PEMEROLEHAN
BAHASA
A.
Pemerolehan Bahasa
Pemerolehan bahasa (language
acquisition) adalah proses-proses yang berlaku di dalam otak seorang anak
ketika memperoleh bahasa ibunya. Untuk dapat melekukan kajian tenteng
pemerolehan bahasa, perlu kita memahami konsep pemerolehan bahasa. Pemerolehan
bahasa dibagi menjadi dua, yaitu pemerolehan bahasa pertama ( first laguage
acquisition) yang biasa disebut dengan bahasa ibu atau B1 dan pemerolehan
bahasa kedua (second laguage acquisition) yaitu kajian tentang bagaimana
pembelajra mempelajari sebuah bahasa lain setelah dia memperoleh bahasa ibunya.
a.
Pemerolehan Bahasa Pertama
Pemerolehan bahasa (Language
Acquisition) adalah proses manusia mendapatkan kemampuan untuk menangkap,
menghasilkan, dan menggunakan kata untuk pemahaman dan komunikasi. Kapasitas
ini melibatkan berbagai kemampuan seperti sintaksis, fonetik, dan kosakata yang
luas. Pemerolehan bahasa (akuisisi bahasa) merupakan proses yang berlangsung di
dalam otak kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa
ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dengan pembelajaran bahasa.
Bahasa
yang diperoleh bisa berupa vokal seperti pada bahasa lisan atau manual seperti
pada bahasa isyarat. Pemerolehan bahasa biasanya merujuk pada pemerolehan
bahasa pertama yang mengkaji pemerolehan anak terhadap bahasa ibu mereka dan
bukan pemerolehan bahasa kedua yang mengkaji pemerolehan bahasa tambahan oleh
anak-anak atau orang dewasa.
Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Jadi, pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua (Chaer, 2003:167). Hal ini perlu ditekankan, karena pemerolehan memiliki karakteristik yang berbeda dengan pembelajaran (Cox, 1999; Musfiroh, 2002)
Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Jadi, pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua (Chaer, 2003:167). Hal ini perlu ditekankan, karena pemerolehan memiliki karakteristik yang berbeda dengan pembelajaran (Cox, 1999; Musfiroh, 2002)
- Ada dua pengertian mengenai pemerolehan bahasa.Pertama, pemerolehan bahasa mempunyai permulaan yang mendadak, tiba-tiba. Kedua, pemerolehan bahasa memiliki suatu permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, sosial, dan kognitif pralinguistik.
- Ali (1995:77) mengatakan bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak awal hidupnya melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, seperti keluarga dan masyarakat lingkungan. Hal ini menunjukkan bahasa pertama (B1) merupakan suatu proses awal yang diperoleh anak dalam mengenal bunyi dan lambang yang disebut bahasa.
- Apabila dalam proses awal menunjukkan pemahaman dan penghasilan yang baik dari keluarga dan lingkungan bahasa yang diperolehnya, proses pemerolehan bahasa selanjutnya akan mendapatkan kemudahan. Tahapan-tahapan berbahasa ini memberikan pengaruh yang besar dalam proses pemerolehan bahasa anak. Pemerolehan bahasa adalah proses pemahaman dan penghasilan (produksi) bahasa pada diri anak melalui beberapa tahap mulai dari meraba sampai fasih berbicara (Indrawati dan Oktarina, 2005:21).
- Perkembangan pemerolehan bahasa anak dapat dibagi atas tiga bagian penting yaitu (a) perkembangan prasekolah (b) perkembangan ujaran kombinatori, dan (c) perkembangan masa sekolah. Perkembangan pemerolehan bahasa pertama anak pada masa prasekolah dapat dibagi lagi atas perkembangan pralinguistik, tahap satu kata dan ujaran kombinasi permulaan.
b. Pemerolehan Bahasa Kedua
- Proses Pemerolehan Bahasa Kedua
Pemerolehan bahasa berbeda dengan
pembelajaran bahasa. Orang dewasa mempunyai dua cara yang, berbeda berdikari,
dan mandiri mengenai pengembangan kompetensi dalam bahasa kedua. Pertama,
pemerolehan bahasa merupakan proses yang bersamaan dengan cara anak-anak
mengembangkan kemampuan dalam bahasa pertama mereka. Pemerolehan bahasa
merupakan proses bawah sadar. Para pemeroleh bahasa tidak selalu sadar akan
kenyataan bahwa mereka memakai bahasa untuk berkomunikasi.
Kedua, untuk mengembangkan
kompetensi dalam bahasa kedua dapat dilakukan dengan belajar bahasa. Anak-anak
memperoleh bahasa, sedangkan orang dewasa hanya dapat mempelajarinya. Akan
tetapi ada hipotesis pemerolehan belajar yang menuntut bahwa orang-orang dewasa
juga memperoleh bahasa, kemampuan memungut bahasa bahasa tidaklah hilang pada
masa puber. Orang-orang dewasa juga dapat memanfaatkan sarana pemerolehan
bahasa alamiah yang sama seperti yang dipakai anak-anak. Pemerolehan merupakan
suatu proses yang amat kuat pada orang dewasa.
- Pemerolehan dan pembelajaran dapat dibedakan dalam lima hal, yaitu:
1. Pemerolehan memiliki ciri-ciri yang
sama dengan pemerolehan bahasa pertama, seorang anak penutur asli, sedangkan
belajar bahasa adalah pengetahuan secara formal,
2. Pemerolehan secara bawah
sadar, sedangkan pembelajaran sadar dan disengaja.
3. Pemerolehan bahasa kedua seperti
memungut bahasa kedua, sedangkan pembelajaran mengetahui bahasa kedua,
4. Pemerolehan mendapat pengetahuan
secara implisit, sedangkan pembelajaran mendapat pengetahuan secara eksplisit,
5. Pemerolehan tidak membantu kemampuan
anak, sedangkan pembelajaran menolong sekali.
- Cara pemerolehan bahasa kedua dapat dibagi dua cara, yaitu pemerolehan bahasa kedua secara terpimpin dan pemerolehan bahasa kedua secara alamiah.
- Pemerolehan bahasa kedua secara terpimpin adalah pemerolehan bahasa kedua yang diajarkan kepada pelajar dengan menyajikan materi yang sudah dipahami. Materi bergantung pada kriteria yang ditentukan oleh guru. Strategi-strategi yang dipakai oleh seorang guru sesuai dengan apa yang dianggap paling cocok bagi siswanya.
- Pemerolehan bahasa kedua secara alamiah adalah pemerolehan bahasa kedua/asing yang terjadi dalam komunikasi sehari-hari, bebas dari pengajaran atau pimpinan,guru. Tidak ada keseragaman cara. Setiap individu memperoleh bahasa kedua dengan caranya sendiri-sendiri. Interaksi menuntut komunikasi bahasa dan mendorong pemerolehan bahasa. Dua ciri penting dari pemerolehan bahasa kedua secara alamiah atau interaksi spontan ialah terjadi dalam komunikasi sehari-hari, dan bebas dari pimpinan sistematis yang sengaja.
- Pemerolehan Bahasa Kedua
1. Bagi sebagian besar anak Indonesia,
bahasa Indonesia bukan bahasa pertama mereka, melainkan bahasa kedua, atau
ketiga.
2. Pengenalan/penguasaan bahasa
Indonesia dapat terjadi melalui proses pemerolehan atau proses belajar.
3. Proses pemerolehan terjadi secara
alamiah, tanpa sadar, melalui interaksi tak formal dengan orang tua dan/atau
teman sebaya, tanpa bimbingan.
4. Proses belajar terjadi secara
formal, disengaja, melalui interaksi edukatif, ada bimbingan, dan dilakukan
dengan sadar.
5. Bahasa Pertama (B1) dan Bahasa Kedua
(B2) didapat bersama-sama atau dalam waktu berbeda. Jika didapat dalam waktu
yang berbeda, Bahasa Kedua (B2) didapat pada usia prasekolah atau pada usia
Sekolah Dasar.
6. Bahasa Kedua (B2) dapat diperoleh di
lingkungan Bahasa Pertama (B1) dan Bahasa Kedua (B2). Jika diperoleh di
lingkungan Bahasa Pertama, Bahasa Kedua dipelajari melalui proses belajar
formal; jika didapat di lingkungan Bahasa Kedua, Bahasa Kedua didapat melalui
interaksi tidak formal, melalui keluarga, atau anggota masya-rakat Bahasa
Kedua.
- Prinsip dan Metode Pengajaran B2
1. Belajar Bahasa Kedua (B2) adalah
belajar dalam konteks pemakaian bahasa yang sebenarnya.
2. Belajar Bahasa Kedua (B2) adalah
belajar menggunakan Bahasa Kedua (B2) tersebut dalam berbagai fungsinya.
3. Siswa harus dilatih menggunakan
bahasa secara tepat.
4. Pengajaran bahasa perlu
memperhatikan kebutuhan afektif dan kognitif pelajaran.
5. Pemahaman Budaya Bahasa Kedua (B2)
perlu ditumbuhkan dalam pengajaran Bahasa Kedua (B2).
6. Metode tata bahasa terjemahan tidak
membuat siswa terampil menggunakan bahasa, tetapi tahu tentang bahasa.
7. Metode langsung diterapkan melalui
kegiatan dialog, tubian pola, dan penerapan. Tubian yang dilakukan mencakupi tubian
pengulangan dan tubian respons.
8. Tujuan pengajaran bahasa komunikatif
ialah agar siswa dapat berkomunikasi dalam permaian bahasa yang sebenarnya
dalam bentuk bahasa yang diterima. Dalam pelaksanaannya, jika diperlukan Bahasa
Kesatu (B1) dan penerjemahkan dapat digunakan. Tata bahasa diberikan.
9. Pengajaran dengan respons fisik
total menekankan penguasaan kemampuan menyimak pada awal pelajaran. Pemahaman
dan retensi paling baik dipelajari melalui gerakan fisik sebagai respons
terhadap perintah guru. Kegiatan berbicara baru dilakukan bila siswa sudah
benar-benar siap. Proses siswa dilaksanakan melalui langkah = latihan
mendengarkan, produksi dan membaca serta menulis.
10. Pendekatan alamiah dikembangkan
berdasarkan keyakinan bahwa penguasaan bahasa lebih banyak terjadi melalui
proses pemerolehan secara alamiah yang digabungkan dengan teori monitor dan
Krashen. Pendekatan ini dalam penerapannya sangat mementingkan pemerolehan
kosakata.
- Tahap Pemerolehan Bahasa
a.
Kurang dari 1 tahun
• Belum dapat mengucapkan kata-kata,
• Belum menggunakan bahasa dalam
arti yang sebenarnya
• Dapat membedakan beberapa ucapan
orang dewasa. (Eimas, lewat Gleason, 1985: 2, dalam Zuchdi, 1996: 4)
b. 1 tahun
• Mulai mengoceh
• Bermain dengan bunyi (bermain
dengan jari-jari tangan dan kakinya)
• Perkembangan pada tahap ini disebut pralinguistik. (Gleason, 1985: 2)
• Ketika bayi dapat mengucapkan beberapa kata, mereka memiliki ciri-ciri
• Perkembangan pada tahap ini disebut pralinguistik. (Gleason, 1985: 2)
• Ketika bayi dapat mengucapkan beberapa kata, mereka memiliki ciri-ciri
perkembangan yang universal.
- Bentuk ucapan hanya satu kata, sederhana, mudah diucapkan dan memiliki arti konkrit (nama benda, kejadian atau orang-orang di sekitar anak).
- Mulai pengenalan semantik (pengenalan makna).
c. 2 tahun
Mengetahui
kurang lebih memiliki 50 kata.
·
Kebanyakan mulai mencapai kombinasi dua kata yang
dikombinasikan dalam ucapan-ucapan pendek tanpa kata penunjuk, kata depan atau
bentuk lain yang seharusnya digunakan.
·
Mulai mengenal berbagai makna kata tetapi tidak dapat
menggunakan bentuk bahasa yang menunjukkan jumlah, jenis kelamin, dan waktu
terjadinya peristiwa.
·
Mulai dapat membuat kalimat-kalimat pendek.
d. Taman Kanak-kanak
·
Memiliki dan memahami sejumlah besar kosa kata,
·
Mampu membuat pertanyaan-pertanyaan, kalimat majemuk dan
berbagai bentuk kalimat
·
Dapat berbicara dengan sopan dengan orang tua dan guru.
e. Sekolah Dasar
•
Peningkatan perkembangan bahasa, dari bahasa lisan ke bahasa
tulis,
•
Peningkatan perkembangan penggunaan bahasa.
f. Remaja
Penggunaan bahasa yang khas sebagai bagian dari terbentuknya
identitas diri (merupakan usia yang sensitif untuk belajar berbahasa) (Gleason,
1985: 6)
g. Dewasa
Terdapat perbedaan-perbedaan yang besarØ antara individu
yang satu dengan yang lainnya dalam perkembangan bahasa (sesuai dengan tingkat
pendidikan, peranan dalam masyarakat, dan jenis pekerjaan.
B.
Perbedaan Bahasa Anak Laki-Laki dan
Perempuan
a.
Anak Laki-laki
Ekspresi
emosional cenderung menggunakan kata-kata kasar misalnya umpatan: sialan,
bedebah, dsb
- Cenderung menggunakan bahasa secara langsung dan bersifat memberitahu, karena laki-laki menganggap perannya dalam percakapan adalah pemberi informasi.
- Kurang banyak berbicara, tetapi lebih banyak berbuat. Pada perkembangan ke tingkat dewasa seorang ayah lebih banyak menggunakan perintah ketika berbicara dengan anak laki-laki, dan lebih banyak menginterupsi pembicaraan anak perempuannya.
b. Anak perempuan
- Menghindari bahasa yang berisi umpatan dalam percakapan dan cenderung menggunakan kata-kata yang lebih sopan: silakan, terima kasih, selamat jalan, dsb.
- Ekspresi emosional yang digunakan lebih halus, misalnya: Oh sayangku, Ya Allah, dsb.
- Cenderung menggunakan bahasa tidak langsung dalam meminta persetujuan dan lebih banyak mendengarkan. Perannya dalam percakapan adalah sebagai fasilitator.
- Lebih banyak berbicara secara berpasangan dengan teman akrabnya dan saling menceritakan rahasianya
- Pembelajaran bahasa kedua
1. Strategi Pembelajaran
Strategi
Pembelajaran adalah apa-apa yang dipelajari atau apa-apa yang ada dalam
pelajaran. Macam-Macam Strategi Pembelajaran :
a.
Strategi Metakognitif
- Strategi yang melibatkan perencanaan belajar
- Pemikiran proses pemikiran yang sedang berlangsung
- Pemantauan produksi dan pemahaman
- Evaluasi setelah kegiatan selesai
b.
Strategi Kognitif
Yaitu strategi yang melibatkan
tugas-tugas kognitif atau terbatas pada tugas-tugas pembelajaran secara
spesifik atau melibatkan materi pelajaran. Macam-macam strategi kognitif
sebagai berikut:
- Revetisi
- Melacak ulang
- Berlaku penerjemahan
- Mengelompokkan ulang
- Mencatat/menulis gagasan utama baik secara lisan mauoun tulisan
- Kata kunci
- Konstektualisasi
- Elaborasi
- Transfer
c.
Strategi Sosioafektif
Yaitu
strategi yang terkait dengan interaksi sosial.
d. Strategi Komunikasi
Strategi Komunikasi adalah bagaimana
secara produktif kita menyampaikan makna kepada orang lain. Macam-macam strategi
komunikasi yaitu:
e. Strategi Pengindaraan
Yaitu terkait dengan sintaksis /
leksikal semantik.
b. Strategi Konvensatoris
·
Aprokasimasi : menggunakan istilah alternatif untuk
mengungkapkan.
·
Menerjemahkan Harfiah
·
Alihkode: (mengalihkan bahasa ke-2 ke bahasa pertama)
·
Sinyal non linguistik (gerak tubuh) ekspresi wajah.
·
Meminta tolong / meminta bantuan terhadap lawan bicara kita
(mengulang
·
kembali pertanyaan)
·
Mengulur waktu : memberi jeda waktu untuk berfikir yang akan
disampaikan
2. Jenis-Jenis Strategi Pembelajaran
(SP)
a. Berdasarkan komponen dalam
program pengajaran.
1)
Strategi pembelajaran berpusat pada guru (teacher ooriented)
– Peserta didik : sebagai objek pasif
– Guru : sebagi subjek aktif (dominan)
– Macam-macam tekniknya:
a) Teknik ceramah
b) Teknik team teaching
c) Teknik sumbang saran
d) Teknik demonstrasi
2) Strategi pembelajaran berpusat pada siswa (student
oriented)
–
Siswa : sebagai subjek aktif dominan
–
Macam-macam tekniknya:
a) Teknik inquiri
b) Teknik diskusi
c) Teknik kerja kelompok
d) Teknik sosiodrama
e) Teknik penyajian kasus / masalah
3) Strategi pembelajaran berpusat pada materi (material
center strategis)
– Teknik-tekniknya :
a) Teknik tutorial
b) Teknik eksperimen
c) Teknik demonstrasi
d) Teknik kerja lapangan
b. Berdasarkan kegiatan pengolahan materi / pesan
1) Strategi pembelajaran Ekspositoris
Yaitu
Strategi yang berbentuk penguraian (bahan tertulis/penjelasan lisan). Dalam
strategi ini gru lebih dominan atau aktif. Teknik-teknik Strategi pembelajaran
ekspositoris yaitu: (a) teknik simulasi, (b) teknik demonstrasi, dan (c) teknik
ceramah.
2) Strategi pembelajaran Heuristik
Yaitu siswa
diberi kesempatan untuk lebih dominan dalam pembelajaran dan mencari sendiri
informasi yang sedang dipelajari. Jadi dalam strategi ini siswa dituntut lebih
dominan. Teknik-teknik dalam strategi pembelajaran Heuristik yaitu: (a)Teknik
Problem Solving, (b) Teknik Inquiri, (c) Teknik Penemuan, dan (d) Teknik
Eksperimen
c. Berdasarkan cara pengolahan atau memproses pesan / materi
1) Strategi Pembelajaran Deduksi
Yaitu strategi
dari umum – khusus, atau dari abstrak ke nyata, atau dari premis ke pemikiran
yang logis. Teknik dari strategi ini adalah teknik ceramah. Ada tiga langkah
dalam strategi pembelajaran deduksi yaitu:
- Pengajar memilih pengetahuan yang akan diajarkan (memilih materi)
- Pengajar memberi materi
- Pengajar memberi contoh-contoh dan membuktikannya kepada peserta didik.
2) Strategi Pembelajaran Induksi
Yaitu
strategi dari khusus ke umum, atau dari individual ke generalisasi. Jadi
strategi ini merupakan kebalikan dari strategi pembelajaran deduksi di atas.
Ada 4 langkah dalam strategi ini yaitu:
- Pengajar memilih materi
- Pengajar menyajikan contoh-contoh yang spesifik untuk dijadikan bahan penyusun hipotesis
- Bukti-bukti disajikan dgn maksud membenarkan / menyangkal
- Menyimpulkan bukti
d. Berdasarkan cara memproses penemuan
1) Strategi Pembelajaran Ekspositoris.
2) Strategi Pembelajaran Discovery.
PEMEROLEHAN
BAHASA
A.
Pemerolehan Bahasa
Pemerolehan bahasa (language
acquisition) adalah proses-proses yang berlaku di dalam otak seorang anak
ketika memperoleh bahasa ibunya. Untuk dapat melekukan kajian tenteng
pemerolehan bahasa, perlu kita memahami konsep pemerolehan bahasa. Pemerolehan
bahasa dibagi menjadi dua, yaitu pemerolehan bahasa pertama ( first laguage
acquisition) yang biasa disebut dengan bahasa ibu atau B1 dan pemerolehan
bahasa kedua (second laguage acquisition) yaitu kajian tentang bagaimana
pembelajra mempelajari sebuah bahasa lain setelah dia memperoleh bahasa ibunya.
a.
Pemerolehan Bahasa Pertama
Pemerolehan bahasa (Language
Acquisition) adalah proses manusia mendapatkan kemampuan untuk menangkap,
menghasilkan, dan menggunakan kata untuk pemahaman dan komunikasi. Kapasitas
ini melibatkan berbagai kemampuan seperti sintaksis, fonetik, dan kosakata yang
luas. Pemerolehan bahasa (akuisisi bahasa) merupakan proses yang berlangsung di
dalam otak kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa
ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dengan pembelajaran bahasa.
Bahasa
yang diperoleh bisa berupa vokal seperti pada bahasa lisan atau manual seperti
pada bahasa isyarat. Pemerolehan bahasa biasanya merujuk pada pemerolehan
bahasa pertama yang mengkaji pemerolehan anak terhadap bahasa ibu mereka dan
bukan pemerolehan bahasa kedua yang mengkaji pemerolehan bahasa tambahan oleh
anak-anak atau orang dewasa.
Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Jadi, pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua (Chaer, 2003:167). Hal ini perlu ditekankan, karena pemerolehan memiliki karakteristik yang berbeda dengan pembelajaran (Cox, 1999; Musfiroh, 2002)
Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Jadi, pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua (Chaer, 2003:167). Hal ini perlu ditekankan, karena pemerolehan memiliki karakteristik yang berbeda dengan pembelajaran (Cox, 1999; Musfiroh, 2002)
- Ada dua pengertian mengenai pemerolehan bahasa.Pertama, pemerolehan bahasa mempunyai permulaan yang mendadak, tiba-tiba. Kedua, pemerolehan bahasa memiliki suatu permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, sosial, dan kognitif pralinguistik.
- Ali (1995:77) mengatakan bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak awal hidupnya melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, seperti keluarga dan masyarakat lingkungan. Hal ini menunjukkan bahasa pertama (B1) merupakan suatu proses awal yang diperoleh anak dalam mengenal bunyi dan lambang yang disebut bahasa.
- Apabila dalam proses awal menunjukkan pemahaman dan penghasilan yang baik dari keluarga dan lingkungan bahasa yang diperolehnya, proses pemerolehan bahasa selanjutnya akan mendapatkan kemudahan. Tahapan-tahapan berbahasa ini memberikan pengaruh yang besar dalam proses pemerolehan bahasa anak. Pemerolehan bahasa adalah proses pemahaman dan penghasilan (produksi) bahasa pada diri anak melalui beberapa tahap mulai dari meraba sampai fasih berbicara (Indrawati dan Oktarina, 2005:21).
- Perkembangan pemerolehan bahasa anak dapat dibagi atas tiga bagian penting yaitu (a) perkembangan prasekolah (b) perkembangan ujaran kombinatori, dan (c) perkembangan masa sekolah. Perkembangan pemerolehan bahasa pertama anak pada masa prasekolah dapat dibagi lagi atas perkembangan pralinguistik, tahap satu kata dan ujaran kombinasi permulaan.
b. Pemerolehan Bahasa Kedua
- Proses Pemerolehan Bahasa Kedua
Pemerolehan bahasa berbeda dengan
pembelajaran bahasa. Orang dewasa mempunyai dua cara yang, berbeda berdikari,
dan mandiri mengenai pengembangan kompetensi dalam bahasa kedua. Pertama,
pemerolehan bahasa merupakan proses yang bersamaan dengan cara anak-anak
mengembangkan kemampuan dalam bahasa pertama mereka. Pemerolehan bahasa
merupakan proses bawah sadar. Para pemeroleh bahasa tidak selalu sadar akan
kenyataan bahwa mereka memakai bahasa untuk berkomunikasi.
Kedua, untuk mengembangkan
kompetensi dalam bahasa kedua dapat dilakukan dengan belajar bahasa. Anak-anak
memperoleh bahasa, sedangkan orang dewasa hanya dapat mempelajarinya. Akan
tetapi ada hipotesis pemerolehan belajar yang menuntut bahwa orang-orang dewasa
juga memperoleh bahasa, kemampuan memungut bahasa bahasa tidaklah hilang pada
masa puber. Orang-orang dewasa juga dapat memanfaatkan sarana pemerolehan
bahasa alamiah yang sama seperti yang dipakai anak-anak. Pemerolehan merupakan
suatu proses yang amat kuat pada orang dewasa.
- Pemerolehan dan pembelajaran dapat dibedakan dalam lima hal, yaitu:
1. Pemerolehan memiliki ciri-ciri yang
sama dengan pemerolehan bahasa pertama, seorang anak penutur asli, sedangkan
belajar bahasa adalah pengetahuan secara formal,
2. Pemerolehan secara bawah
sadar, sedangkan pembelajaran sadar dan disengaja.
3. Pemerolehan bahasa kedua seperti
memungut bahasa kedua, sedangkan pembelajaran mengetahui bahasa kedua,
4. Pemerolehan mendapat pengetahuan
secara implisit, sedangkan pembelajaran mendapat pengetahuan secara eksplisit,
5. Pemerolehan tidak membantu kemampuan
anak, sedangkan pembelajaran menolong sekali.
- Cara pemerolehan bahasa kedua dapat dibagi dua cara, yaitu pemerolehan bahasa kedua secara terpimpin dan pemerolehan bahasa kedua secara alamiah.
- Pemerolehan bahasa kedua secara terpimpin adalah pemerolehan bahasa kedua yang diajarkan kepada pelajar dengan menyajikan materi yang sudah dipahami. Materi bergantung pada kriteria yang ditentukan oleh guru. Strategi-strategi yang dipakai oleh seorang guru sesuai dengan apa yang dianggap paling cocok bagi siswanya.
- Pemerolehan bahasa kedua secara alamiah adalah pemerolehan bahasa kedua/asing yang terjadi dalam komunikasi sehari-hari, bebas dari pengajaran atau pimpinan,guru. Tidak ada keseragaman cara. Setiap individu memperoleh bahasa kedua dengan caranya sendiri-sendiri. Interaksi menuntut komunikasi bahasa dan mendorong pemerolehan bahasa. Dua ciri penting dari pemerolehan bahasa kedua secara alamiah atau interaksi spontan ialah terjadi dalam komunikasi sehari-hari, dan bebas dari pimpinan sistematis yang sengaja.
- Pemerolehan Bahasa Kedua
1. Bagi sebagian besar anak Indonesia,
bahasa Indonesia bukan bahasa pertama mereka, melainkan bahasa kedua, atau
ketiga.
2. Pengenalan/penguasaan bahasa
Indonesia dapat terjadi melalui proses pemerolehan atau proses belajar.
3. Proses pemerolehan terjadi secara
alamiah, tanpa sadar, melalui interaksi tak formal dengan orang tua dan/atau
teman sebaya, tanpa bimbingan.
4. Proses belajar terjadi secara
formal, disengaja, melalui interaksi edukatif, ada bimbingan, dan dilakukan
dengan sadar.
5. Bahasa Pertama (B1) dan Bahasa Kedua
(B2) didapat bersama-sama atau dalam waktu berbeda. Jika didapat dalam waktu
yang berbeda, Bahasa Kedua (B2) didapat pada usia prasekolah atau pada usia
Sekolah Dasar.
6. Bahasa Kedua (B2) dapat diperoleh di
lingkungan Bahasa Pertama (B1) dan Bahasa Kedua (B2). Jika diperoleh di
lingkungan Bahasa Pertama, Bahasa Kedua dipelajari melalui proses belajar
formal; jika didapat di lingkungan Bahasa Kedua, Bahasa Kedua didapat melalui
interaksi tidak formal, melalui keluarga, atau anggota masya-rakat Bahasa
Kedua.
- Prinsip dan Metode Pengajaran B2
1. Belajar Bahasa Kedua (B2) adalah
belajar dalam konteks pemakaian bahasa yang sebenarnya.
2. Belajar Bahasa Kedua (B2) adalah
belajar menggunakan Bahasa Kedua (B2) tersebut dalam berbagai fungsinya.
3. Siswa harus dilatih menggunakan
bahasa secara tepat.
4. Pengajaran bahasa perlu
memperhatikan kebutuhan afektif dan kognitif pelajaran.
5. Pemahaman Budaya Bahasa Kedua (B2)
perlu ditumbuhkan dalam pengajaran Bahasa Kedua (B2).
6. Metode tata bahasa terjemahan tidak
membuat siswa terampil menggunakan bahasa, tetapi tahu tentang bahasa.
7. Metode langsung diterapkan melalui
kegiatan dialog, tubian pola, dan penerapan. Tubian yang dilakukan mencakupi tubian
pengulangan dan tubian respons.
8. Tujuan pengajaran bahasa komunikatif
ialah agar siswa dapat berkomunikasi dalam permaian bahasa yang sebenarnya
dalam bentuk bahasa yang diterima. Dalam pelaksanaannya, jika diperlukan Bahasa
Kesatu (B1) dan penerjemahkan dapat digunakan. Tata bahasa diberikan.
9. Pengajaran dengan respons fisik
total menekankan penguasaan kemampuan menyimak pada awal pelajaran. Pemahaman
dan retensi paling baik dipelajari melalui gerakan fisik sebagai respons
terhadap perintah guru. Kegiatan berbicara baru dilakukan bila siswa sudah
benar-benar siap. Proses siswa dilaksanakan melalui langkah = latihan
mendengarkan, produksi dan membaca serta menulis.
10. Pendekatan alamiah dikembangkan
berdasarkan keyakinan bahwa penguasaan bahasa lebih banyak terjadi melalui
proses pemerolehan secara alamiah yang digabungkan dengan teori monitor dan
Krashen. Pendekatan ini dalam penerapannya sangat mementingkan pemerolehan
kosakata.
- Tahap Pemerolehan Bahasa
a.
Kurang dari 1 tahun
• Belum dapat mengucapkan kata-kata,
• Belum menggunakan bahasa dalam
arti yang sebenarnya
• Dapat membedakan beberapa ucapan
orang dewasa. (Eimas, lewat Gleason, 1985: 2, dalam Zuchdi, 1996: 4)
b. 1 tahun
• Mulai mengoceh
• Bermain dengan bunyi (bermain
dengan jari-jari tangan dan kakinya)
• Perkembangan pada tahap ini disebut pralinguistik. (Gleason, 1985: 2)
• Ketika bayi dapat mengucapkan beberapa kata, mereka memiliki ciri-ciri
• Perkembangan pada tahap ini disebut pralinguistik. (Gleason, 1985: 2)
• Ketika bayi dapat mengucapkan beberapa kata, mereka memiliki ciri-ciri
perkembangan yang universal.
- Bentuk ucapan hanya satu kata, sederhana, mudah diucapkan dan memiliki arti konkrit (nama benda, kejadian atau orang-orang di sekitar anak).
- Mulai pengenalan semantik (pengenalan makna).
c. 2 tahun
Mengetahui
kurang lebih memiliki 50 kata.
·
Kebanyakan mulai mencapai kombinasi dua kata yang
dikombinasikan dalam ucapan-ucapan pendek tanpa kata penunjuk, kata depan atau
bentuk lain yang seharusnya digunakan.
·
Mulai mengenal berbagai makna kata tetapi tidak dapat
menggunakan bentuk bahasa yang menunjukkan jumlah, jenis kelamin, dan waktu
terjadinya peristiwa.
·
Mulai dapat membuat kalimat-kalimat pendek.
d. Taman Kanak-kanak
·
Memiliki dan memahami sejumlah besar kosa kata,
·
Mampu membuat pertanyaan-pertanyaan, kalimat majemuk dan
berbagai bentuk kalimat
·
Dapat berbicara dengan sopan dengan orang tua dan guru.
e. Sekolah Dasar
•
Peningkatan perkembangan bahasa, dari bahasa lisan ke bahasa
tulis,
•
Peningkatan perkembangan penggunaan bahasa.
f. Remaja
Penggunaan bahasa yang khas sebagai bagian dari terbentuknya
identitas diri (merupakan usia yang sensitif untuk belajar berbahasa) (Gleason,
1985: 6)
g. Dewasa
Terdapat perbedaan-perbedaan yang besarØ antara individu
yang satu dengan yang lainnya dalam perkembangan bahasa (sesuai dengan tingkat
pendidikan, peranan dalam masyarakat, dan jenis pekerjaan.
B.
Perbedaan Bahasa Anak Laki-Laki dan
Perempuan
a.
Anak Laki-laki
Ekspresi
emosional cenderung menggunakan kata-kata kasar misalnya umpatan: sialan,
bedebah, dsb
- Cenderung menggunakan bahasa secara langsung dan bersifat memberitahu, karena laki-laki menganggap perannya dalam percakapan adalah pemberi informasi.
- Kurang banyak berbicara, tetapi lebih banyak berbuat. Pada perkembangan ke tingkat dewasa seorang ayah lebih banyak menggunakan perintah ketika berbicara dengan anak laki-laki, dan lebih banyak menginterupsi pembicaraan anak perempuannya.
b. Anak perempuan
- Menghindari bahasa yang berisi umpatan dalam percakapan dan cenderung menggunakan kata-kata yang lebih sopan: silakan, terima kasih, selamat jalan, dsb.
- Ekspresi emosional yang digunakan lebih halus, misalnya: Oh sayangku, Ya Allah, dsb.
- Cenderung menggunakan bahasa tidak langsung dalam meminta persetujuan dan lebih banyak mendengarkan. Perannya dalam percakapan adalah sebagai fasilitator.
- Lebih banyak berbicara secara berpasangan dengan teman akrabnya dan saling menceritakan rahasianya
- Pembelajaran bahasa kedua
1. Strategi Pembelajaran
Strategi
Pembelajaran adalah apa-apa yang dipelajari atau apa-apa yang ada dalam
pelajaran. Macam-Macam Strategi Pembelajaran :
a.
Strategi Metakognitif
- Strategi yang melibatkan perencanaan belajar
- Pemikiran proses pemikiran yang sedang berlangsung
- Pemantauan produksi dan pemahaman
- Evaluasi setelah kegiatan selesai
b.
Strategi Kognitif
Yaitu strategi yang melibatkan
tugas-tugas kognitif atau terbatas pada tugas-tugas pembelajaran secara
spesifik atau melibatkan materi pelajaran. Macam-macam strategi kognitif
sebagai berikut:
- Revetisi
- Melacak ulang
- Berlaku penerjemahan
- Mengelompokkan ulang
- Mencatat/menulis gagasan utama baik secara lisan mauoun tulisan
- Kata kunci
- Konstektualisasi
- Elaborasi
- Transfer
c.
Strategi Sosioafektif
Yaitu
strategi yang terkait dengan interaksi sosial.
d. Strategi Komunikasi
Strategi Komunikasi adalah bagaimana
secara produktif kita menyampaikan makna kepada orang lain. Macam-macam strategi
komunikasi yaitu:
e. Strategi Pengindaraan
Yaitu terkait dengan sintaksis /
leksikal semantik.
b. Strategi Konvensatoris
·
Aprokasimasi : menggunakan istilah alternatif untuk
mengungkapkan.
·
Menerjemahkan Harfiah
·
Alihkode: (mengalihkan bahasa ke-2 ke bahasa pertama)
·
Sinyal non linguistik (gerak tubuh) ekspresi wajah.
·
Meminta tolong / meminta bantuan terhadap lawan bicara kita
(mengulang
·
kembali pertanyaan)
·
Mengulur waktu : memberi jeda waktu untuk berfikir yang akan
disampaikan
2. Jenis-Jenis Strategi Pembelajaran
(SP)
a. Berdasarkan komponen dalam
program pengajaran.
1)
Strategi pembelajaran berpusat pada guru (teacher ooriented)
– Peserta didik : sebagai objek pasif
– Guru : sebagi subjek aktif (dominan)
– Macam-macam tekniknya:
a) Teknik ceramah
b) Teknik team teaching
c) Teknik sumbang saran
d) Teknik demonstrasi
2) Strategi pembelajaran berpusat pada siswa (student
oriented)
–
Siswa : sebagai subjek aktif dominan
–
Macam-macam tekniknya:
a) Teknik inquiri
b) Teknik diskusi
c) Teknik kerja kelompok
d) Teknik sosiodrama
e) Teknik penyajian kasus / masalah
3) Strategi pembelajaran berpusat pada materi (material
center strategis)
– Teknik-tekniknya :
a) Teknik tutorial
b) Teknik eksperimen
c) Teknik demonstrasi
d) Teknik kerja lapangan
b. Berdasarkan kegiatan pengolahan materi / pesan
1) Strategi pembelajaran Ekspositoris
Yaitu
Strategi yang berbentuk penguraian (bahan tertulis/penjelasan lisan). Dalam
strategi ini gru lebih dominan atau aktif. Teknik-teknik Strategi pembelajaran
ekspositoris yaitu: (a) teknik simulasi, (b) teknik demonstrasi, dan (c) teknik
ceramah.
2) Strategi pembelajaran Heuristik
Yaitu siswa
diberi kesempatan untuk lebih dominan dalam pembelajaran dan mencari sendiri
informasi yang sedang dipelajari. Jadi dalam strategi ini siswa dituntut lebih
dominan. Teknik-teknik dalam strategi pembelajaran Heuristik yaitu: (a)Teknik
Problem Solving, (b) Teknik Inquiri, (c) Teknik Penemuan, dan (d) Teknik
Eksperimen
c. Berdasarkan cara pengolahan atau memproses pesan / materi
1) Strategi Pembelajaran Deduksi
Yaitu strategi
dari umum – khusus, atau dari abstrak ke nyata, atau dari premis ke pemikiran
yang logis. Teknik dari strategi ini adalah teknik ceramah. Ada tiga langkah
dalam strategi pembelajaran deduksi yaitu:
- Pengajar memilih pengetahuan yang akan diajarkan (memilih materi)
- Pengajar memberi materi
- Pengajar memberi contoh-contoh dan membuktikannya kepada peserta didik.
2) Strategi Pembelajaran Induksi
Yaitu
strategi dari khusus ke umum, atau dari individual ke generalisasi. Jadi
strategi ini merupakan kebalikan dari strategi pembelajaran deduksi di atas.
Ada 4 langkah dalam strategi ini yaitu:
- Pengajar memilih materi
- Pengajar menyajikan contoh-contoh yang spesifik untuk dijadikan bahan penyusun hipotesis
- Bukti-bukti disajikan dgn maksud membenarkan / menyangkal
- Menyimpulkan bukti
d. Berdasarkan cara memproses penemuan
1) Strategi Pembelajaran Ekspositoris.
2) Strategi Pembelajaran Discovery.
A.
Pemerolehan Bahasa
Pemerolehan bahasa (language
acquisition) adalah proses-proses yang berlaku di dalam otak seorang anak
ketika memperoleh bahasa ibunya. Untuk dapat melekukan kajian tenteng
pemerolehan bahasa, perlu kita memahami konsep pemerolehan bahasa. Pemerolehan
bahasa dibagi menjadi dua, yaitu pemerolehan bahasa pertama ( first laguage
acquisition) yang biasa disebut dengan bahasa ibu atau B1 dan pemerolehan
bahasa kedua (second laguage acquisition) yaitu kajian tentang bagaimana
pembelajra mempelajari sebuah bahasa lain setelah dia memperoleh bahasa ibunya.
a.
Pemerolehan Bahasa Pertama
Pemerolehan bahasa (Language
Acquisition) adalah proses manusia mendapatkan kemampuan untuk menangkap,
menghasilkan, dan menggunakan kata untuk pemahaman dan komunikasi. Kapasitas
ini melibatkan berbagai kemampuan seperti sintaksis, fonetik, dan kosakata yang
luas. Pemerolehan bahasa (akuisisi bahasa) merupakan proses yang berlangsung di
dalam otak kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa
ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dengan pembelajaran bahasa.
Bahasa
yang diperoleh bisa berupa vokal seperti pada bahasa lisan atau manual seperti
pada bahasa isyarat. Pemerolehan bahasa biasanya merujuk pada pemerolehan
bahasa pertama yang mengkaji pemerolehan anak terhadap bahasa ibu mereka dan
bukan pemerolehan bahasa kedua yang mengkaji pemerolehan bahasa tambahan oleh
anak-anak atau orang dewasa.
Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Jadi, pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua (Chaer, 2003:167). Hal ini perlu ditekankan, karena pemerolehan memiliki karakteristik yang berbeda dengan pembelajaran (Cox, 1999; Musfiroh, 2002)
Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Jadi, pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua (Chaer, 2003:167). Hal ini perlu ditekankan, karena pemerolehan memiliki karakteristik yang berbeda dengan pembelajaran (Cox, 1999; Musfiroh, 2002)
- Ada dua pengertian mengenai pemerolehan bahasa.Pertama, pemerolehan bahasa mempunyai permulaan yang mendadak, tiba-tiba. Kedua, pemerolehan bahasa memiliki suatu permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, sosial, dan kognitif pralinguistik.
- Ali (1995:77) mengatakan bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak awal hidupnya melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, seperti keluarga dan masyarakat lingkungan. Hal ini menunjukkan bahasa pertama (B1) merupakan suatu proses awal yang diperoleh anak dalam mengenal bunyi dan lambang yang disebut bahasa.
- Apabila dalam proses awal menunjukkan pemahaman dan penghasilan yang baik dari keluarga dan lingkungan bahasa yang diperolehnya, proses pemerolehan bahasa selanjutnya akan mendapatkan kemudahan. Tahapan-tahapan berbahasa ini memberikan pengaruh yang besar dalam proses pemerolehan bahasa anak. Pemerolehan bahasa adalah proses pemahaman dan penghasilan (produksi) bahasa pada diri anak melalui beberapa tahap mulai dari meraba sampai fasih berbicara (Indrawati dan Oktarina, 2005:21).
- Perkembangan pemerolehan bahasa anak dapat dibagi atas tiga bagian penting yaitu (a) perkembangan prasekolah (b) perkembangan ujaran kombinatori, dan (c) perkembangan masa sekolah. Perkembangan pemerolehan bahasa pertama anak pada masa prasekolah dapat dibagi lagi atas perkembangan pralinguistik, tahap satu kata dan ujaran kombinasi permulaan.
b. Pemerolehan Bahasa Kedua
- Proses Pemerolehan Bahasa Kedua
Pemerolehan bahasa berbeda dengan
pembelajaran bahasa. Orang dewasa mempunyai dua cara yang, berbeda berdikari,
dan mandiri mengenai pengembangan kompetensi dalam bahasa kedua. Pertama,
pemerolehan bahasa merupakan proses yang bersamaan dengan cara anak-anak
mengembangkan kemampuan dalam bahasa pertama mereka. Pemerolehan bahasa
merupakan proses bawah sadar. Para pemeroleh bahasa tidak selalu sadar akan
kenyataan bahwa mereka memakai bahasa untuk berkomunikasi.
Kedua, untuk mengembangkan
kompetensi dalam bahasa kedua dapat dilakukan dengan belajar bahasa. Anak-anak
memperoleh bahasa, sedangkan orang dewasa hanya dapat mempelajarinya. Akan
tetapi ada hipotesis pemerolehan belajar yang menuntut bahwa orang-orang dewasa
juga memperoleh bahasa, kemampuan memungut bahasa bahasa tidaklah hilang pada
masa puber. Orang-orang dewasa juga dapat memanfaatkan sarana pemerolehan
bahasa alamiah yang sama seperti yang dipakai anak-anak. Pemerolehan merupakan
suatu proses yang amat kuat pada orang dewasa.
- Pemerolehan dan pembelajaran dapat dibedakan dalam lima hal, yaitu:
1. Pemerolehan memiliki ciri-ciri yang
sama dengan pemerolehan bahasa pertama, seorang anak penutur asli, sedangkan
belajar bahasa adalah pengetahuan secara formal,
2. Pemerolehan secara bawah
sadar, sedangkan pembelajaran sadar dan disengaja.
3. Pemerolehan bahasa kedua seperti
memungut bahasa kedua, sedangkan pembelajaran mengetahui bahasa kedua,
4. Pemerolehan mendapat pengetahuan
secara implisit, sedangkan pembelajaran mendapat pengetahuan secara eksplisit,
5. Pemerolehan tidak membantu kemampuan
anak, sedangkan pembelajaran menolong sekali.
- Cara pemerolehan bahasa kedua dapat dibagi dua cara, yaitu pemerolehan bahasa kedua secara terpimpin dan pemerolehan bahasa kedua secara alamiah.
- Pemerolehan bahasa kedua secara terpimpin adalah pemerolehan bahasa kedua yang diajarkan kepada pelajar dengan menyajikan materi yang sudah dipahami. Materi bergantung pada kriteria yang ditentukan oleh guru. Strategi-strategi yang dipakai oleh seorang guru sesuai dengan apa yang dianggap paling cocok bagi siswanya.
- Pemerolehan bahasa kedua secara alamiah adalah pemerolehan bahasa kedua/asing yang terjadi dalam komunikasi sehari-hari, bebas dari pengajaran atau pimpinan,guru. Tidak ada keseragaman cara. Setiap individu memperoleh bahasa kedua dengan caranya sendiri-sendiri. Interaksi menuntut komunikasi bahasa dan mendorong pemerolehan bahasa. Dua ciri penting dari pemerolehan bahasa kedua secara alamiah atau interaksi spontan ialah terjadi dalam komunikasi sehari-hari, dan bebas dari pimpinan sistematis yang sengaja.
- Pemerolehan Bahasa Kedua
1. Bagi sebagian besar anak Indonesia,
bahasa Indonesia bukan bahasa pertama mereka, melainkan bahasa kedua, atau
ketiga.
2. Pengenalan/penguasaan bahasa
Indonesia dapat terjadi melalui proses pemerolehan atau proses belajar.
3. Proses pemerolehan terjadi secara
alamiah, tanpa sadar, melalui interaksi tak formal dengan orang tua dan/atau
teman sebaya, tanpa bimbingan.
4. Proses belajar terjadi secara
formal, disengaja, melalui interaksi edukatif, ada bimbingan, dan dilakukan
dengan sadar.
5. Bahasa Pertama (B1) dan Bahasa Kedua
(B2) didapat bersama-sama atau dalam waktu berbeda. Jika didapat dalam waktu
yang berbeda, Bahasa Kedua (B2) didapat pada usia prasekolah atau pada usia
Sekolah Dasar.
6. Bahasa Kedua (B2) dapat diperoleh di
lingkungan Bahasa Pertama (B1) dan Bahasa Kedua (B2). Jika diperoleh di
lingkungan Bahasa Pertama, Bahasa Kedua dipelajari melalui proses belajar
formal; jika didapat di lingkungan Bahasa Kedua, Bahasa Kedua didapat melalui
interaksi tidak formal, melalui keluarga, atau anggota masya-rakat Bahasa
Kedua.
- Prinsip dan Metode Pengajaran B2
1. Belajar Bahasa Kedua (B2) adalah
belajar dalam konteks pemakaian bahasa yang sebenarnya.
2. Belajar Bahasa Kedua (B2) adalah
belajar menggunakan Bahasa Kedua (B2) tersebut dalam berbagai fungsinya.
3. Siswa harus dilatih menggunakan
bahasa secara tepat.
4. Pengajaran bahasa perlu
memperhatikan kebutuhan afektif dan kognitif pelajaran.
5. Pemahaman Budaya Bahasa Kedua (B2)
perlu ditumbuhkan dalam pengajaran Bahasa Kedua (B2).
6. Metode tata bahasa terjemahan tidak
membuat siswa terampil menggunakan bahasa, tetapi tahu tentang bahasa.
7. Metode langsung diterapkan melalui
kegiatan dialog, tubian pola, dan penerapan. Tubian yang dilakukan mencakupi tubian
pengulangan dan tubian respons.
8. Tujuan pengajaran bahasa komunikatif
ialah agar siswa dapat berkomunikasi dalam permaian bahasa yang sebenarnya
dalam bentuk bahasa yang diterima. Dalam pelaksanaannya, jika diperlukan Bahasa
Kesatu (B1) dan penerjemahkan dapat digunakan. Tata bahasa diberikan.
9. Pengajaran dengan respons fisik
total menekankan penguasaan kemampuan menyimak pada awal pelajaran. Pemahaman
dan retensi paling baik dipelajari melalui gerakan fisik sebagai respons
terhadap perintah guru. Kegiatan berbicara baru dilakukan bila siswa sudah
benar-benar siap. Proses siswa dilaksanakan melalui langkah = latihan
mendengarkan, produksi dan membaca serta menulis.
10. Pendekatan alamiah dikembangkan
berdasarkan keyakinan bahwa penguasaan bahasa lebih banyak terjadi melalui
proses pemerolehan secara alamiah yang digabungkan dengan teori monitor dan
Krashen. Pendekatan ini dalam penerapannya sangat mementingkan pemerolehan
kosakata.
- Tahap Pemerolehan Bahasa
a.
Kurang dari 1 tahun
• Belum dapat mengucapkan kata-kata,
• Belum menggunakan bahasa dalam
arti yang sebenarnya
• Dapat membedakan beberapa ucapan
orang dewasa. (Eimas, lewat Gleason, 1985: 2, dalam Zuchdi, 1996: 4)
b. 1 tahun
• Mulai mengoceh
• Bermain dengan bunyi (bermain
dengan jari-jari tangan dan kakinya)
• Perkembangan pada tahap ini disebut pralinguistik. (Gleason, 1985: 2)
• Ketika bayi dapat mengucapkan beberapa kata, mereka memiliki ciri-ciri
• Perkembangan pada tahap ini disebut pralinguistik. (Gleason, 1985: 2)
• Ketika bayi dapat mengucapkan beberapa kata, mereka memiliki ciri-ciri
perkembangan yang universal.
- Bentuk ucapan hanya satu kata, sederhana, mudah diucapkan dan memiliki arti konkrit (nama benda, kejadian atau orang-orang di sekitar anak).
- Mulai pengenalan semantik (pengenalan makna).
c. 2 tahun
Mengetahui
kurang lebih memiliki 50 kata.
·
Kebanyakan mulai mencapai kombinasi dua kata yang
dikombinasikan dalam ucapan-ucapan pendek tanpa kata penunjuk, kata depan atau
bentuk lain yang seharusnya digunakan.
·
Mulai mengenal berbagai makna kata tetapi tidak dapat
menggunakan bentuk bahasa yang menunjukkan jumlah, jenis kelamin, dan waktu
terjadinya peristiwa.
·
Mulai dapat membuat kalimat-kalimat pendek.
d. Taman Kanak-kanak
·
Memiliki dan memahami sejumlah besar kosa kata,
·
Mampu membuat pertanyaan-pertanyaan, kalimat majemuk dan
berbagai bentuk kalimat
·
Dapat berbicara dengan sopan dengan orang tua dan guru.
e. Sekolah Dasar
•
Peningkatan perkembangan bahasa, dari bahasa lisan ke bahasa
tulis,
•
Peningkatan perkembangan penggunaan bahasa.
f. Remaja
Penggunaan bahasa yang khas sebagai bagian dari terbentuknya
identitas diri (merupakan usia yang sensitif untuk belajar berbahasa) (Gleason,
1985: 6)
g. Dewasa
Terdapat perbedaan-perbedaan yang besarØ antara individu
yang satu dengan yang lainnya dalam perkembangan bahasa (sesuai dengan tingkat
pendidikan, peranan dalam masyarakat, dan jenis pekerjaan.
B.
Perbedaan Bahasa Anak Laki-Laki dan
Perempuan
a.
Anak Laki-laki
Ekspresi
emosional cenderung menggunakan kata-kata kasar misalnya umpatan: sialan,
bedebah, dsb
- Cenderung menggunakan bahasa secara langsung dan bersifat memberitahu, karena laki-laki menganggap perannya dalam percakapan adalah pemberi informasi.
- Kurang banyak berbicara, tetapi lebih banyak berbuat. Pada perkembangan ke tingkat dewasa seorang ayah lebih banyak menggunakan perintah ketika berbicara dengan anak laki-laki, dan lebih banyak menginterupsi pembicaraan anak perempuannya.
b. Anak perempuan
- Menghindari bahasa yang berisi umpatan dalam percakapan dan cenderung menggunakan kata-kata yang lebih sopan: silakan, terima kasih, selamat jalan, dsb.
- Ekspresi emosional yang digunakan lebih halus, misalnya: Oh sayangku, Ya Allah, dsb.
- Cenderung menggunakan bahasa tidak langsung dalam meminta persetujuan dan lebih banyak mendengarkan. Perannya dalam percakapan adalah sebagai fasilitator.
- Lebih banyak berbicara secara berpasangan dengan teman akrabnya dan saling menceritakan rahasianya
- Pembelajaran bahasa kedua
1. Strategi Pembelajaran
Strategi
Pembelajaran adalah apa-apa yang dipelajari atau apa-apa yang ada dalam
pelajaran. Macam-Macam Strategi Pembelajaran :
a.
Strategi Metakognitif
- Strategi yang melibatkan perencanaan belajar
- Pemikiran proses pemikiran yang sedang berlangsung
- Pemantauan produksi dan pemahaman
- Evaluasi setelah kegiatan selesai
b.
Strategi Kognitif
Yaitu strategi yang melibatkan
tugas-tugas kognitif atau terbatas pada tugas-tugas pembelajaran secara
spesifik atau melibatkan materi pelajaran. Macam-macam strategi kognitif
sebagai berikut:
- Revetisi
- Melacak ulang
- Berlaku penerjemahan
- Mengelompokkan ulang
- Mencatat/menulis gagasan utama baik secara lisan mauoun tulisan
- Kata kunci
- Konstektualisasi
- Elaborasi
- Transfer
c.
Strategi Sosioafektif
Yaitu
strategi yang terkait dengan interaksi sosial.
d. Strategi Komunikasi
Strategi Komunikasi adalah bagaimana
secara produktif kita menyampaikan makna kepada orang lain. Macam-macam strategi
komunikasi yaitu:
e. Strategi Pengindaraan
Yaitu terkait dengan sintaksis /
leksikal semantik.
b. Strategi Konvensatoris
·
Aprokasimasi : menggunakan istilah alternatif untuk
mengungkapkan.
·
Menerjemahkan Harfiah
·
Alihkode: (mengalihkan bahasa ke-2 ke bahasa pertama)
·
Sinyal non linguistik (gerak tubuh) ekspresi wajah.
·
Meminta tolong / meminta bantuan terhadap lawan bicara kita
(mengulang
·
kembali pertanyaan)
·
Mengulur waktu : memberi jeda waktu untuk berfikir yang akan
disampaikan
2. Jenis-Jenis Strategi Pembelajaran
(SP)
a. Berdasarkan komponen dalam
program pengajaran.
1)
Strategi pembelajaran berpusat pada guru (teacher ooriented)
– Peserta didik : sebagai objek pasif
– Guru : sebagi subjek aktif (dominan)
– Macam-macam tekniknya:
a) Teknik ceramah
b) Teknik team teaching
c) Teknik sumbang saran
d) Teknik demonstrasi
2) Strategi pembelajaran berpusat pada siswa (student
oriented)
–
Siswa : sebagai subjek aktif dominan
–
Macam-macam tekniknya:
a) Teknik inquiri
b) Teknik diskusi
c) Teknik kerja kelompok
d) Teknik sosiodrama
e) Teknik penyajian kasus / masalah
3) Strategi pembelajaran berpusat pada materi (material
center strategis)
– Teknik-tekniknya :
a) Teknik tutorial
b) Teknik eksperimen
c) Teknik demonstrasi
d) Teknik kerja lapangan
b. Berdasarkan kegiatan pengolahan materi / pesan
1) Strategi pembelajaran Ekspositoris
Yaitu
Strategi yang berbentuk penguraian (bahan tertulis/penjelasan lisan). Dalam
strategi ini gru lebih dominan atau aktif. Teknik-teknik Strategi pembelajaran
ekspositoris yaitu: (a) teknik simulasi, (b) teknik demonstrasi, dan (c) teknik
ceramah.
2) Strategi pembelajaran Heuristik
Yaitu siswa
diberi kesempatan untuk lebih dominan dalam pembelajaran dan mencari sendiri
informasi yang sedang dipelajari. Jadi dalam strategi ini siswa dituntut lebih
dominan. Teknik-teknik dalam strategi pembelajaran Heuristik yaitu: (a)Teknik
Problem Solving, (b) Teknik Inquiri, (c) Teknik Penemuan, dan (d) Teknik
Eksperimen
c. Berdasarkan cara pengolahan atau memproses pesan / materi
1) Strategi Pembelajaran Deduksi
Yaitu strategi
dari umum – khusus, atau dari abstrak ke nyata, atau dari premis ke pemikiran
yang logis. Teknik dari strategi ini adalah teknik ceramah. Ada tiga langkah
dalam strategi pembelajaran deduksi yaitu:
- Pengajar memilih pengetahuan yang akan diajarkan (memilih materi)
- Pengajar memberi materi
- Pengajar memberi contoh-contoh dan membuktikannya kepada peserta didik.
2) Strategi Pembelajaran Induksi
Yaitu
strategi dari khusus ke umum, atau dari individual ke generalisasi. Jadi
strategi ini merupakan kebalikan dari strategi pembelajaran deduksi di atas.
Ada 4 langkah dalam strategi ini yaitu:
- Pengajar memilih materi
- Pengajar menyajikan contoh-contoh yang spesifik untuk dijadikan bahan penyusun hipotesis
- Bukti-bukti disajikan dgn maksud membenarkan / menyangkal
- Menyimpulkan bukti
d. Berdasarkan cara memproses penemuan
1) Strategi Pembelajaran Ekspositoris.
2) Strategi Pembelajaran Discovery.
Fakultas
keguruan ilmu pendidikan
dan sastra Indonesia Universitas serambi
mekkah
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar