungtor subordinatif dapat pula berupa kalimat majemuk. Perhatikan kalimat berikut.
·         Ketua partai itu tetap menyatakan kebanggaannya karena ternyata partainya masih dapat meraih hampir empat belas juta suara pemilih setelah pemilih itu dihitung ulang.
b.      Pada umumnya posisi klausa yang diawali oleh subordinator dapat berubah. Perhatikan kalimat berikut.
·         Kita jangan bertindak sebelum atasan kita mengambil keputusan.
c.       Hubungan suberdinatif memungkinkan adanya acuan kataforis. Dalam kalimat berikut ini pronomina dia dapat mengacu pada nomina nama diri Hasan walaupun tidak harus demikian.
·         Walaupun dia suka lagu keroncong, Hasan tidak mau membeli kaset itu.


C.     Ciri-ciri Semantis Hubungan Koordinasi
Klausa-klausa yang digunakan oleh koordinator tidak menyatakan perbedaan tingkat  pesan. Perhatikan contoh kalimat berikut.
·         Orang itu putus asa dan bunuh diri.
·         Pemuda itu bekerja keras dan berhasil.


D.    Ciri-ciri Semantis Hubungan Subordinasi
Ada dua cara semantis pada hubungan subordinasi. Pertama, dalam hubungan subordinasi, klausa yang mengikuti subordinator memuat informasi atau kenyataan yang di anggap skunder oleh pemakai bahasa, sedangkan klausa yang lain memuat pesan utama kalimat tersebut. Perhatikan contoh berikut.
·         Orang itu bunuh diri karena ia putus asa.


4.      HUBUNGAN SEMANTIS ANTARKLAUSA DALAM KALIMAT MAJEMUK SETARA
Klausa yang terdapat dalam kalimat majemuk setara dihubungkan oleh koordinator seperti dan, serta, lalu, kemudian, tetapi, padahal, dll.

            Sepeti dinyatakan sebelumnya, hubungan semantis antarklausa dalam kalimat majemuk setara ditenyukan oleh dua hal, yaitu arti koodinator dan arti klausa-klausa yang di hubungkan. Perhatikan contoh kalimat berikut ini.
·          Engkau harus menjadi orang kaya  dan tetap rendah hati.
·         Engkau harus menjadi orang kaya, tetapi tatap rendah hati.
Jika dilihat dari segi arti koordinasinya, hubungan semantis antarklausa dalam kalimat majemuk setara ada tiga macam: (a) hubungan penjumlahan, (b) hubungan perlawanan, (c) hubungangan pemilihan. Tiap hubungan itu berkaitan erat dengan koordinatornya.

a.       Hubungan Penjumlahan
Yang dimaksud dengan hubungan penjumlahan ialah hubungan yang menyatakan penjumlahan atau gabungan kegiatan, keadaan, peristiwa, atau proses. Jika perhatika kontes nya, hubungan penjumlahan dapat menyatakan (1) sebab-akibat, (2) urutan waktu, (3) pertentangan, atau perluasan.

a)      Penjumlahan yang Menyatakan Sebab-Akibat
Dalam hubungan seperti ini, klausa kedua merupakan akibat dari klausa pertama.Perhatikan contoh berikut.
·         Paa hari yang naas itu, gempa menggoncang bumi dan rumah-rumah jadi berantakan.

b)      Penjumlahan yang Menyatakan Urutan Waktu
Klausa kedua merupakan urutan dari peristiwa yang terjadi pada klausa pertama. Koordinator yang dipakai adalah dan, kemudian, dan lalu. Parhatikan contoh berikut.
·         Ibu hanya mengangguk-angguk dan air matanya terus mengalir.

c)      Penjumlahan yang Menyatakan Pertentangan
Klausa kedua merupakan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang dinyatakan dalam klausa pertama. Koordinar yang dapat dipakai adalah, misalnya, sedangkan dan padahal. Perhatikan contoh berikut.
·         Ia selalu makan yang enak-enak, sedangkan anak dan istrinya kelaparan
·         Para tamu sudah mulai datang, sedangkan kami belum siap.


b.      Hubungan Perlawanan
Yang dimaksud hubungan perlawanan ialah hubungan yang menyatakan bahwa apa yang dinyatakan dalam klausa pertama berlawanan, atau tidak sama, dengan apa yang dinyatakan dalam klausa kedua.
            Hubungan perlawanan itu dapat dibedakan atas hubungan yang menyatakan (1) penguatan, (2) implikasi, (3) perluasan.

a)      Perlawanan yang Menyatakan Penguatan
Klausa kedua memuat informasi yang menguatkan dan menandaskan informasi yang dinyatakan dalam klausa yang pertama. Pada klausa pertama terdapat tidak/bukan dan dalam klausa kedua terdapat tetapi/melainkan juga. Perhatikan contoh berikut.
·         Masalah kemiskinan tidak hanya masalah nasional, tetapi juga masalah kemanusiaan.

b)      Perlawanan yang Menyatakan Implikasi
Klausa kedua merupakan sesuatu yang merupakan perlawanan terhadap implikasi klausa pertama. Koordinator yang umumnya dipakai adalah tetapi. Perhatikan contoh berikut.
·         Adikku belum bersekolah, tetapi dia sudah bisa membaca.

c)      Perlawanan yang Menyatakan Perluasaan
Berlainan dengan hubungan yang menyatakan hubungan perluasan pada kalimat majemuk setara  yang memakai dan, hubungan yang memakai perluasan tetapi menyatakan bahwa informasi yang terkandung dalam klausa kedua merupakan informasi tambahan untuk melengkapi apa yang dinyatakan oleh klausa pertama, dan kadang-kadang malah memperlemahnya. Perhatikan contoh berikut.
·         Adat dipertahankan agar tidak berubah, tapi unsur-unsur dari luar yang dianggap baik perlu dimasukkan.

c.       Hubungan Pemilihan
Yang dimaksud dengan hubungan pemilihan adalah hubungan yang menyatakan pilihan diantara dua kemungkinan atau lebih yang dinyatakan oleh klausa-klausa yang dihubungkan. Koordinato yang di pakai adalah atau. Perhatikan contoh berikut
·         Dalam keadaan seperti itu dia terpaksa membunuh musuh atau dibunuh musuh.


5.      HUBUNGAN SEMANTIS ANTARKLAUSA DALAM KALIMAT MAJEMUK BERTINGKAT
Seperti halnya dengan kalimat majemuk setara, hubungan semantis antarklausa dalam kalimat majemuk bertingkat juga ditentukan oleh macam koordinator yang di pakai dan makna leksikal dari kata atau frasa dalam klausa masing-massing. Perhatikan hubungan semantis kedua klausa contoh-contoh berikut.

a.       Hubungan Waktu
Klausa subordinatif ini menyatakan waktu terjadinya peristiwa atau keadaan yang dinyatakan dalam klausa utama. Hubungan waktu dapat dibedakan menjadi:

a)      Hubungan Batas Permulaan
Untuk menentukan batas waktu permulaan, dipakai subordinator seperti sejak dan sedari. Perhatikan contoh berikut.
·         Sedari saya masih di SD, saya suka pelajaran bahasa.

b)      Waktu Bersamaan
Hubungan waktu bersamaan menunjukkan bahwa peristiwa atau keadaan yang dinyatakan dalam klausa utama dan klausa suberdinatif terjadi secara bersamaan atau hampir bersamaan. Subordinator yang dipakai adalah (se) waktu, ketika ddl. Perhatikan contoh berikut.
·         Begitu dia datang, dia memelukku serta mencium pipiku.

c)      Waktu Berurutan
Hubungan waktu berurutan  menunjukkan bahwa yang dinyatakan dalam klausa utama lebih dahulu atau lebih kemudian daripada yang dinyatakan dalam klausa sobordinatif. Subordinator yang bisa dipakai adalah sebelum, setelah dll. Perhatikan contoh berikut.
·         Ia baru kembali ke desa setelah biaya untuk melanjutkan kuliahnya tidak ada.

d)     Waktu Batas Akhir
Hubungan batas waktu akhir dipakai untuk menyatakan ujung suatu proses, dan subordinator yang di paki adalah sampai dan hingga. Perhatikan contoh berikut.
·         Gotong royong itu berjalan dengan lancar sampai kami menyelesaikan sekolah.


b.      Hubungan Syarat
Hubungan syarat terdapat dalam kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan syarat terlaksananya apa yang disebut dalam klausa utama. Subordinator yang lazim dipakai adalah jika(lau), kalau, dan asal(kan). Perhatikan contoh berikut.
·         Jika anda mau mendengarkannya, saya tentu senang sekali menceritakannya.

c.       Hubungan Pengandaian
Hubungan pengandaian terdapat dalam kalimat majemuk yang klausa subordinatifnya menyatakan suatu tujuan atau harapan dari apa yang disebut dalam klausa utama. Subordinator yang bisa dipakai adalah agar, supaya, untuk dan biar. Perhatikan contoh berikut.
·         Saya sengaja tinggal di kota kecil agar dapat mengetahui kehidupan di sana.

d.      Hubungan Tujuan
Hubungan tujuan terdapat dalam kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan suatu tujuan atau harapan dari apa yang disebut dalam klausa utama. Subordinator yang biasa dipakai adalah agar, supaya, untuk, dan biar. Perhatikan contoh berikut.
·         Kami pergi biar dia bisa berbuat sesukanya.

e.       Hubungan Konsesif
Hubungan konsesif terdapat dalam kalimat majemuk yang klausa subordinatifnya mengandung pernyataan yang tidak akan merubah apa yang dinyatakan dalam klausa utama. Subordinator yang biasa dipakai adalah walau(pun), meski(pun) dll. Perhatikan contoh berikut.
·         Dia akan pergi sekalipun kami mencoba menahannya.




f.       Hubungan Pembandingan
Hubungan pembandingan terdapat dalam kalimat majemuk yang klausa subordinatifnya menyatakan pembandingan. Subordinator yang biasa digunakan adalah seperti, bagaikan, dll. Perhatikan contoh berikut.
·         Saya akan menolongmu sebagaimana ayahmu yang telah menolong keluargaku.


g.      Hubungan Penyebab
Hubungan penyebab terdapat dalam kalimat yang hubungan subordinatifnya menyatakan sebab atau alasan terjadinya apa yang dinyatakan dalam klausa utama. Subordinator yang biasa digunakan adalah sebab, karena akibat, dan oleh karena. Perhatikan contoh berikut.
·         Keadaan menjadi genting lagi karena musuh akan melancarkan lagi aksinya di bandung.

h.      Hubungan Hasil
Hubungan hasil terdapat dalam kalimat majemuk yang klausa subordinatifnya menyatakan hasil atau akibatdari apa yang dinyatakan dalam klausa utama. Subordinator yang digunakan adalah sehingga, sampai, dan maka. Perhatikan contoh berikut.
·         Kami tidak setuju, maka kami pun protes.

i.        Hubungan Cara
Hubungan cara terdapat dalam kalimat yang subordinatifnya menyatakan cara pelaksanaan dari apa yang dinyatakan oleh klausa utama. Subordinator yang digunakan adalah dengan dan tanpa. Perhatikan contoh berikut.
·         Elly Pical mencoba bertahan dengan menghindar.

j.        Hubungan Alat
Hubungan alat terdapat pada kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan alat yang dinyatakan oleh klausa utama. Subordinator yang dipakai adalah dengan dan tanpa. Perhatikan contoh berikut.
·         Dia menangkap ikan dengan mempergunakan kail.


k.      Hubungan Komplementasi
Dalam hubungan komplementasi, klausa subordinatif melengkapi apa yang dinyatakan oleh verba klausa utama, atau nomina subjek, baik dinyatakan maupun tidak. Subordinator yang digunakan adalah bahwa. Perhatikan contoh berikut.
·         Penulis perlu menekankan di sini bahwa isi bukunya berjumlah sempurna.

l.        Hubungan Atributif
Hubungan atributif ditandai oleh subordinator yang.
a)      Hubungan Atributif Restriktif
Dalam hubungan seperti ini, klausa relatif mewatasi makna dari nomina yang diterangkannya. Perhatikan contoh berikut.
·         Pamannya yang tinggal di bogor meninggal kemarin.

b)      Hubungan Atributif Takresriktif
Klausa subordinatif yang takresriktif hanyalah memberikan sekadar tambahan informasi pada nomina yang diterangkannya.
·         Istri saya yang tinggal di bogor meninggal kemarin.


m.    Hubungan Perbandingan
Hubungan perbandingan terdapat dalam kalimat majemuk bertingkat yang klausa subordinatif dan klausa utamanya menpunyai unsur yang sama yang tarafnya sama (ekuatif) atau berbeda (komparatif).

a)      Hubungan Ekuatif
Hubungan ekuatif muncul bila hal atau unsur pada klausa subordinatif dan klausa utama yang diperbandingkan sama tarafnya. Perhatikan contoh berikut.
·         Rumah ini sama tua dengan saya (tua).
·         Rumah ini setua saya.

b)      Hubungan Kompratif
Hubungan kompratif muncul bila ha latau unsur pada klausa subordinatif dan klausa utama yang diperbandingkan berbeda tarafnya. Perhatikan contoh berikut.
·         Pembantu saya lebih senang menonton film india daripada film barat.


n.      Hubungan Opratif
Hubungan operatif terdapat dalam kalimat majemuk bertingkatyang klausa utamanya menyatakan harapan agara apa yang dinyatakan dalam kalimat subordinatif dapat terjadi. Perhatika contoh berikut.
·         Kita berdoa semoga kemalangan ini cepat berakhir.


6.      PELEPASAN
Penggabungan dua klausa baik secara subordinatif maupun secara koordinatif dapat mengakibatkan terdapatnya dua unsur yang sama dalam satu kalimat. Salah satu alat sintaksis untuk mengurangi taraf redundansi itu adalah pelepasan atau elipsis, yaitu penghilangan unsur tertentu dari satu kalimat. Perhatikan conroh berikut.
·         Ayahnya datang ke pesta itu, tetapi ibunya tidak (datang ke pesta itu).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar